Lazada Philippines

Kursus Bahasa Inggris Kilat

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Mei 2011

Belati Dan Hati


Aku mendatangimu dengan dua malaikat di kedua sisiku. Malaikat di sebelah kananku, semenjak hari kelahiranku, hanya mengharapkan aku melakukan kebaikan, lalu menuliskan semua kebaikan itu di dalam jutaan lembar kulit kambing berbungkus kain sutra putih yang selalu didekapnya, dan kulit-kulit itulah yang nanti akan ia bangga-banggakan kepada penciptanya.

Malaikat di sebelah kiriku, hingga hari kematianku, tidak pernah mengharapkan aku melakukan kejahatan, meski yang ia lakukan hanya menuliskan kejahatan-kejahatan yang kulakukan di dalam jutaan lembar kulit kambing berbungkus kain lusuh hitam yang selalu didekapnya, dan kulit-kulit itulah nanti yang akan ia perlihatkan kepada penciptanya.

Bajuku tebal berwarna lumut namun terlalu banyak lumut yang menutupinya, panjang menyentuh bumi dan menutupi jari-jari tanganku. Rambutku panjang melebihi punggung dan tidak pernah kucuci dengan batang-batang padi kering maka sering membuat kepalaku gatal-gatal dan berkutu dan sudah puluhan tahun kusengajakan berpilin-pilin, meski aku membenci Daun Kenikmatan karena akan membuatku bodoh dan bicaraku bagai orang dungu. Kuku di tangan kiri dan kananku panjang-panjang sehingga mirip setan bermata besar, bergigi taring, berambut putih panjang sekaki, bongkok dan berpunuk yang muncul dari balik asap ledakan, kata orang ledakan sekantung kecil pasir warna abu-abu, padahal tidak mungkin sekantung kecil pasir warna abu-abu meledak sedahsyat itu.

Tidak ada alas kaki, tidak ada mahkota berlian, tidak ada kereta kuda.

2

Kedua telapak tanganku terbuka, menampung hatiku yang merah di tangan kanan namun tidak berlumur darah karena telah kubersihkan karena kutahu akan kuperlihatkan kepadamu, lalu belati mengkilat di tangan kiri, yang belum lama kupakai untuk merobek dadaku dan sudah kubersihkan karena kutahu akan kuperlihatkan kepadamu.

Inilah kabar yang seharusnya dilihat dan didengar semua orang. Sebuah berita, bukan cerita, karena ada beda yang nyata antara aksara kedua dengan aksara ketiga, meski hanya satu, karena sebuah berita seharusnya berguna, begitu pula cerita. Bukan tentang jubah yang dikenakan si Anak Pertama. Bukan tentang makanan yang masuk ke perut si Anak Kedua. Bukan tentang permata yang mengelilingi lengan si Anak Ketiga. Sampah. Bukan tentang si Mata Besar yang menawarkan cincin kepada si Mata Kecil. Bukan tentang si Kuping Besar yang memberi cincin kepada si Kuping Kecil. Bukan tentang si Hidung Besar yang mengambil cincin dari jari si Hidung Kecil. Sampah. Sampah. Bukan tentang si Gemuk yang tubuhnya kurus tiba-tiba. Bukan tentang si Kurus yang tubuhnya menggelembung tiba-tiba. Bukan tentang si Hidup yang mati tiba-tiba. Sampah. Sampah. Sampah.

Sering kepalaku berputar-putar dan mataku menjadi gelap gulita bila memikirkan anak-anak perempuan setiap hari, dari pagi hingga malam, hingga kembali pagi, melahap sampah-sampah di dalam rumah-rumah mereka, sampah beku dan sampah bergerak, begitu pula perempuan-perempuan berketurunan puluhan yang hanya bergerak dari kasur ke sumur ke dapur, dari sumur ke dapur ke kasur, dari dapur ke kasur ke sumur, dari sumur ke kasur ke dapur.

3

Sang Kejahatan dan Sang Kebaikan sering bertengkar di dalam kepalaku. Suaranya membuatku gundah dan berputar-putar tiga belas putaran. Mereka bersuara sama memekakkan, bahkan selalu memukul-mukul tempurung kepalaku dengan tombak besi merah dan tongkat kayu putih di tangan kanan mereka hingga membuat kepalaku semakin berputar-putar dua puluh enam putaran.

Bila Sang Kejahatan memenangkan pertengkaran karena suaranya lebih memekakkan, maka ia akan bersorak- sorai sambil menghentak-hentakkan tombak besi merah ke tempurung kepalaku, dan Sang Kebaikan akan menangis tersedu-sedu sambil memukul-mukulkan tongkat kayu putih di tangan kanannya, juga ke tempurung kepalaku.

Bila Sang Kejahatan kalah dalam pertengkaran karena suaranya kurang memekakkan, maka ia akan menangis tersedu-sedu sambil memukul-mukulkan tombak besi merah ke tempurung kepalaku, dan Sang Kebaikan akan bersorak-sorai sambil menghentak-hentakkan tongkat kayu putih di tangan kanannya, juga ke tempurung kepalaku.

Maka aku sering diam, dan berpikir lebih baik tidak berkeinginan mempunyai keinginan.

4

Hati dan belati bukan pilihan yang harus kau pilih. Engkau bukan sedang ikut berjudi dalam lingkaran empat-lima orang, atau permainan mengadu nasib yang dilihat 155 juta orang semalam suntuk di seluruh negeri.

Hati dan belati, hari ini, bukan perumpamaan yang diucapkan para lelaki yang sepanjang hari menyembunyikan taring dan tanduknya dengan wajah laksana Sang Kebaikan dan mengenakan mahkota berlian di atas kereta kuda mewah berpahat lambang-lambang kerajaan.

Hati kuberikan dengan kerelaan, karena aku ingin engkau menyimpannya di dadamu, sebelum aku merobek dadamu dan mengambil hatimu dan menyimpannya di dadaku, maka kita tidak perlu mempertarungkan kata-kata tentang isinya sewaktu-waktu hingga berhari-hari dan membuat kita bagai orang tanpa kepala.

Belati kubawakan bukan untuk mengancammu, melukaimu, bahkan membunuhmu. Aku hanya ingin melindungimu dari iblis-iblis bertaring dan bertanduk dan berbulu dan berekor dan berlidah cabang tiga belas yang akan mencakari tubuhmu dari kiri dan kanan, dari depan dan belakang, dan dari pencoleng-pencoleng yang akan merobek dadamu dan mengambil hatiku yang disangkanya hatimu dan menyimpannya di dada mereka, padahal seharusnya mereka tahu ruang di dadamu hanya cukup untuk hatiku dan ruang di dadaku hanya cukup untuk hatimu, karena hati kita sama besar, sungguh-sungguh sama, maka itulah yang membuat kita bisa hidup selamanya bila kita telah merobek dada dan menukarnya. Tidak mati salah satunya hanya lebih dahulu beberapa helaan, karena sudah pasti disusul kematian berikutnya.

Kematianku, atau kematianmu.

5

Terimalah hati dan belati yang kubawa, karena inilah harta yang kumiliki. Semata. Aku tidak akan membeli tubuhmu dengan sebongkah besar berlian atau sebuah istana berpintu seribu menghadap laut, karena aku tidak memilikinya dan aku bukan lelaki yang akan menyimpan perempuan-perempuan mereka di dalam kamar-kamar rahasia dan menyetubuhinya siang dan malam dengan kerakusan.

Bila sudah kurobek dadamu dan mengambil hatimu dan menyimpannya di dadaku, dan hatiku yang kubawa di tangan kananku kuletakkan di dadamu, maka akan kuhadiahi engkau dengan bunga-bunga setiap pagi dan malam.

Pagi ketika engkau terbangun dari tidur dengan rambutmu yang panjang dan berantakan tetapi wajahmu tetap indah, padahal pernah kudengar seorang perempuan tua berkata, ”Seorang perempuan nyata indahnya ketika ia terbangun dari tidur pagi harinya.”

Malam ketika engkau akan terlelap dalam mimpi-mimpi yang kuharapkan indah, dengan rambutmu yang tersisir dan wangi bunga-bunga yang akan membuat wajahmu semata-mata indah dan memabukkanku, padahal pernah kudengar seorang lelaki tua berkata, ”Keindahan perempuan untuk di mata dan di badan.”

Akan kuberikan engkau ciuman di kening setiap malam dan pagi hari sebagai rasa bungah cintaku kepadamu. Bukan lumatan di bibir atau buah dadamu, karena aku mencintai hadirmu, bukan semata tubuhmu, maka aku tidak akan memperkosamu sejak sebelum tengah malam hingga ayam jantan berkokok bersama keluarnya matahari.

Malam ketika engkau akan terlelap dalam mimpi-mimpi yang kuharapkan indah, dengan rambutmu yang tersisir dan wangi bunga-bunga yang akan membuat wajahmu semata-mata indah dan memabukkanku. Pagi ketika engkau terbangun dari tidur dengan rambutmu yang panjang dan berantakan tetapi wajahmu tetap indah. Semata-mata.

Akan kuganti baju tebal berwarna lumut namun terlalu banyak lumut yang menutupinya, panjang menyentuh bumi dan menutupi jari-jari tanganku, dengan jubah berwarna merah bersulam naga-naga dari benang emas, meski tetap panjang menyentuh bumi dan menutupi jari-jari tanganku.

Akan kuhabisi rambut panjang melebihi punggung yang tidak pernah kucuci dengan batang-batang padi kering dan sering membuat kepalaku gatal-gatal dan berkutu dan sudah puluhan tahun kusengajakan berpilin-pilin, meski aku membenci Daun Kenikmatan karena akan membuatku bodoh dan bicaraku bagai orang dungu. Maka rupaku akan laksana Penguasa Negeri Pasir, meski aku membenci manusia bodoh yang menganggap dirinya Sang Maha Segala dan aku selalu tertawa bila mengingatnya tenggelam bersama pasukan berkudanya di laut luas saat mengejar lelaki yang dijadikannya sebagai musuh besar, yang pergi bersama pengikut-pengikutnya, padahal saat kanak-kanak lelaki itu dijadikannya sebagai saudara sedarah karena mereka datang dari dua rahim.

Akan kupotong kuku di tangan kiri dan kanan yang panjang-panjang sehingga aku mirip setan bermata besar, bergigi taring, berambut putih panjang sekaki, bongkok dan berpunuk yang muncul dari balik asap ledakan, kata orang ledakan sekantung kecil pasir warna abu-abu, padahal tidak mungkin sekantung kecil pasir warna abu-abu meledak sedahsyat itu. Maka tanganku akan begitu indah hingga tidak lagi membuatku laksana setan yang datang dari lubang-lubang besar di kaki gunung.

Terompah dari kulit domba dengan lapis sutra dan butir-butir emas akan membungkus kedua kakiku. Mahkota dari emas dengan butir-butir berlian dan permata akan melindungi kepalaku. Sebuah kereta dengan kuda-kuda yang kuat dan bersih akan mengikutiku kemana angin.

6

Namun aku tidak akan memaksamu. Bila hari ini engkau mengutuk sebuah ketiba-tibaan, maka aku akan menunggumu hingga beberapa hari berpikir meski kerut-kerut membuat keningmu hilang indahnya, dan hari ketujuh aku akan kembali mendatangi dengan sebuah pertanyaan berhari lalu: ”Bersediakah engkau menerima hati dan belati yang kubawakan untukmu?”

Bila hari itu engkau belum pula memiliki kata, maka aku akan mendatangimu tujuh hari kemudian, lalu pada hari ke-21, 28, 35, 42, 49, 56, 63, 70, 77, 84, 91, 98, 105, 112, 119, 126, 133, 140, 147, 154, 161, 168, 175, 182, 196, 203, 210, 217, 224, 231, 238, 245, 252, 259, 266, 273, 280, 287, 294, 301, 308, 315, 322, 329, 336, 343, 350, 357, 364.

Lalu pada hari ke-365 aku akan berhenti, karena aku tahu, engkau tidak berkenan.

Tentu tubuhku terlalu bau dan kotor, meski wajahku tidaklah buruk, maka engkau menampik diriku. Tentu aku membawa persembahan yang tidak akan membawamu ke atas menara emas, maka engkau tapi-kan diriku. Tentu engkau mengharapkan seorang lelaki akan membeli tubuhmu dengan sebongkah besar berlian atau sebuah istana berpintu seribu menghadap laut, meski engkau tahu akan disimpannya bersama perempuan-perempuan lain di dalam kamar-kamar rahasia dan engkau akan disetubuhinya siang dan malam dengan kerakusan semata. Dengan kerakusan. Semata.

Namun aku bahagia karena hari ini suara Sang Kejahatan kalah memekakkan. Ia menangis tersedu-sedu sambil memukul-mukulkan tombak besi merah ke tempurung kepalaku, dan Sang Kebaikan akan bersorak-sorai sambil menghentak-hentakkan tongkat kayu putih di tangan kanannya, juga ke tempurung kepalaku.

Meski membuatku semakin pusing tiga belas putaran.

Kubawa sakit di kepala dan kakiku yang retak-retak kepanasan, mengelilingi tanah-tanah dan pasir-pasir dan debu-debu dengan kedua telapak tanganku yang terbuka, mencari tempat menghadap laut untuk menanam hatiku yang merah dan tidak lagi berlumur darah di tangan kanan, dan belati mengkilat di tangan kiri.

Aku akan menunggumu di gerbang ruh-ruh abadi.

Pondok Pinang, 2302
READ MORE - Belati Dan Hati

Kain Perca Ibu


Ada kebiasaan Ibu yang telah dilakukannya sejak menikah dengan Bapak. Ibu selalu menyimpan pakaian-pakaian yang memiliki arti begitu mendalam baginya.

Salah satunya adalah kebaya pengantin lengkap dengan kain batik pesisiran, rapi ia simpan di dalam koper kecil usang di bawah ranjang. Setelah ijab kabul sekitar lima puluhan tahun silam, kebaya brokat putih itu dikenakan untuk kedua kalinya ketika Mbak Ratih, kakak sulung kami, bersanding dengan lelaki pilihan hatinya di pelaminan.

Sepanjang resepsi perkawinan Mbak Ratih, kami adik-adik perempuannya menatap kagum sekaligus iri. Membayangkan betapa sakralnya riwayat kebaya yang saat itu melekat di tubuh Mbak Ratih. Kebaya itu dijahitkan sendiri oleh mendiang ibunya Ibu di tengah keadaan negeri yang sedang porak-poranda.

Sekitar pertengahan tahun 1950-an Indonesia dalam keadaan darurat perang karena banyaknya pemberontakan di berbagai daerah di tanah air. Militer memegang posisi yang menonjol dalam mengatur kehidupan masyarakat. Kemiskinan terasa sampai ke pelosok-pelosok. Ibu dan Bapak yang tinggal di pinggiran kota kecil Magelang dinikahkan secara sederhana di tengah keadaan ekonomi yang kacau-balau. Banyak rakyat terpaksa makan bulgur, semacam campuran ketan dan beras, yang menurut informasi diperoleh dari sisa makanan ternak kiriman Amerika untuk membantu rakyat Indonesia.

Karena tidak punya uang untuk membeli kain brokat yang layak, mendiang Eyang Putri terpaksa mengeluarkan gorden yang biasanya hanya dipasang menghiasi ruang tamu untuk acara istimewa setahun sekali seperti kaulan dan kendurian. Gorden yang terbuat dari kain semacam brokat itu pun digunting Eyang Putri dan dijahit menjadi kebaya pengantin. Seusai menikah, Bapak yang tentara itu harus buru-buru berangkat ke medan perang melawan pemberontak.

Sejarahnyalah yang membuat kebaya itu begitu terasa mahal saat dikenakan oleh Mbak Ratih yang menjadi pengantin. Entah bagaimana cara Ibu menyimpannya. Kebaya itu masih tampak sekemilau dulu. Ibu menisik dengan sangat hati-hati bagian-bagian yang mulai renggang dan menambahkan manik-manik agar terlihat lebih indah dan modern.

Mewariskan pakaian lama itu merupakan pertanda cinta Ibu kepada keturunannya. Bagi kami pun sudah menjadi semacam tradisi yang ditunggu-tunggu. Ibu hanya melakukannya untuk momen-momen penting bagi keluarga kami. Sebelum memberikannya, biasanya Ibu mengumpulkan semua anak perempuannya di ruang tengah, kami duduk bersila di lantai, Ibu duduk di kursi menceritakan terlebih dulu riwayat pakaian itu. Kami seperti terseret pada kenangan masa lalu yang mengharu biru. Lalu kami semua berharap-harap cemas menantikan siapakah yang menjadi orang yang beruntung pada hari itu.

Ketika putri pertama Mbak Ratih lahir, yang juga menjadi cucu pertama Ibu, Ibu melungsurkan selimut dan baju bayi yang dulu membungkus tubuh mungil Mbak Ratih ketika pertama kali menghirup udara bebas di barak militer karena saat itu negara sedang sibuk menumpas pemberontakan. Bayangkan. Betapa Ibu tidak pernah melewatkan setiap peristiwa penting dalam kehidupannya.

Jika bukan kami yang terpilih, dan tidak beruntung pada hari itu, kami akan masuk ke kamar masing-masing dengan kepala menunduk, menyimpan tangis kami diam-diam. Karena itu artinya kami belum dianggap istimewa oleh Ibu.

***

Tradisi itu berlanjut hingga kami, anak-anak perempuan Ibu, pindah berpencar ke kota-kota lain, menikah dan punya anak. Aku merantau ke Jakarta, bekerja dan menikah dengan Mas Harris. Mbak Ratih pindah ke Bandung mengikuti suaminya. Mbak Suti menetap di Semarang dengan keluarganya. Laras, adik bungsu kami, memilih tinggal di Bogor dengan suami dan anak-anaknya. Hanya Ibu dan Bapak yang berkeras tetap tinggal di Magelang, meskipun Bapak sudah pensiun dari ketentaraan.

Setiap Lebaran kami berkumpul di sana, setelah acara sungkem dan makan ketupat opor buatan Ibu, kami akan berkumpul di ruang tengah. Seperti dulu. Hanya kali ini dengan anggota yang lebih banyak. Karena ditambah dengan cucu-cucu Ibu yang sudah berjumlah delapan orang. Dua orang cucu dari Mbak Ratih, tiga dari Mbak Suti, satu dari aku, dua dari Laras.

Perasaan kami masih seperti dulu, berdebar-debar cemas, menunggu siapakah yang dipilih Ibu pada Lebaran tahun ini. Sedangkan bagi anak-anak kami, cerita Ibu seperti dongeng sejarah yang mengagumkan. Mungkin di benak mereka seperti melihat film dokumenter dengan layar hidup.

Siapa yang beruntung mendapatkan lungsuran pakaian merasa seperti menjadi pemenang lotre miliaran rupiah. Dan sepanjang tahun, cerita itu akan didengung-dengungkan terus di antara keluarga kami. Menjadi topik hangat sampai tiba Lebaran berikutnya.

***

Yang paling berkesan bagiku adalah Lebaran lima tahun yang lalu. Ibu menyerahkan kebaya Kartini berukuran mungil dengan sulaman emas yang cantik sekali. Menurut Ibu, itu adalah kebaya yang kupakai saat perayaan hari Kartini ketika aku masih kelas satu sekolah dasar. Ketika itu aku diminta oleh guru menjadi Kartini dalam sandiwara yang dipentaskan di sekolah, lalu diajak berkeliling kecamatan bersama pawai sekolah.

Kebaya itu yang kemudian dikenakan oleh putriku saat pawai yang sama tiga puluh tahun kemudian. Mataku berkaca-kaca melihat putriku yang mungil tampak begitu jelita dalam balutan kebaya beludru. Ibu bercerita, beludru itu diperolehnya dari tetangganya yang juru rias pengantin. Ibu menjahit sendiri dan menambahkan sulaman emas yang memanjang dari leher hingga ke ujung bawah kebaya. Kini aku mengerti betapa besarnya cinta Ibu kepadaku.

Menyadari betapa sehelai pakaian bisa merekam begitu banyak peristiwa penting dalam hidup kami, maka kami pun mengikuti jejak Ibu menyimpan semua pakaian yang kami anggap memiliki nilai sejarah. Kelak saat anak-anak kami dewasa nanti, kami akan menyerahkannya satu per satu kepada mereka dengan cerita yang membuat harganya tidak bisa diukur dengan mata uang mana pun.

***

Tradisi itu terhenti ketika suatu pagi Ibu menelepon kami sambil terisak-isak. Hanya menangis. Tidak ada kata-kata yang tercetus dari mulutnya yang penuh air mata. Kami tahu apa yang terjadi, dan segera berangkat ke Magelang dengan pesawat paling pagi.

Kami menguburkan jasad Bapak keesokan harinya di pemakaman umum dekat rumah agar Ibu mudah kapan pun ingin nyekar. Karena kami semua bekerja, kami sepakat untuk bergantian menjaga Ibu selama masa berkabungnya. Aku mengambil cuti untuk bisa menemani Ibu melewati kesedihannya ditinggal Bapak. Tapi rupanya kehadiranku seperti tidak nyata di mata Ibu. Ibu yang dulu begitu periang dan senang mengobrol sekarang menjadi pendiam dan sering duduk melamun di beranda. Di sana biasanya Ibu menemani Bapak melewati waktu senja, minum kopi tubruk dan pisang goreng, sambil bernostalgia. Aku memahami kepedihan Ibu. Jadi aku biarkan saja Ibu dengan dunianya. Aku duduk menemaninya di sana. Sama-sama diam. Yang penting aku bisa memastikan bahwa Ibu tetap sehat dan tidak kekurangan suatu apa.

Setelah lewat berbulan-bulan, kami melihat kondisi Ibu mulai cukup tenang. Kami, anak-anak perempuan Ibu, berembuk untuk membujuk Ibu menjual rumah lalu pindah tinggal di rumah salah satu dari kami. Ibu boleh memilih ingin tinggal di Bandung, Semarang, Bogor, atau Jakarta. Mbak Ratih yang kami minta mewakili pergi ke Magelang untuk meluluhkan hati Ibu. Dari semua anak perempuannya, Mbak Ratih yang paling banyak mendapatkan lungsuran pakaian simpanan Ibu.

Mbak Ratih pulang tanpa membawa Ibu. Ibu berkeras tinggal sendiri di Magelang, dengan seorang pembantu. Hidup dengan segala kenangannya tentang Bapak.

***

Mbak Suti yang tinggal paling dekat dengan Ibu sering kali harus pulang-pergi Semarang-Magelang untuk mengawasi keadaan Ibu. Kami merasa kasihan kepada Mbak Suti karena selain bekerja, ia juga mengurus anak-anaknya sendiri.

Supaya Ibu tidak terlalu larut dengan kesedihan, akhirnya kami berkompromi bergantian membelikan tiket pesawat untuk Ibu. Dengan begitu Ibu bisa bergantian menginap di rumah kami, mengunjungi anak-anak dan cucunya secara rutin. Mungkin dengan berada di antara kami, hati Ibu akan sedikit terhibur. Ibu bersedia, tapi tidak bersedia naik pesawat. Terpaksa kami membelikannya karcis kereta api, meskipun khawatir dengan keadaan fisiknya yang mulai renta.

Rupanya Ibu bahagia naik kereta api. Ibu bisa mengingat kembali masa-masa pacaran dan bulan madunya bersama almarhum Bapak, bertemu di peron, dan bepergian naik kereta api.

Sesibuk apa pun, aku sekeluarga selalu menyempatkan menjemput Ibu di stasiun. Aku, suamiku, dan putriku. Ibu memeluk kami erat-erat. Tampak bahagia bertemu kami. Meskipun aku melihat ada ruang kosong di matanya.

Ada yang hilang dalam setiap pertemuan kami. Ibu tidak pernah lagi melungsurkan pakaian-pakaian lamanya. Kami pun tidak berani mengungkitnya. Mungkin Ibu butuh waktu untuk pulih. Karena kini menceritakan kenangan berarti mengungkit lagi kesedihannya. Semua saat yang bernilai baginya tentu erat berkaitan dengan almarhum Bapak. Ibu melahirkan Mbak Ratih ketika Bapak harus bertugas menumpas pemberontakan. Ibu menamakanku Sri karena bidan bernama Sri yang dijemput Bapak subuh-subuh naik sepeda ontel untuk membantu persalinan Ibu melahirkanku. Dan, semua hal yang dulu terasa patriotik sekarang menjadi begitu pedih. Karena Bapak telah pergi.

***

Rupanya dalam setahun Ibu menemukan kembali dirinya. Lebaran tahun itu, ketika kami menjenguknya di Magelang, Ibu kembali kepada tradisi lamanya. Ibu mengumpulkan kami semua di ruang tengah dan mulai bercerita. Satu per satu peristiwa diceritakan dengan rinci oleh Ibu. Kami menyimak sungguh-sungguh. Di saat kami tengah hanyut dengan ceritanya, Ibu mengeluarkan sehelai kain lebar, membentangkannya di hadapan kami. Kami terbelalak melihat hamparan kain berisi potongan-potongan kain perca yang disambung dan dijahit menjadi bed cover.

Semua peristiwa yang baru saja diceritakannya itu tiba-tiba saja terobek-robek, menjadi potongan-potongan yang tidak bernilai, menjadi seonggok bed cover lebar.

”Kita ndak boleh termakan kenangan,” begitu kata Ibu, tersendat. ”Kita bisa mati merana.”

***

Sekarang setiap kali mengunjungi rumah anak-anaknya, Ibu selalu meminta kami mengeluarkan pakaian-pakaian lama yang masih kami simpan. Dengan berat hati kami memberikannya. Di hadapan kami juga, Ibu menggunting pakaian-pakaian itu menjadi potongan-potongan kain perca. Kami yang sejak kecil terbiasa mendengarkan betapa pakaian menyimpan nilai sejarah, jadi merasa seperti teriris-iris.

Pada kunjungan berikutnya, potongan-potongan kain perca itu telah dijahit Ibu, dan berubah menjadi bermacam-macam fungsi. Kemahiran Ibu menjahit rupanya tidak termakan usia. Ibu menyulapnya menjadi seprai, sarung bantal, taplak meja, yang menawan.

Kadang-kadang kami usil memesan Ibu untuk menjahitkan kain perca itu menjadi bermacam-macam hal remeh seperti serbet, keset, sampai tutup galon air mineral. Mbak Ratih malah pernah mengusulkan agar Ibu membuka bursa pengumpulan baju bekas di rumahnya, lalu menjual hasil jahitan kain percanya.

Kini kami terbiasa menertawakan sejarah. Di rumahku misalnya. Kami melihat kemeja kerja suamiku yang pertama kali dikenakan ketika naik jabatan menjadi alas piring makan kami. Atau baju batikku ketika menghadiri pementasan tari putriku menjadi tatakan gelas minum. Sungguh lucu rasanya. Kami tertawa-tawa mengingat semua peristiwa itu.

***

Suatu pagi pembantu di rumah Ibu meneleponku dengan suara panik. Ibu terjatuh di kamar mandi. Aku langsung berangkat naik pesawat dengan jadwal paling awal. Sesampainya di Magelang, semua anak perempuan Ibu sudah berkumpul. Aku melihat Ibu telah dibaringkan di ranjang di ruang tengah, tempat kami biasa berkumpul. Jasad Ibu diselubungi kain perca jahitannya sendiri.

Aku menghambur memeluk Ibu. Mencium punggung tangannya dengan penuh bakti untuk terakhir kali.

***

Seminggu setelah kepergian Ibu, baru kami memiliki kekuatan untuk membereskan barang-barang peninggalan Ibu. Kami melakukannya bersama-sama. Keempat anak perempuan Ibu. Kami melangkah masuk ke kamar Ibu dengan air mata tertahan.

Perlahan kami membuka lemari pakaian Ibu. Menemukan setumpuk pakaian Bapak di sudut sana. Utuh. Terlipat rapi. Tidak digunting Ibu menjadi potongan-potongan kain perca.

Jakarta, 7 Desember 2010
READ MORE - Kain Perca Ibu

Jumat, 13 Mei 2011

Bendera

Meski sedang liburan di rumah neneknya di Desa Bangunjiwa, Amir tetap bangun pagi. Sudah menjadi kebiasaan setiap hari. Kalau sedang tidak libur, Amir bangun pagi untuk bersiap ke sekolah. Amir selalu ingat nasehat Nenek, ”Orang yang rajin bangun pagi akan lebih mudah mendapat rezeki.”

Di mata Amir, Nenek adalah sosok perempuan tua yang bijak dan pintar. Amir tak tahu apa makna nasehat Nenek itu, tapi ia merasa ada benarnya. Bangun pagi membuatnya tidak terlambat tiba di sekolah dan tidak ketinggalan pelajaran. Selain itu, bangun pagi sungguh menyenangkan. Hanya pada waktu pagi kita bisa menikmati suasana alam yang paling nyaman. Cahaya matahari masih hangat, udara masih bersih, tumbuhan pun tampak segar, seolah semua lebih bugar setelah bangun tidur.

Pagi itu Amir mendapati Nenek duduk sendirian di beranda depan. Rupanya, Nenek sedang menyulam bendera. Amir menyapa dan bertanya, ”Selamat pagi, Nek. Benderanya kenapa?”

”Oh, cucuku yang ganteng sudah bangun!” sahut Nenek pura-pura kaget. ”Bendera ini sedikit robek karena sudah tua.”

”Kenapa tidak beli yang baru saja?”

Nenek tersenyum. ”Belum perlu,” katanya. ”Ini masih bisa diperbaiki. Tidak baik memboroskan uang. Lebih untung ditabung, siapa tahu akan ada kebutuhan yang lebih penting.”

”Bendera tidak penting ya, Nek?”

”O, penting sekali. Justru karena sangat penting, Nenek tidak akan membuangnya.” Nenek berhenti sejenak dan menatap cucunya. ”Kelak, ketika kamu dewasa, Nenek harap kamu juga menjadi penting seperti bendera ini.”

Amir mengamati bendera itu. Selembar sambungan kain merah dan putih. Tidak ada yang istimewa. ”Apa pentingnya, Nek? Apa bedanya dengan kain yang lain?”

Pertanyaan Amir membuat Nenek berhenti menyulam. Nenek diam. Pintar sekali anak ini, kata Nenek dalam hati. Nenek merasa perlu memberi jawaban terbaik untuk setiap pertanyaannya. Untunglah, Nenek teringat Eyang Coelho, seorang lelaki gaek yang cengeng dan sedikit manja, yang membayangkan dirinya bersimpuh dan tersedu di tepi Sungai Paedra. Eyang Coelho pernah menulis sebuah cerita tentang pensil. Nah, Nenek akan meniru cara tokoh perempuan tua dalam cerita itu ketika memberikan penjelasan kepada sang cucu.

”Penting atau tidak, tergantung bagaimana kita menilainya,” akhirnya Nenek berkata. Bendera ini, lanjutnya, bukan kain biasa. Ia punya beberapa keistimewaan yang membedakannya dengan kain-kain lain. Keistimewaan itu yang patut kita tiru.

Pertama: semula ini memang kain biasa. Tapi, setelah dipadukan dengan urutan dan ukuran seperti ini, ia berubah jadi bendera, menjadi lambang negara. Merah-putih ini lambang negara kita, Indonesia. Setiap negara punya bendera yang berbeda. Dan semua warga negara menghormati bendera negaranya. Tapi, jangan lupa, kain ini menjadi bendera bukan karena dirinya sendiri, melainkan ada manusia yang membuatnya. Begitu pula kita bisa menjadi apa saja, tapi jangan lupa ada kehendak Sang Mahapencipta.

Kedua: Pada waktu kain ini dijahit, tentu ia merasa sakit. Tapi sesudahnya, ia punya wujud baru yang indah dan bermakna. Kita, manusia, hendaknya begitu juga. Sabar dan tabah menghadapi sakit dan derita, karena daya tahan itulah yang membuat kita menjadi pribadi yang kuat, tidak mudah menyerah.

Ketiga: Bendera akan tampak perkasa jika ada tiang yang membuatnya menjulang, ada angin yang membuatnya berkibar. Artinya, seseorang bisa mencapai sukses dan berguna karena ada dukungan dari pihak-pihak lain. Kita tak boleh melupakan jasa mereka.

Keempat: Makna bendera ini tidak ditentukan oleh tempat di mana ia dibeli, berapa harganya, atau siapa yang mengibarkannya. Ia bermakna karena di balik bentuk dan susunan warnanya ada gagasan dan pandangan yang diwakili. Begitulah, kita pun harus memperhatikan diri dan menjaganya agar tetap selaras dengan cita-cita dan tujuan hidup kita.

Kelima: Seutas benang menjadi kain, lalu kain menjadi bendera, dan bendera punya makna; karena diperjuangkan dan akhirnya dihormati. Kita juga seperti itu. Harus selalu berusaha agar apa yang kita lakukan bisa bermakna. Jadikan dirimu bermakna bagi orang lain, jika dirimu ingin dihormati.

”Begitulah, cucuku yang ganteng, sekarang kau mengerti?” ujar Nenek mengakhiri penjelasannya.

Amir mengangguk. Meski belum bisa memahami semua, ia menangkap inti dan garis besarnya: betapa penting arti sebuah bendera.

”Sudah, sana mandi dulu. Nenek akan menyiapkan gudeg manggar lengkap dengan telor dan daging ayam kampung empuk kesukaanmu.”

Amir menuruti saran Nenek. Ia masuk ke rumah sambil membayangkan kesegaran air sumur pedesaan.

***

Pada kesempatan lain, Amir mendapat tugas sebagai pengibar bendera pada upacara di sekolahnya. Seiring dengan lagu ”Indonesia Raya” yang dinyanyikan serentak oleh para guru dan teman-temannya, ia menarik tali pengikat bendera agar Sang Saka Merah-Putih berkibar di angkasa.

Ketika bendera mencapai puncak tiang, semua peserta upacara khusyuk memberikan penghormatan. Saat itu Amir berpikir bahwa setiap orang di lapangan itu tak ubahnya sehelai benang. Sekolah tempat mereka belajar ibarat alat pemintal, tempat benang-benang itu menganyam dan meluaskan diri agar menjadi lembaran kain.

Kelak setiap lembar kain akan berguna. Ada yang menjadi baju, celana, selimut, atau taplak meja. Menjadi lap piring juga berjasa, meski tidak pernah dibanggakan dan murah harganya. Sebaliknya, jika menjadi pakaian, sering dipamerkan dalam acara-acara gemerlapan dan harganya bisa mencapai ratusan juta.

Di dalam hati Amir bertekad, ingin menjadi kain yang istimewa. Ia ingin menjadi lambang, seperti bendera.
READ MORE - Bendera

Botol Kubur




Jangan petuahi kami perihal amal dan dosa. Usah pula berbuih ludah mendongengkan elok surga dan bengis neraka. Kelaparan lebih mengerikan dari kematian. Jika mati sudah ketetapan, lapar adalah bagian dari kekalahan. Kami pasrah dijemput maut kapan saja, tapi kami enggan mati dengan perut kosong. Maka biarkanlah botol-botol yang mereka tikam ke tanah itu menjadi jalan rezeki kami.

Kuingat kali pertama mencari botol di kuburan. Angin yang membentur bulu tengkuk terasa lebih dingin dari biasanya. Gugup campur cemas, bergetar jemariku saat menggenggam dan mencabut pantat botol dari pucuk makam. Sekilas kubaca nama, tanggal lahir dan tanggal kematian yang tertera dengan cat hitam di kayu nisan. Antara bergumam-berbisik, kuminta maaf pada pemiliknya yang sedang tidur di bawah sana. Malamnya mataku sulit terpejam. Rusuh hati membayangkan arwah pemilik botol menyelinap masuk ke dalam mimpi, menyumpahserapahiku yang lancang mencabut botol dan menyuruhku mengembalikannya ke tempat semula.

Pengalaman pertama memang guru terbaik. Kini, buatku, mencabut botol di kuburan telah menjadi hal biasa saja layaknya makan, berak, ketawa, atau kentut. Entah berapa botol kuburan yang telah kucabuti. Melihat botol menancap di gundukan makam bagai memergoki uang yang berkilat-kilat disorot cahaya matahari. Saat mencabutnya, tak lupa kuingatkan pada orang di dalam sana agar jangan mengutukku gara-gara sebiji botol. Sebagai imbalan, kubersihkan sampah yang berserak di sekitar makam mereka. Agar kian iba, acap kutambah-tambahi: kami membantu orangtua cari nafkah, hanya ingin bertahan hidup, atau botol itu sangat berharga buat orang miskin macam kami. Mengingatnya, aku nyengir sendiri. Serupa orang bodoh saja bicara pada angin. Untuk apa minta izin pada tulang belulang, pada daging yang telah lebur dengan tanah, pada jasad yang busuk bersama waktu?

Yang tak bernyali mencabut botol kuburan, acap menakuti-nakuti: di sana angker, rumah segala jenis hantu, nanti kualat, kesambet makhluk halus, dikutuk arwah yang murka. Yang sok alim menggurui: jangan menumpuk dosa. Ah, soal itu, biar Tuhan yang menimbang. Kami pasrah, terima bersih saja. Kami hanya menumpuk barang bekas. Ada pula yang mencetus, kelak kami akan diganjar di neraka; botol-botol itu akan ditancapkan ke anus kami. Ada yang terbahak-bahak mendengarnya, ada pula yang kontan terdiam dan berwajah murung.

***

Kami anjing-anjing kecil yang besar di jalanan. Diasuh debu kemarau dan hujan yang riang. Selain bak sampah, taman kota, terminal, trotoar, lorong-lorong pertokoan, atau pasar becek bau bacin, kuburan pun jadi ladang pemulung cilik macam kami. Dalam kelompok-kelompok kecil—tak pernah ada yang nekat pergi sendirian—kami sambangi kuburan.

Jika ada yang sok iba bertanya tentang orangtua, keluarga, atau kenapa tak sekolah; kami punya jawaban berbeda untuk pertanyaan yang sama. Senang rasanya membuat mereka terdiam, menghela napas, atau bermimik sedih. Tak perlu sekolah untuk pandai berbohong. Jika berpapasan dengan anak-anak berseragam sekolah di jalan, tak sungkan pula kami rampas apa yang mereka punya: termos minuman, topi, tas, sepatu. Ada juga yang mujur berhasil merampas telepon genggam mereka.

Kami hanya takut pada Bang Gayu, duda empat puluhan, tukang mabuk dan buat onar. Hampir tiap hari kami dipalaknya. Kami muak, tapi tak berdaya. Mata kirinya picek. Kabarnya, waktu bujang, mata itu ditujah sesama preman yang berebut wilayah kekuasaan. Bang Gayu terkenal doyan mengendap malam-malam, mengintip perempuan tidur. Yang lebih parah bila dia kumat, salah satu dari kami akan dibawanya pergi ke tempat sepi. Meski tengah malam, kami tak bisa mengelak di bawah ancaman. Hanya bisa pulang meringis menahan nyeri di dubur.

***

Kami mendarat siang bolong di pemakaman umum yang terimpit di antara rumah-rumah penduduk. Mirip stasiun berjejal penumpang di ambang lebaran, nyaris semua kuburan yang kami datangi telah sesak menampung jasad manusia. Makam-makam yang kompak menghadap ke satu arah itu bagai kerumunan manusia yang gelisah menunggu moncong kereta muncul dari barat. Tak perlu peta untuk menuntun dari satu kuburan ke kuburan lainnya. Peta tak punya jemari untuk memungut dan menghirup kamboja yang tumbang disentuh angin. Peta tak punya mata kaki untuk menghindari lumpur selepas hujan. Lebih dari itu, ia tak bisa mengendus aroma kematian.

Matahari menancapkan panah-panah teriknya ke ubun- ubun. Ada kincir bambu bungkam dekat asap tipis sisa pembakaran sampah. Bunga-bunga kamboja berserak. Ayam-ayam liar mengorek-ngorek tanah. Konvoi semut hitam di atas marmer putih. Cacing, ulat, dan kaki seribu menyelinap ke balik sampah dedaunan. Banyak makam telah berlapis keramik dan berpagar runcing. Tak sedikit pula yang telantar, nyaris rata dengan tanah, bertahun tak diziarahi keluarganya. Pohon-pohon besar menjulang nampak angker. Seperti ada yang mengintai kami dari balik kelam dahan dan batangnya. Di beberapa kuburan, ada semacam pondok sederhana. Konon, di dalam- nya ada makam keramat orang-orang sakti atau disegani di masa lampau.

Tempat yang sesekali ramai bila ada yang mati, mirip pasar tumpah menjelang dan saat hari raya, senyap muram di hari-hari biasa itu; memang bisa jadi tempat rehat yang enak. Kami tak ada alasan untuk bergegas di sana. Pun tak perlu lagi beruluk salam, sopan santun saat memasuki gerbangnya. Zaman sekarang, salam cuma basa-basi, tak lahir dari hati. Sehangat-hangat salam, masih lebih hangat tahi ayam yang terinjak kaki kami.

Dengan karung kumal, kami berpencar layaknya bermain di tanah lapang. Mata kami jelalatan mengincar makam yang nampak baru, sebab di sanalah biasanya teronggok barang yang diburu. Kebanyakan botol bening bekas sirup, bukan bekas kecap, apalagi minuman keras. Jarang ada botol menancap di makam-makam yang sudah dimarmer.

Mataku tersenyum memergoki botol bening hampa yang nyaris menempel dengan kayu nisan. Mulut botol menancap dalam tanah. Pantatnya nungging miring menuding langit. Airnya telah lama lesap dalam tanah. Hanya butir-butir tanah kering menempel di badannya. Mungkin sisa hujan beberapa hari silam. Kembang-kembang aneka warna yang bertabur sepanjang puncak gundukan telah layu. Tak ingin disalip saingan, jemari kananku mencengkeram pantat botol itu. Perlahan dan hati-hati mencabutnya, jangan sampai mengusik tidur orang di dalam sana. Lega rasanya saat botol itu sudah kulesakkan ke dalam karung lusuh kumal.

Kami seret langkah keluar kuburan diiringi suara ngilu gesekan botol dalam karung. Botol-botol itu tak langsung kami jual, tapi ditumpuk bersama barang-barang rongsok lainnya. Seminggu kemudian baru kami usung ke lapak pengepul, menukarnya dengan lembar-lembar uang yang tak sampai setengah jam digenggam sebelum pindah ke tangan orangtua. Itulah yang kelak mengisi periuk dan bakul nasi di gubuk kami. Andai kami dapat upah, lekas habis kami tukar makanan murahan atau es degan.

Beberapa kali kami bergunjing kenapa botol-botol itu ditancapkan ke makam orang yang baru ditanam? Bukankah sia-sia menelantarkannya di kuburan? Bukankah mereka yang sudah mati tak bisa merasakan apa-apa lagi? Beragam pendapat kami: sebagai obat dahaga buat mereka di alam sana, agar yang berkalang tanah selalu segar, dan lainnya. Yang pasti, mereka yang menikam botol itu tentu tak menduga kelak ada yang mencabutnya. Ah, kenapa bukan uang saja yang ditancapkan di gundukan tanah itu agar kerja kami jadi lebih mudah?

Memang pernah ada yang meriang setelah mencabut botol kuburan. Mukanya pucat pasi. Semula kami kira masuk angin biasa. Punggungnya sudah di kerok, tapi tak ada perubahan berarti. Dia terus saja menggigil. Kami panik, tak ada yang tahu penyakit apa yang merongrong tubuhnya. Ada yang berbisik, dia kesambet jin penunggu pohon besar di tengah kuburan karena kencing sembarangan di sana. Untung dia sembuh begitu saja hingga terhindar dari rumah sakit. Dia pun tak jera mengulang perbuatannya.

***

Tak selalu mulus hajat kami memetik botol di kuburan. Acap kami keluar dengan tangan kosong dan hati dongkol. Pasalnya? Tertangkap basah orang lain! Mungkin warga sekitar yang mengurus kuburan, tukang gali kubur, atau tukang ngaji kubur. Segerombol pemulung cilik kumal keliaran dalam pemakaman umum barangkali memancing rasa curiga mereka. Kami seperti diintai dari tempat tersembunyi lalu mereka muncul tiba-tiba begitu memergoki apa yang kami perbuat. Meski serupa tapi tak sama, kami telah hafal hardikan mereka:

”Kembalikan botol-botol itu!”

”Kecil-kecil sudah jadi maling!”

”Cari sampah di tempat lain!”

”Banyak jalan cari duit, bukan maling botol di kuburan!”

Kami, anjing-anjing kecil dengan hati ciut, terbirit-birit menjangkahi makam demi makam. Menjauhi mereka, orang-orang uzur yang tampaknya mengidap penyakit darah tinggi hingga mudah murka. Sepanjang jalan pulang, gantian kami rutuki mereka. Macam kami tak tahu saja, mereka juga kerap dapat rezeki lewat orang mati. Sudah miskin, kedekut pula. Arwah pemilik botol dan hantu yang mukim di pohon-pohon dalam kuburan lebih baik ketimbang orang-orang yang menggebah menimpuki kami. Mereka tak pernah muncul tiba-tiba untuk mendamprat kami. Mereka yang lelap berserak dalam tanah itu lebih maklum, kami datang diseret angin kemiskinan.

Dan ini rahasia perusahaan. Tak pernah kami bocorkan muasal botol kepada pengepul. Patah ranting rezeki kami jika mereka tahu. Terbayanglah mimiknya bila tahu dari mana asal botol-botol itu. Pengepul pun menolak botol bermulut sumbing. Tak laku dijual ke bos besar, dalihnya. Siapa, di mana, dan bagaimana sosok bos besar itu, kami tak pernah tahu. Yang pasti, tiap mencabut botol, kami amati dulu bibirnya. Jika cacat, kami kembalikan ke tempat semula. Tak mau dua kali lipat kalah kami. Sudah tambah dosa, botol urung jadi uang pula. Belum lagi jika pengepul lengit mencatut jumlah timbangan dan seenak udel mematok harga rongsokan yang kami bawa.

***

Bang Gayu mati anjing. Tengah malam tadi dia ditikam empat lubang entah oleh siapa. Kami pura-pura kaget, tapi dalam hati bersyukur. Sempat kudengar bisik orang-orang yang mengekor saat mengantar kerandanya ke kuburan: ”Nggak usah diberi air. Tancapkan saja sebotol anggur murahan untuk menemaninya dalam kubur…” Kami terkekeh mendengarnya. Meski melarat, orang-orang tua kampung kami masih suka guyon. Orang mati pun bisa dijadikan bahan kelakar.

Sepoi embus angin ambang petang. Ketika orang-orang pergi dan kuburan sudah sepi, kami bersijingkat menyambangi makamnya. Kami amati gundukan tanah merah bertabur kembang. Kami senang dia mati. Hilang satu masalah. Kami terkekeh melihat seorang teman mencabut botol yang baru beberapa jam menancap di kuburnya. Aku tersenyum kecut memergoki lubang kecil bekas botol itu.

Kubuka retsleting celana. Serupa anjing kencing, kunaikkan kaki kiri ke nisan kayu. Kuarahkan rudal ke sasaran. Sekedip kemudian, air kekuningan berdesis membentur gundukan tanah. ”Ini minuman tambahan untukmu, Anjing Tua…” kataku sambil menatap namanya di nisan kayu. ”Balaslah sekarang kalau kau bisa…” disambut kekeh yang lainnya.

Dendam yang berkarat dalam benak kami akhirnya tunai. Ada kebahagiaan yang tak bisa dijelaskan lewat kata-kata saat menyaksikan air menciprati kayu nisan dan gelembung-gelembung kecil memenuhi lubang bekas botol. Pengalaman pertama memang guru terbaik. Kami tak peduli bila kelak di neraka, anus kami berkali-kali dijejali botol. Orang dalam kubur ini, yang botolnya kami cabut dan makamnya kami kencingi, telah mengajari kami bagaimana sakitnya.

Bandar Lampung,
Januari 2011
READ MORE - Botol Kubur

Minggu, 08 Mei 2011

Riwayat Para Rompak dan Nubuat Sang Raja

Oleh Arafat Nur

DALAM keramaian Pasar Lamrame telah beredar kabar tentang siapa-siapa yang hendak menjadi raja. Dari desas-desus itu telah muncul sosok-sosok berparas alim, cerdik, licik, dan picik dari dua golongan; Golongan Kota dan Golongan Hutan. Golongan pertama adalah orang-orang putus asa yang tersingkir, yang hendak membangun harapannya kembali dengan cara menaburkan isi dalam pundi uang, dan akan kembali menjual negaranya demi kepentingan diri sendiri. Sedangkan golongan terakhir adalah orang-orang berbangga hati yang telah menumpahkan darah berkali-kali, dan hal itu tersurat dalam tatapan serta tampang pongahnya.

Sebagaimana sejarah yang baru terjadi pertama kali, raja tidak lagi ditunjuk oleh para junta melainkan dipilih oleh rakyat jelata sendiri, demikian jua terhadap raja-raja kecil untuk memerintah sejumlah wilayah, dan sekitar empat tahun lalu rakyat telah memilih mereka dari kalangan orang-orang yang suka berkeliaran di hutan karena gencarnya buruan prajurit pulau seberang. Sebagaimana diketahui, semua itu telah berakhir dengan saling berjabatan tangan di negeri orang lantaran negeri ini terlalu sempit memberikan ruang untuk berdamai, dan raja-raja itu sebentar lagi akan mengakhiri tahtanya setelah menuai banyak hujatan.

Dari gunjingan-gunjingan di pasar kota itu aku mendengar tak ada seorang pun dari mereka yang mendukung dan memuji para calon raja yang berhasrat hendak mengendalikan negara itu, sebab dari raut rupa mereka saja sudah terlihat nafsu kejinya, serta lagak dan tingkah-lakunya yang sama dengan tindakan para rompak. Yang mengejutkanku, sejumlah orang jelata membincangkan riwayat para calon raja itu sebagai garis keturunan lanun dan rompak, sebagaimana pemahaman sebagian kecil orang tua bijak yang muak dan kerap mengutuk para raja negeri di kesepian kampung yang sunyi.

Maka aku tidak meragukan lagi isi kitab Riwayat Para Rompak milik Almaun. Aku tidak tahu dari mana lelaki tua itu menemukan sekumpulan kertas kumal yang kuperkirakan telah berusia enam ratusan tahun itu – kuketahui dari pemilik kitab yang hampir pikun itu. Aku gagal menemukan jawaban yang tepat karena ingatan lelaki itu memang sudah amat terganggu, bahkan ada yang mengatakan kalau lelaki itu sudah pesong.

“Raja kita mendatang, tetaplah keturunan rompak!” kata Almaun, dan ucapannya itu tetap mengejutkanku.

“Kenapa demikian?” tanyaku.

“Perompak-perompak terdahulu terlalu banyak melahirkan anak jadah. Hanya mereka sajalah yang unggul. Para jin telah memberkatinya!”

“Lalu agama dan Tuhan….”

“Tak usahlah kaubicarakan tentang itu segala!”

Karena memang lelaki itu sudah terlalu tua dan ingatannya mulai terganggu, sebaiknya tak usahlah terlalu kita pikirkan omongannya. Namun, kita harus merujuk pada isi kitab Riwayat Para Rompak untuk mengungkap kebenaran rahasia ini. Sejujurnya, aku belum habis benar membaca dalam waktu yang amat singkat, yang setumpukan kecil kertas kumal itu tak boleh kumiliki, sekuat apa pun tekadku membujuknya.

“Kau cukup membacanya di sini saja, sambil menemaniku mengopi!” begitulah dia berkeras.

Tak seorang pun mengetahui akan kitab ini, sebab sepengetahuan banyak orang yang pernah menjadi pejabat Sultan Tsani, kitab itu telah dimusnahkan bersama kumpulan kitab-kitab Hamzah dari Fansur, sehingga tak ada lagi yang tersisa dari kenyataan dan kebenaran pada masa silam. Kitab Hamzah dianggap menyesatkan, sedangkan kitab Riwayat Para Rompak dianggap merusak citra para raja di “tanah yang diberkati Tuhan ini”, jelas Almaun. Seorang prajurit istana yang turut dalam acara pemusnahan besar-besaran itu secara diam-diam berhasil menyelamatkan setengah dari kitab itu, yang kemudian menjadi pusaka rahasia yang diwariskan secara turun-temurun.

“Aku adalah ahliwaris ke tujuh kitab yang tak berguna itu!”

“Kalau tidak berguna, kenapa pula aku tak boleh meminjamnya?” tanyaku menyelidik.

“Apakah kau sudah gila? Mau cepat mati?”

“Tidak.”

“Kalau begitu tak usah!” potongnya cepat. “Pasti kau heran? Kau pasti bertanya kenapa aku tidak mati. Tentu saja, karena aku dianggap gila. Maka tak ada yang percaya kalau aku menyimpan kitab berbahaya ini. Bahkan jika aku menunjukkan ke muka mereka, mereka tak akan percaya. Memangnya berapa orang yang bisa baca huruf Jawi seperti ini? Lagi pula orang-orang sekarang ini bodoh semua!”

Bahkan, aku sendiri tak akan pernah tahu akan hal itu sebelum suatu hari aku bertemu lelaki tua yang menunjukkan sekerat kicil lembaran tua yang telah koyak di sana-sini, seakan-akan waktu telah ikut bersekongkol hendak menelannya secara perlahan-lahan.

Baiklah, tentu kau tak sabar lagi ingin tahu secuil isi kitab ini yang telah dibakar oleh Almaun dengan alasan yang tidak dapat diterima dengan akal sehat, memang pada kenyataannya akal lelaki tua itu agak kurang sehat. Akhir-akhir ini dia sering mengumpat dan mencaruti raja-raja di Tanah Hijau ini dengan kata-kata, “Terkutuklah raja buduk!”

Untuk tidak mengaburkan kenyataan yang ada tentang keadaan kitab ini, aku akan menjelaskan padamu, wahai Pembaca Budiman, bahwa kitab Riwayat Para Rompak ini ditulis dengan bahasa yang agak kacau, susunan kata-katanya berpola lama yang rumit dan berbelit-belit. Dari huruf-hurufnya yang tegas tetapi tidak beraturan, menunjukkan bahwa kitab ini ditulis oleh orang yang sangat berbakat pada masa itu, yang kemungkinan juga berteman dekat dengan makhluk-makhluk yang tak kasat mata. Mungkin juga isinya berdasarkan bisikan makhluk-makhluk gaib ini dari dalam rimba. Begitu batinku mengatakannya.

Kitab itu menjelaskan secara singkat bahwa raja-raja sebelumnya adalah garis keturunan anak bajang yang punya riwayat panjang dan telah terkaburkan setelah negeri ini tidak lagi mengenal perbudakan. Tanah para perompak ini tidak akan menerima raja yang bukan dari keturunan jadah, sebab dianya (raja yang bukan anak jadah) tak bakal tahan menghadapi orang-orang keras beringas dan berakal pendek.

Tak ada lagi alasan lain mengenai ini, dan karenanya pula aku amat menyesali. Namun, dalam kitab yang berhasil diselamatkan hanya dua puluh lembar itu disebutkan, para perompak berkulit hitam dan berlengan liat, telah menggagahi beberapa perempuan di pelabuhan setelah mereka merompak Bandar Lamrame, lantas menjarahi isi kedai dan rumah-rumah nelayan di pinggir laut.

Kelak, setelah mereka pergi, mereka kembali lagi untuk menguasai pelabuhan beserta kotanya yang kaya akan lada, cengkeh, dan pala. Orang-orang keturunan terkutuk dari negara Hitam yang terkutuk inilah yang duduk berkuasa setelah membunuh raja Lamrame yang lemah, yang merupakan seorang pendatang dari negeri yang tak jelas, yang dianya juga buangan dari sebuah negeri yang dikuasai raja paling busuk perangainya di negeri asal.

Waktu itu ajaran agama di Lamrame sudah dipajang dan diserukan dengan lantang oleh pendatang-pendatang dari Tanah Jazirah dan diterima dengan baik oleh raja bajak laut yang telah menguasai tanah ini, karena ternyata keyakinan itu tidak mengusik tahta kekuasaan raja, bahkan amat mendukung kekuatan pemerintahan, tanpa terlalu ikut campur dalam urusan istana yang penuh dengan hidangan tuak dan anggur. Raja juga memberikan sumbangan bagi mereka yang dengan rajin menyerukan syariat kepada rakyat untuk beribadat dan giat bekerja, serta harus patuh pada pemerintahan baru.

Setelah raja perompak memegang kendali Lamrame, tak terbilang banyaknya lahir anak jadah dari gundik-gundik yang ditiduri setiap malam, yang kelak anak-anak ini tumbuh kuat sebagaimana ayahnya. Mereka mewarisi watak keras, kasar, picik, dan agak pongah. Atas darah bangsawan dan juga perompak itulah mereka berhak menjadi raja-raja kecil, yang kelak terus diwariskan kepada anak-cucu.

Dijelaskan pula akan terjadinya bencana raya air laut yang menghantam kota dan meratakan sebagian besar bangunan di dekat pantai, serta ribuan orang akan hanyut dan mati dalam keadaan telanjang. Kemudian berdatanganlah para pencuri yang menyaru sebagai penyelamat dan mengaku hendak mengurusi mayat-mayat, yang ternyata menjarahi terlebih dulu emas dan perhiasan yang tertinggal di tubuh dan puing-puing rumah para korban.

Tak lama kemudian disusul orang-orang kafir yang membawa uang dan makanan, juga ajaran baru, yang menurut mereka keyakinan itu lebih cocok bagi penduduk negeri yang bodoh dan tungang ini. Sedangkan orang-orang tetangga, yang telah menembak banyak lelaki dan memperkosa perempuan-perempuan di kampung ini, tersenyum-senyum memandang dari kejauhan. Sesekali mereka menyeru, “Rasain bencana Tuhan!”

Begitulah yang tertulis di halaman 30 dan 32, yang membuatku sangat terperangah. Ini benar-benar aneh, apa yang tertulis dalam kitab itu memang sudah terjadi sekitar empat tahun lalu dan telah banyak orang yang melupakannya. Perihal inilah yang membuat aku yakin, bahwa kitab riwayat yang juga nubuat—yang menurut Almaun ditulis seorang ahli nujum raja perompak—adalah tidak diragukan lagi akan kebenarannya.

Tetapi, aku tak bisa lagi membaca halaman 38, 39, dan 40 sebagai lembaran terakhir, yang di situ dijelaskan siapakah yang akan memimpin negeri ini mendatang. Tulisan Arab-Melayu pada lembaran itu telah tertutup noda hitam, yang oleh Almaun dikatakan sebagai tumpahan kopi kentalnya.

“Tak usalah kau terlalu penasaran begitu,” ucapnya menggoda. “Raja kita mendatang tetaplah lanun buduk!”[]

- Aceh, 14 Oktober 2010.
READ MORE - Riwayat Para Rompak dan Nubuat Sang Raja