Lazada Philippines

Kursus Bahasa Inggris Kilat

Jumat, 13 Mei 2011

Bendera

Meski sedang liburan di rumah neneknya di Desa Bangunjiwa, Amir tetap bangun pagi. Sudah menjadi kebiasaan setiap hari. Kalau sedang tidak libur, Amir bangun pagi untuk bersiap ke sekolah. Amir selalu ingat nasehat Nenek, ”Orang yang rajin bangun pagi akan lebih mudah mendapat rezeki.”

Di mata Amir, Nenek adalah sosok perempuan tua yang bijak dan pintar. Amir tak tahu apa makna nasehat Nenek itu, tapi ia merasa ada benarnya. Bangun pagi membuatnya tidak terlambat tiba di sekolah dan tidak ketinggalan pelajaran. Selain itu, bangun pagi sungguh menyenangkan. Hanya pada waktu pagi kita bisa menikmati suasana alam yang paling nyaman. Cahaya matahari masih hangat, udara masih bersih, tumbuhan pun tampak segar, seolah semua lebih bugar setelah bangun tidur.

Pagi itu Amir mendapati Nenek duduk sendirian di beranda depan. Rupanya, Nenek sedang menyulam bendera. Amir menyapa dan bertanya, ”Selamat pagi, Nek. Benderanya kenapa?”

”Oh, cucuku yang ganteng sudah bangun!” sahut Nenek pura-pura kaget. ”Bendera ini sedikit robek karena sudah tua.”

”Kenapa tidak beli yang baru saja?”

Nenek tersenyum. ”Belum perlu,” katanya. ”Ini masih bisa diperbaiki. Tidak baik memboroskan uang. Lebih untung ditabung, siapa tahu akan ada kebutuhan yang lebih penting.”

”Bendera tidak penting ya, Nek?”

”O, penting sekali. Justru karena sangat penting, Nenek tidak akan membuangnya.” Nenek berhenti sejenak dan menatap cucunya. ”Kelak, ketika kamu dewasa, Nenek harap kamu juga menjadi penting seperti bendera ini.”

Amir mengamati bendera itu. Selembar sambungan kain merah dan putih. Tidak ada yang istimewa. ”Apa pentingnya, Nek? Apa bedanya dengan kain yang lain?”

Pertanyaan Amir membuat Nenek berhenti menyulam. Nenek diam. Pintar sekali anak ini, kata Nenek dalam hati. Nenek merasa perlu memberi jawaban terbaik untuk setiap pertanyaannya. Untunglah, Nenek teringat Eyang Coelho, seorang lelaki gaek yang cengeng dan sedikit manja, yang membayangkan dirinya bersimpuh dan tersedu di tepi Sungai Paedra. Eyang Coelho pernah menulis sebuah cerita tentang pensil. Nah, Nenek akan meniru cara tokoh perempuan tua dalam cerita itu ketika memberikan penjelasan kepada sang cucu.

”Penting atau tidak, tergantung bagaimana kita menilainya,” akhirnya Nenek berkata. Bendera ini, lanjutnya, bukan kain biasa. Ia punya beberapa keistimewaan yang membedakannya dengan kain-kain lain. Keistimewaan itu yang patut kita tiru.

Pertama: semula ini memang kain biasa. Tapi, setelah dipadukan dengan urutan dan ukuran seperti ini, ia berubah jadi bendera, menjadi lambang negara. Merah-putih ini lambang negara kita, Indonesia. Setiap negara punya bendera yang berbeda. Dan semua warga negara menghormati bendera negaranya. Tapi, jangan lupa, kain ini menjadi bendera bukan karena dirinya sendiri, melainkan ada manusia yang membuatnya. Begitu pula kita bisa menjadi apa saja, tapi jangan lupa ada kehendak Sang Mahapencipta.

Kedua: Pada waktu kain ini dijahit, tentu ia merasa sakit. Tapi sesudahnya, ia punya wujud baru yang indah dan bermakna. Kita, manusia, hendaknya begitu juga. Sabar dan tabah menghadapi sakit dan derita, karena daya tahan itulah yang membuat kita menjadi pribadi yang kuat, tidak mudah menyerah.

Ketiga: Bendera akan tampak perkasa jika ada tiang yang membuatnya menjulang, ada angin yang membuatnya berkibar. Artinya, seseorang bisa mencapai sukses dan berguna karena ada dukungan dari pihak-pihak lain. Kita tak boleh melupakan jasa mereka.

Keempat: Makna bendera ini tidak ditentukan oleh tempat di mana ia dibeli, berapa harganya, atau siapa yang mengibarkannya. Ia bermakna karena di balik bentuk dan susunan warnanya ada gagasan dan pandangan yang diwakili. Begitulah, kita pun harus memperhatikan diri dan menjaganya agar tetap selaras dengan cita-cita dan tujuan hidup kita.

Kelima: Seutas benang menjadi kain, lalu kain menjadi bendera, dan bendera punya makna; karena diperjuangkan dan akhirnya dihormati. Kita juga seperti itu. Harus selalu berusaha agar apa yang kita lakukan bisa bermakna. Jadikan dirimu bermakna bagi orang lain, jika dirimu ingin dihormati.

”Begitulah, cucuku yang ganteng, sekarang kau mengerti?” ujar Nenek mengakhiri penjelasannya.

Amir mengangguk. Meski belum bisa memahami semua, ia menangkap inti dan garis besarnya: betapa penting arti sebuah bendera.

”Sudah, sana mandi dulu. Nenek akan menyiapkan gudeg manggar lengkap dengan telor dan daging ayam kampung empuk kesukaanmu.”

Amir menuruti saran Nenek. Ia masuk ke rumah sambil membayangkan kesegaran air sumur pedesaan.

***

Pada kesempatan lain, Amir mendapat tugas sebagai pengibar bendera pada upacara di sekolahnya. Seiring dengan lagu ”Indonesia Raya” yang dinyanyikan serentak oleh para guru dan teman-temannya, ia menarik tali pengikat bendera agar Sang Saka Merah-Putih berkibar di angkasa.

Ketika bendera mencapai puncak tiang, semua peserta upacara khusyuk memberikan penghormatan. Saat itu Amir berpikir bahwa setiap orang di lapangan itu tak ubahnya sehelai benang. Sekolah tempat mereka belajar ibarat alat pemintal, tempat benang-benang itu menganyam dan meluaskan diri agar menjadi lembaran kain.

Kelak setiap lembar kain akan berguna. Ada yang menjadi baju, celana, selimut, atau taplak meja. Menjadi lap piring juga berjasa, meski tidak pernah dibanggakan dan murah harganya. Sebaliknya, jika menjadi pakaian, sering dipamerkan dalam acara-acara gemerlapan dan harganya bisa mencapai ratusan juta.

Di dalam hati Amir bertekad, ingin menjadi kain yang istimewa. Ia ingin menjadi lambang, seperti bendera.
READ MORE - Bendera

Botol Kubur




Jangan petuahi kami perihal amal dan dosa. Usah pula berbuih ludah mendongengkan elok surga dan bengis neraka. Kelaparan lebih mengerikan dari kematian. Jika mati sudah ketetapan, lapar adalah bagian dari kekalahan. Kami pasrah dijemput maut kapan saja, tapi kami enggan mati dengan perut kosong. Maka biarkanlah botol-botol yang mereka tikam ke tanah itu menjadi jalan rezeki kami.

Kuingat kali pertama mencari botol di kuburan. Angin yang membentur bulu tengkuk terasa lebih dingin dari biasanya. Gugup campur cemas, bergetar jemariku saat menggenggam dan mencabut pantat botol dari pucuk makam. Sekilas kubaca nama, tanggal lahir dan tanggal kematian yang tertera dengan cat hitam di kayu nisan. Antara bergumam-berbisik, kuminta maaf pada pemiliknya yang sedang tidur di bawah sana. Malamnya mataku sulit terpejam. Rusuh hati membayangkan arwah pemilik botol menyelinap masuk ke dalam mimpi, menyumpahserapahiku yang lancang mencabut botol dan menyuruhku mengembalikannya ke tempat semula.

Pengalaman pertama memang guru terbaik. Kini, buatku, mencabut botol di kuburan telah menjadi hal biasa saja layaknya makan, berak, ketawa, atau kentut. Entah berapa botol kuburan yang telah kucabuti. Melihat botol menancap di gundukan makam bagai memergoki uang yang berkilat-kilat disorot cahaya matahari. Saat mencabutnya, tak lupa kuingatkan pada orang di dalam sana agar jangan mengutukku gara-gara sebiji botol. Sebagai imbalan, kubersihkan sampah yang berserak di sekitar makam mereka. Agar kian iba, acap kutambah-tambahi: kami membantu orangtua cari nafkah, hanya ingin bertahan hidup, atau botol itu sangat berharga buat orang miskin macam kami. Mengingatnya, aku nyengir sendiri. Serupa orang bodoh saja bicara pada angin. Untuk apa minta izin pada tulang belulang, pada daging yang telah lebur dengan tanah, pada jasad yang busuk bersama waktu?

Yang tak bernyali mencabut botol kuburan, acap menakuti-nakuti: di sana angker, rumah segala jenis hantu, nanti kualat, kesambet makhluk halus, dikutuk arwah yang murka. Yang sok alim menggurui: jangan menumpuk dosa. Ah, soal itu, biar Tuhan yang menimbang. Kami pasrah, terima bersih saja. Kami hanya menumpuk barang bekas. Ada pula yang mencetus, kelak kami akan diganjar di neraka; botol-botol itu akan ditancapkan ke anus kami. Ada yang terbahak-bahak mendengarnya, ada pula yang kontan terdiam dan berwajah murung.

***

Kami anjing-anjing kecil yang besar di jalanan. Diasuh debu kemarau dan hujan yang riang. Selain bak sampah, taman kota, terminal, trotoar, lorong-lorong pertokoan, atau pasar becek bau bacin, kuburan pun jadi ladang pemulung cilik macam kami. Dalam kelompok-kelompok kecil—tak pernah ada yang nekat pergi sendirian—kami sambangi kuburan.

Jika ada yang sok iba bertanya tentang orangtua, keluarga, atau kenapa tak sekolah; kami punya jawaban berbeda untuk pertanyaan yang sama. Senang rasanya membuat mereka terdiam, menghela napas, atau bermimik sedih. Tak perlu sekolah untuk pandai berbohong. Jika berpapasan dengan anak-anak berseragam sekolah di jalan, tak sungkan pula kami rampas apa yang mereka punya: termos minuman, topi, tas, sepatu. Ada juga yang mujur berhasil merampas telepon genggam mereka.

Kami hanya takut pada Bang Gayu, duda empat puluhan, tukang mabuk dan buat onar. Hampir tiap hari kami dipalaknya. Kami muak, tapi tak berdaya. Mata kirinya picek. Kabarnya, waktu bujang, mata itu ditujah sesama preman yang berebut wilayah kekuasaan. Bang Gayu terkenal doyan mengendap malam-malam, mengintip perempuan tidur. Yang lebih parah bila dia kumat, salah satu dari kami akan dibawanya pergi ke tempat sepi. Meski tengah malam, kami tak bisa mengelak di bawah ancaman. Hanya bisa pulang meringis menahan nyeri di dubur.

***

Kami mendarat siang bolong di pemakaman umum yang terimpit di antara rumah-rumah penduduk. Mirip stasiun berjejal penumpang di ambang lebaran, nyaris semua kuburan yang kami datangi telah sesak menampung jasad manusia. Makam-makam yang kompak menghadap ke satu arah itu bagai kerumunan manusia yang gelisah menunggu moncong kereta muncul dari barat. Tak perlu peta untuk menuntun dari satu kuburan ke kuburan lainnya. Peta tak punya jemari untuk memungut dan menghirup kamboja yang tumbang disentuh angin. Peta tak punya mata kaki untuk menghindari lumpur selepas hujan. Lebih dari itu, ia tak bisa mengendus aroma kematian.

Matahari menancapkan panah-panah teriknya ke ubun- ubun. Ada kincir bambu bungkam dekat asap tipis sisa pembakaran sampah. Bunga-bunga kamboja berserak. Ayam-ayam liar mengorek-ngorek tanah. Konvoi semut hitam di atas marmer putih. Cacing, ulat, dan kaki seribu menyelinap ke balik sampah dedaunan. Banyak makam telah berlapis keramik dan berpagar runcing. Tak sedikit pula yang telantar, nyaris rata dengan tanah, bertahun tak diziarahi keluarganya. Pohon-pohon besar menjulang nampak angker. Seperti ada yang mengintai kami dari balik kelam dahan dan batangnya. Di beberapa kuburan, ada semacam pondok sederhana. Konon, di dalam- nya ada makam keramat orang-orang sakti atau disegani di masa lampau.

Tempat yang sesekali ramai bila ada yang mati, mirip pasar tumpah menjelang dan saat hari raya, senyap muram di hari-hari biasa itu; memang bisa jadi tempat rehat yang enak. Kami tak ada alasan untuk bergegas di sana. Pun tak perlu lagi beruluk salam, sopan santun saat memasuki gerbangnya. Zaman sekarang, salam cuma basa-basi, tak lahir dari hati. Sehangat-hangat salam, masih lebih hangat tahi ayam yang terinjak kaki kami.

Dengan karung kumal, kami berpencar layaknya bermain di tanah lapang. Mata kami jelalatan mengincar makam yang nampak baru, sebab di sanalah biasanya teronggok barang yang diburu. Kebanyakan botol bening bekas sirup, bukan bekas kecap, apalagi minuman keras. Jarang ada botol menancap di makam-makam yang sudah dimarmer.

Mataku tersenyum memergoki botol bening hampa yang nyaris menempel dengan kayu nisan. Mulut botol menancap dalam tanah. Pantatnya nungging miring menuding langit. Airnya telah lama lesap dalam tanah. Hanya butir-butir tanah kering menempel di badannya. Mungkin sisa hujan beberapa hari silam. Kembang-kembang aneka warna yang bertabur sepanjang puncak gundukan telah layu. Tak ingin disalip saingan, jemari kananku mencengkeram pantat botol itu. Perlahan dan hati-hati mencabutnya, jangan sampai mengusik tidur orang di dalam sana. Lega rasanya saat botol itu sudah kulesakkan ke dalam karung lusuh kumal.

Kami seret langkah keluar kuburan diiringi suara ngilu gesekan botol dalam karung. Botol-botol itu tak langsung kami jual, tapi ditumpuk bersama barang-barang rongsok lainnya. Seminggu kemudian baru kami usung ke lapak pengepul, menukarnya dengan lembar-lembar uang yang tak sampai setengah jam digenggam sebelum pindah ke tangan orangtua. Itulah yang kelak mengisi periuk dan bakul nasi di gubuk kami. Andai kami dapat upah, lekas habis kami tukar makanan murahan atau es degan.

Beberapa kali kami bergunjing kenapa botol-botol itu ditancapkan ke makam orang yang baru ditanam? Bukankah sia-sia menelantarkannya di kuburan? Bukankah mereka yang sudah mati tak bisa merasakan apa-apa lagi? Beragam pendapat kami: sebagai obat dahaga buat mereka di alam sana, agar yang berkalang tanah selalu segar, dan lainnya. Yang pasti, mereka yang menikam botol itu tentu tak menduga kelak ada yang mencabutnya. Ah, kenapa bukan uang saja yang ditancapkan di gundukan tanah itu agar kerja kami jadi lebih mudah?

Memang pernah ada yang meriang setelah mencabut botol kuburan. Mukanya pucat pasi. Semula kami kira masuk angin biasa. Punggungnya sudah di kerok, tapi tak ada perubahan berarti. Dia terus saja menggigil. Kami panik, tak ada yang tahu penyakit apa yang merongrong tubuhnya. Ada yang berbisik, dia kesambet jin penunggu pohon besar di tengah kuburan karena kencing sembarangan di sana. Untung dia sembuh begitu saja hingga terhindar dari rumah sakit. Dia pun tak jera mengulang perbuatannya.

***

Tak selalu mulus hajat kami memetik botol di kuburan. Acap kami keluar dengan tangan kosong dan hati dongkol. Pasalnya? Tertangkap basah orang lain! Mungkin warga sekitar yang mengurus kuburan, tukang gali kubur, atau tukang ngaji kubur. Segerombol pemulung cilik kumal keliaran dalam pemakaman umum barangkali memancing rasa curiga mereka. Kami seperti diintai dari tempat tersembunyi lalu mereka muncul tiba-tiba begitu memergoki apa yang kami perbuat. Meski serupa tapi tak sama, kami telah hafal hardikan mereka:

”Kembalikan botol-botol itu!”

”Kecil-kecil sudah jadi maling!”

”Cari sampah di tempat lain!”

”Banyak jalan cari duit, bukan maling botol di kuburan!”

Kami, anjing-anjing kecil dengan hati ciut, terbirit-birit menjangkahi makam demi makam. Menjauhi mereka, orang-orang uzur yang tampaknya mengidap penyakit darah tinggi hingga mudah murka. Sepanjang jalan pulang, gantian kami rutuki mereka. Macam kami tak tahu saja, mereka juga kerap dapat rezeki lewat orang mati. Sudah miskin, kedekut pula. Arwah pemilik botol dan hantu yang mukim di pohon-pohon dalam kuburan lebih baik ketimbang orang-orang yang menggebah menimpuki kami. Mereka tak pernah muncul tiba-tiba untuk mendamprat kami. Mereka yang lelap berserak dalam tanah itu lebih maklum, kami datang diseret angin kemiskinan.

Dan ini rahasia perusahaan. Tak pernah kami bocorkan muasal botol kepada pengepul. Patah ranting rezeki kami jika mereka tahu. Terbayanglah mimiknya bila tahu dari mana asal botol-botol itu. Pengepul pun menolak botol bermulut sumbing. Tak laku dijual ke bos besar, dalihnya. Siapa, di mana, dan bagaimana sosok bos besar itu, kami tak pernah tahu. Yang pasti, tiap mencabut botol, kami amati dulu bibirnya. Jika cacat, kami kembalikan ke tempat semula. Tak mau dua kali lipat kalah kami. Sudah tambah dosa, botol urung jadi uang pula. Belum lagi jika pengepul lengit mencatut jumlah timbangan dan seenak udel mematok harga rongsokan yang kami bawa.

***

Bang Gayu mati anjing. Tengah malam tadi dia ditikam empat lubang entah oleh siapa. Kami pura-pura kaget, tapi dalam hati bersyukur. Sempat kudengar bisik orang-orang yang mengekor saat mengantar kerandanya ke kuburan: ”Nggak usah diberi air. Tancapkan saja sebotol anggur murahan untuk menemaninya dalam kubur…” Kami terkekeh mendengarnya. Meski melarat, orang-orang tua kampung kami masih suka guyon. Orang mati pun bisa dijadikan bahan kelakar.

Sepoi embus angin ambang petang. Ketika orang-orang pergi dan kuburan sudah sepi, kami bersijingkat menyambangi makamnya. Kami amati gundukan tanah merah bertabur kembang. Kami senang dia mati. Hilang satu masalah. Kami terkekeh melihat seorang teman mencabut botol yang baru beberapa jam menancap di kuburnya. Aku tersenyum kecut memergoki lubang kecil bekas botol itu.

Kubuka retsleting celana. Serupa anjing kencing, kunaikkan kaki kiri ke nisan kayu. Kuarahkan rudal ke sasaran. Sekedip kemudian, air kekuningan berdesis membentur gundukan tanah. ”Ini minuman tambahan untukmu, Anjing Tua…” kataku sambil menatap namanya di nisan kayu. ”Balaslah sekarang kalau kau bisa…” disambut kekeh yang lainnya.

Dendam yang berkarat dalam benak kami akhirnya tunai. Ada kebahagiaan yang tak bisa dijelaskan lewat kata-kata saat menyaksikan air menciprati kayu nisan dan gelembung-gelembung kecil memenuhi lubang bekas botol. Pengalaman pertama memang guru terbaik. Kami tak peduli bila kelak di neraka, anus kami berkali-kali dijejali botol. Orang dalam kubur ini, yang botolnya kami cabut dan makamnya kami kencingi, telah mengajari kami bagaimana sakitnya.

Bandar Lampung,
Januari 2011
READ MORE - Botol Kubur

Minggu, 08 Mei 2011

Riwayat Para Rompak dan Nubuat Sang Raja

Oleh Arafat Nur

DALAM keramaian Pasar Lamrame telah beredar kabar tentang siapa-siapa yang hendak menjadi raja. Dari desas-desus itu telah muncul sosok-sosok berparas alim, cerdik, licik, dan picik dari dua golongan; Golongan Kota dan Golongan Hutan. Golongan pertama adalah orang-orang putus asa yang tersingkir, yang hendak membangun harapannya kembali dengan cara menaburkan isi dalam pundi uang, dan akan kembali menjual negaranya demi kepentingan diri sendiri. Sedangkan golongan terakhir adalah orang-orang berbangga hati yang telah menumpahkan darah berkali-kali, dan hal itu tersurat dalam tatapan serta tampang pongahnya.

Sebagaimana sejarah yang baru terjadi pertama kali, raja tidak lagi ditunjuk oleh para junta melainkan dipilih oleh rakyat jelata sendiri, demikian jua terhadap raja-raja kecil untuk memerintah sejumlah wilayah, dan sekitar empat tahun lalu rakyat telah memilih mereka dari kalangan orang-orang yang suka berkeliaran di hutan karena gencarnya buruan prajurit pulau seberang. Sebagaimana diketahui, semua itu telah berakhir dengan saling berjabatan tangan di negeri orang lantaran negeri ini terlalu sempit memberikan ruang untuk berdamai, dan raja-raja itu sebentar lagi akan mengakhiri tahtanya setelah menuai banyak hujatan.

Dari gunjingan-gunjingan di pasar kota itu aku mendengar tak ada seorang pun dari mereka yang mendukung dan memuji para calon raja yang berhasrat hendak mengendalikan negara itu, sebab dari raut rupa mereka saja sudah terlihat nafsu kejinya, serta lagak dan tingkah-lakunya yang sama dengan tindakan para rompak. Yang mengejutkanku, sejumlah orang jelata membincangkan riwayat para calon raja itu sebagai garis keturunan lanun dan rompak, sebagaimana pemahaman sebagian kecil orang tua bijak yang muak dan kerap mengutuk para raja negeri di kesepian kampung yang sunyi.

Maka aku tidak meragukan lagi isi kitab Riwayat Para Rompak milik Almaun. Aku tidak tahu dari mana lelaki tua itu menemukan sekumpulan kertas kumal yang kuperkirakan telah berusia enam ratusan tahun itu – kuketahui dari pemilik kitab yang hampir pikun itu. Aku gagal menemukan jawaban yang tepat karena ingatan lelaki itu memang sudah amat terganggu, bahkan ada yang mengatakan kalau lelaki itu sudah pesong.

“Raja kita mendatang, tetaplah keturunan rompak!” kata Almaun, dan ucapannya itu tetap mengejutkanku.

“Kenapa demikian?” tanyaku.

“Perompak-perompak terdahulu terlalu banyak melahirkan anak jadah. Hanya mereka sajalah yang unggul. Para jin telah memberkatinya!”

“Lalu agama dan Tuhan….”

“Tak usahlah kaubicarakan tentang itu segala!”

Karena memang lelaki itu sudah terlalu tua dan ingatannya mulai terganggu, sebaiknya tak usahlah terlalu kita pikirkan omongannya. Namun, kita harus merujuk pada isi kitab Riwayat Para Rompak untuk mengungkap kebenaran rahasia ini. Sejujurnya, aku belum habis benar membaca dalam waktu yang amat singkat, yang setumpukan kecil kertas kumal itu tak boleh kumiliki, sekuat apa pun tekadku membujuknya.

“Kau cukup membacanya di sini saja, sambil menemaniku mengopi!” begitulah dia berkeras.

Tak seorang pun mengetahui akan kitab ini, sebab sepengetahuan banyak orang yang pernah menjadi pejabat Sultan Tsani, kitab itu telah dimusnahkan bersama kumpulan kitab-kitab Hamzah dari Fansur, sehingga tak ada lagi yang tersisa dari kenyataan dan kebenaran pada masa silam. Kitab Hamzah dianggap menyesatkan, sedangkan kitab Riwayat Para Rompak dianggap merusak citra para raja di “tanah yang diberkati Tuhan ini”, jelas Almaun. Seorang prajurit istana yang turut dalam acara pemusnahan besar-besaran itu secara diam-diam berhasil menyelamatkan setengah dari kitab itu, yang kemudian menjadi pusaka rahasia yang diwariskan secara turun-temurun.

“Aku adalah ahliwaris ke tujuh kitab yang tak berguna itu!”

“Kalau tidak berguna, kenapa pula aku tak boleh meminjamnya?” tanyaku menyelidik.

“Apakah kau sudah gila? Mau cepat mati?”

“Tidak.”

“Kalau begitu tak usah!” potongnya cepat. “Pasti kau heran? Kau pasti bertanya kenapa aku tidak mati. Tentu saja, karena aku dianggap gila. Maka tak ada yang percaya kalau aku menyimpan kitab berbahaya ini. Bahkan jika aku menunjukkan ke muka mereka, mereka tak akan percaya. Memangnya berapa orang yang bisa baca huruf Jawi seperti ini? Lagi pula orang-orang sekarang ini bodoh semua!”

Bahkan, aku sendiri tak akan pernah tahu akan hal itu sebelum suatu hari aku bertemu lelaki tua yang menunjukkan sekerat kicil lembaran tua yang telah koyak di sana-sini, seakan-akan waktu telah ikut bersekongkol hendak menelannya secara perlahan-lahan.

Baiklah, tentu kau tak sabar lagi ingin tahu secuil isi kitab ini yang telah dibakar oleh Almaun dengan alasan yang tidak dapat diterima dengan akal sehat, memang pada kenyataannya akal lelaki tua itu agak kurang sehat. Akhir-akhir ini dia sering mengumpat dan mencaruti raja-raja di Tanah Hijau ini dengan kata-kata, “Terkutuklah raja buduk!”

Untuk tidak mengaburkan kenyataan yang ada tentang keadaan kitab ini, aku akan menjelaskan padamu, wahai Pembaca Budiman, bahwa kitab Riwayat Para Rompak ini ditulis dengan bahasa yang agak kacau, susunan kata-katanya berpola lama yang rumit dan berbelit-belit. Dari huruf-hurufnya yang tegas tetapi tidak beraturan, menunjukkan bahwa kitab ini ditulis oleh orang yang sangat berbakat pada masa itu, yang kemungkinan juga berteman dekat dengan makhluk-makhluk yang tak kasat mata. Mungkin juga isinya berdasarkan bisikan makhluk-makhluk gaib ini dari dalam rimba. Begitu batinku mengatakannya.

Kitab itu menjelaskan secara singkat bahwa raja-raja sebelumnya adalah garis keturunan anak bajang yang punya riwayat panjang dan telah terkaburkan setelah negeri ini tidak lagi mengenal perbudakan. Tanah para perompak ini tidak akan menerima raja yang bukan dari keturunan jadah, sebab dianya (raja yang bukan anak jadah) tak bakal tahan menghadapi orang-orang keras beringas dan berakal pendek.

Tak ada lagi alasan lain mengenai ini, dan karenanya pula aku amat menyesali. Namun, dalam kitab yang berhasil diselamatkan hanya dua puluh lembar itu disebutkan, para perompak berkulit hitam dan berlengan liat, telah menggagahi beberapa perempuan di pelabuhan setelah mereka merompak Bandar Lamrame, lantas menjarahi isi kedai dan rumah-rumah nelayan di pinggir laut.

Kelak, setelah mereka pergi, mereka kembali lagi untuk menguasai pelabuhan beserta kotanya yang kaya akan lada, cengkeh, dan pala. Orang-orang keturunan terkutuk dari negara Hitam yang terkutuk inilah yang duduk berkuasa setelah membunuh raja Lamrame yang lemah, yang merupakan seorang pendatang dari negeri yang tak jelas, yang dianya juga buangan dari sebuah negeri yang dikuasai raja paling busuk perangainya di negeri asal.

Waktu itu ajaran agama di Lamrame sudah dipajang dan diserukan dengan lantang oleh pendatang-pendatang dari Tanah Jazirah dan diterima dengan baik oleh raja bajak laut yang telah menguasai tanah ini, karena ternyata keyakinan itu tidak mengusik tahta kekuasaan raja, bahkan amat mendukung kekuatan pemerintahan, tanpa terlalu ikut campur dalam urusan istana yang penuh dengan hidangan tuak dan anggur. Raja juga memberikan sumbangan bagi mereka yang dengan rajin menyerukan syariat kepada rakyat untuk beribadat dan giat bekerja, serta harus patuh pada pemerintahan baru.

Setelah raja perompak memegang kendali Lamrame, tak terbilang banyaknya lahir anak jadah dari gundik-gundik yang ditiduri setiap malam, yang kelak anak-anak ini tumbuh kuat sebagaimana ayahnya. Mereka mewarisi watak keras, kasar, picik, dan agak pongah. Atas darah bangsawan dan juga perompak itulah mereka berhak menjadi raja-raja kecil, yang kelak terus diwariskan kepada anak-cucu.

Dijelaskan pula akan terjadinya bencana raya air laut yang menghantam kota dan meratakan sebagian besar bangunan di dekat pantai, serta ribuan orang akan hanyut dan mati dalam keadaan telanjang. Kemudian berdatanganlah para pencuri yang menyaru sebagai penyelamat dan mengaku hendak mengurusi mayat-mayat, yang ternyata menjarahi terlebih dulu emas dan perhiasan yang tertinggal di tubuh dan puing-puing rumah para korban.

Tak lama kemudian disusul orang-orang kafir yang membawa uang dan makanan, juga ajaran baru, yang menurut mereka keyakinan itu lebih cocok bagi penduduk negeri yang bodoh dan tungang ini. Sedangkan orang-orang tetangga, yang telah menembak banyak lelaki dan memperkosa perempuan-perempuan di kampung ini, tersenyum-senyum memandang dari kejauhan. Sesekali mereka menyeru, “Rasain bencana Tuhan!”

Begitulah yang tertulis di halaman 30 dan 32, yang membuatku sangat terperangah. Ini benar-benar aneh, apa yang tertulis dalam kitab itu memang sudah terjadi sekitar empat tahun lalu dan telah banyak orang yang melupakannya. Perihal inilah yang membuat aku yakin, bahwa kitab riwayat yang juga nubuat—yang menurut Almaun ditulis seorang ahli nujum raja perompak—adalah tidak diragukan lagi akan kebenarannya.

Tetapi, aku tak bisa lagi membaca halaman 38, 39, dan 40 sebagai lembaran terakhir, yang di situ dijelaskan siapakah yang akan memimpin negeri ini mendatang. Tulisan Arab-Melayu pada lembaran itu telah tertutup noda hitam, yang oleh Almaun dikatakan sebagai tumpahan kopi kentalnya.

“Tak usalah kau terlalu penasaran begitu,” ucapnya menggoda. “Raja kita mendatang tetaplah lanun buduk!”[]

- Aceh, 14 Oktober 2010.
READ MORE - Riwayat Para Rompak dan Nubuat Sang Raja

Minggu, 01 Mei 2011

Ukhti, Aku Cemburu

Penulis : Yuli Harmita

Apakah engkau melihat indahnya hari ini?
Seindah hatimu yang selalu engkau jaga

Ukhti,
tidakkah engkau tahu bahwa ada yang selalu cemburu?
Cemburu akan ketaatanmu pada-Nya
bahkan mungkin Dia lebih mencintaimu daripada aku
bahkan bidadari pun menaruh cemburunya pada setiap keshalihanmu

Ukhti, yakinlah bahwa setiap detik
setiap langkah bahkan setiap nafas
Allah begitu dekat dan selalu mengiringi perjuanganmu dengan ridha-Nya

"Dari aku yang selalu cemburu pada ketaatanmu"
READ MORE - Ukhti, Aku Cemburu

Bingkai Cinta

Penulis : Abi Sabila

Bukan satu atau dua kali, sudah seringkali Zul mendapat pertanyaan yang – hampir – sama dari belasan orang yang berbeda.

“Ini adik atau keponakan ya?”

Terakhir, pertanyaan ini diajukan seorang laki-laki yang tak sengaja bertemu di toko buku, seminggu yang lalu.

Sebenarnya, bisa saja Zul menjawab salah satunya, namun tak pernah ia berfikir mengkhianati darah dagingnya sendiri demi mengakhiri sebuah percakapan yang tak ia inginkan.

“Ini Zahra, putri pertama saya!“ Zul selalu bangga menyebut nama Zahra.

Zul sadar, dengan menjawab seperti itu, serangkaian pertanyaan berikutnya siap mengalir dari siapapun yang baru mengenalnya. Termasuk dari laki-laki berbaju biru yang sempat membuat Zul simpatik karena warna biru adalah warna kesukaannya. Sayang, tak jauh berbeda dengan yang lainnya, pertanyaan laki-laki inipun senada. Menikah di usia muda adalah sebuah kesalahan, keterpaksaan atas satu keadaan yang tak diinginkan. Begitu sempit cara pandang mereka, menyamaratakan satu kejadian dengan kejadian lain yang bukan saja berbeda orang, namun juga sebenarnya tak bisa disama-samakan. Astaghfirullah! Jika ada yang terpaksa menikah di usia muda untuk menutupi aib sang gadis yang terlanjur berbadan dua, sungguh itu bukan Zul dan Fahira.

Seperti bisa ditebak, ketika Zul mengatakan bahwa gadis kecil bermata indah bak permata itu adalah putri pertamanya, siapapun akan menjadi kaget karenanya. Zul hafal betul sederetan pertanyaan yang biasa diajukan terkait ia dan Zahra yang memang lebih pantas sebagai Oom dan keponakan dibanding sebagai bapak dan anak. Zul masih terlalu muda untuk mempunyai anak berumur sebelas tahun seperti Zahra. Tapi itulah kenyataannya, umur dua puluh satu tahun Zul menikah, dan setahun kemudian lahirlah Zahra, putri pertamanya yang memiliki wajah jelita seperti Fahira, gadis ayu berhati lembut yang memikat hatinya sejak kelas dua SMA.

Meski tak terhitung berapa kali Zul menceritakan episode awal pertemuannya dengan Fahira, namun ia tak pernah bosan melakukannya. Inilah episode terindah dalam hidupnya. Bertemu dengan orang yang saling menyinta, sama-sama sebagai cinta pertama. Dan bagi sebagian orang yang baru mengenal cinta setelah separuh perjalanan hidup ia jalani – seperti laki-laki ini – kisah cinta Zul memang tak mudah untuk dipahami.

Jangankan orang lain yang baru pertama kali bertemu, Zul ingat betul reaksi kedua orangtua dan kelima kakaknya ketika ia meminta ayah dan ibu untuk melamarkan Fahira, teman sekelas yang ternyata setelah lulus merantau ke kota yang sama. Bagi orang lain mungkin ini dianggap sebuah kebetulan, tapi bagi Zul dan Fahira ini adalah skenario yang telah Allah tuliskan untuk mereka. Subhanallah!

Meski tidak secara blak-blakan, Zul bisa menangkap keraguan ayah, ibu, dan saudara-saudaranya. Juga pihak keluarga Fahira, sempat menyangka rencana menikah mereka yang terkesan mendadak adalah karena satu sebab darurat? Astaghfirullah! Jika ada orang yang terburu-buru menikah, maka bagi Zul dan Fahira, pernikahan yang akan mereka jalani tidaklah karena tergesa-gesa, tapi segera melakukan setelah Allah mengabulkan do'a. Sebaliknya, jika ada orang yang selalu menunda-nunda karena merasa belum siap dan berbagai alasan lainnya, maka Zul dan Fahira berpendapat bahwa mereka lebih tidak siap lagi menghadapi besarnya godaan syetan yang memperalat cinta untuk menjerumuskan manusia. Apalagi yang harus dipersiapkan? Saling mencintai, saling menyayangi, saling mengerti dan berjanji untuk terus melakukannya meski ujian berumah tangga tak bisa mereka hindari, cukup menjadi alasan untuk segera menikah, meski sebagian orang meragukannya, namun dengan ridha Allah, mereka yakin dapat membuktikannya.

“Katanya, nak Zahra ini putri pertama. Apakah itu berarti dik Zul mempunya anak selain Zahra?” Rupanya laki-laki ini semakin penasaran, ingin tahu lebih dalam tentang Zul dan keluarga mudanya.

“Ya, betul! Alhamdulillah, sekarang saya sudah dinugerahi dua orang anak. Pertama Zahra, dan yang kedua Daffa, bulan depan usianya genap satu tahun.“

“Saya tidak melihat ibunya Zahra, apakah dia terlalu repot untuk ikut menemani dik Zahra jalan-jalan?”

“Mm…, tidak juga!” Meski Zul mulai merasa pertanyaan laki-laki ini mulai cenderung menyelidik ketimbang sekedar berbasa-basi, namun Zul tetap berusaha untuk menjawabnya seramah mungkin.

“Sejak Zahra lahir, istri saya sudah terbiasa mengurus anak sendiri. Baginya mengurus anak adalah sebuah kesibukan yang sangat ia nikmati. Kalaupun hari ini ia tidak ikut jalan-jalan, itu karena ia sedang menyelesaikan pesanan kue ulang tahun salah satu pelanggannya. Di tengah kesibukan mengurus keluarga, istri saya menerima pesanan kue dan penganan untuk berbagai acara. Alhamdulillah, hasilnya sangat membantu menghidupi keluarga kami,“ Zul melanjutkan.

“Oh iya, saya jadi ingat! Seminggu lagi Randy, putra saya akan merayakan ulang tahunnya yang kelima. Seperti tahun lalu, ia minta ulang tahunnya kali ini juga dirayakan secara meriah. Untuk kue ulang tahunnya saja, Randy minta dibuatkan kue yang benar-benar spesial, baik tampilan maupun rasanya. Beruntung kami tahu tempat yang tepat untuk mendapatkan kue ulang tahun seperti yang Randy inginkan. Sebentar, saya punya kartu namanya.“

Tanpa diminta, laki-laki ini mengeluarkan dompet, mengambil selembar kartu nama dan menyodorkan kepada Zul. Meski tak paham apa yang laki-laki ini inginkan, Zul akhirnya menerima kartu nama yang disodorkan kepadanya.

Meski ada kesan bahwa laki-laki ini ingin mengatakan bahwa sepandai apapun Fahira membuat kue, tidaklah lebih jago dibandingkan ahli kue langganannya, namun Zul tetap berusaha untuk tidak terpancing emosi. Membaca sekilas kartu nama yang kini telah berpindah ke tangannya, Zul hanya tersenyum. Ia hafal betul dengan desain kartu nama di tangannya, nama dan alamat yang tercantum di sana, ia hafal betul. Bahkan, ada puluhan kartu nama serupa tersimpan di laci mejanya.

“Bapak sudah pernah datang langsung ke rumah pembuat kue ini?” tanya Zul kemudian.

“Belum, untuk apa? Saya tinggal telfon dan pesanan diantar tepat pada waktunya. Pokoknya, langganan saya benar-benar bisa dihandalkan.“

“Betul juga sih, tapi tak ada salahnya juga Bapak sekali-sekali datang ke rumah pembuat kue ini, toh alamatnya tidak terlalu jauh dari sini. Sambil bersilaturrahim, bapak bisa memastikan apakah selain penampilan dan rasa, pembuat kue ini juga memperhatikan soal kebersihan,” Zul menyarankan.

“Mm... iya, ya! Selama ini saya tidak berfikir sampai ke sana. Baiklah, nanti saya akan telpon bahwa pesanan saya tidak perlu diantar, tapi kami yang akan mengambilnya sendiri. Dengan demikian, mereka tidak curiga bahwa sebenarnya kedatangan kami sekaligus untuk menyelidiki apakah mereka memperhatikan sisi kebersihan.”

“Sebaiknya memang demikian.“

***

Seminggu setelah pembicaraan di toko buku, tibalah hari ulang tahun Randy, putra tunggal laki-laki yang berulang kali membanggakan keluarganya di depan Zul. Keluarga mapan yang dibangun setelah usia mereka dewasa, menginjak kepala tiga, bukan sebuah keluarga yang dibangun di usia muda, seperti yang dilakukan Zul dan Fahira. Sungguh, seandainya laki-laki itu tahu siapa yang akan ia datangi pagi ini, maka ia akan menahan semua kata-katanya, atau bahkan menarik yang sudah terlanjur ia ucapkan dengan angkuhnya.

Sebenarnya Zul sama sekali tak bermaksud ‘menjebak’ laki-laki itu, tapi kebetulan Fahira harus pergi ke luar kota, ada acara pelatihan ibu-ibu PKK dan ia diminta mengajari mereka membuat kue di sana. Sebelum pergi, Fahira kembali mengingatkan bahwa kue ulang tahun berukuran jumbo itu tidak perlu diantar, karena sang pemesan akan mengambilnya sendiri. Kemarin ia telah mengkonfirmasi melalui telepon. Zul tahu bahwa yang Fahira maksudkan adalah laki-laki yang bertemu dengannya seminggu yang lalu di toko buku, tapi Zul tak berniat memberi tahu Fahira. Biarlah laki-laki itu yang akan mengambil pelajaran, tak perlu Fahira tahu bahwa laki-laki itu telah memandang sebelah mata terhadap rumah tangganya, bahkan mengisyaratkan kecurigaan bahwa perkawinannya dilakukan karena alasan darurat.

Tepat pukul delapan, persis seperti yang disampaikan Fahira, sebuah mobil sedan warna hitam mengkilap memasuki halaman rumah Zul. Zul yang mengintip dari balik jendela di lantai dua bisa melihat jelas seorang laki-laki yang keluar dari mobil mewah itu. Tak lama kemudian, seorang bocah keluar dari dalam mobil dan berlari kecil ke arah sang ayah. Laki-laki itu yang kemarin bertemu di toko buku, dan bocah itu adalah Randy. Tiba-tiba Zul merasa gugup. Sungguh, ia tak bermaksud menjebak siapapun, meski laki-laki itu akhirnya harus merasa malu atas semua ucapannya.

“Assalamu’alaikum, selamat pagi, Pak!” sapa Zul ramah.

Laki-laki yang sedang duduk di teras rumah terkejut demi melihat Zul sudah berdiri tak jauh darinya. Ia terlalu asyik melihat foto-foto kue yang terletak di meja hingga tak menyadari kehadiran Zul.

“Wa’alaikum salam,” agak tergagap laki-laki ini menjawab.

“Sepertinya kita pernah bertemu, kalau tidak salah seminggu yang lalu di toko buku. Ya, di toko buku. Apakah dik Zul memesan kue juga di sini?” laki-laki ini kembali menunjukan sifat aslinya, sulit menempatkan orang lain lebih tinggi darinya.

“Oh tidak! Saya tidak memesan kue di sini. Kapanpun saya mau, saya tinggal minta dibuatkan langsung kepada ahlinya.”

“Maksudnya?"

“Pembuat kue yang Bapak pesan, adalah istri saya.“

Tak banyak kata yang Zul ucapkan, tapi butuh waktu cukup lama bagi laki-laki ini untuk menetralisir kegugupannya.

***

Adalah Zul, meski tak jarang orang memandang curiga dengan pernikahan dini yang dilakukannya, bahkan tak sedikit yang mengira bahwa menikah di usia muda karena tak kuasa menahan dorongan nafsu belaka, sangat rentan dengan perpecahan, namun itu tak memberikan alasan untuk ia terpancing emosi atau membantah habis-habisan. Cukup ia dan Fahira yang tahu, kedua belah pihak keluarga, dan yang terpenting adalah Allah Yang Mahatahu segalanya.

Seperti halnya maut dan rejeki, maka jodoh adalah juga sebuah misteri. Tak ada batasan yang pasti kapan harus menikah. Ketika tiba masanya, meski masih terhitung muda, jodoh datang tanpa seorangpun bisa meminta ataupun menolaknya. Apa yang dijalani Zul dan Fahira, adalah kehendak Allah yang telah tertulis sebelum keduanya terlahir ke dunia. Ketika teman seusianya masih sibuk dengan gemerlap dunia dan hiruk pikuk gejolak muda, Zul dan Fahira telah mengambil keputusan membina sebuah rumah tangga berdasarkan saling mencintai, menyayangi, dan mengerti. Ketika kaum muda di luar sana terjebak gejolak nafsu membara, terperangkap dalam rasa takut dan hasrat muda, maka Zul dan Fahira bisa menikmati cinta yang sesungguhnya dalam bingkai rumah tangga yang menghalalkan mereka melakukannya kapanpun mereka mau, tanpa rasa takut dan ragu.

Dan bila Allah telah meridhai, maka keberkahanpun akan terus turun, sepanjang mereka bisa menjaga kesucian cinta yang mereka ikrarkan bersama.

Wallahu a'lam.

Sumber Kota Santri
READ MORE - Bingkai Cinta

Sabtu, 30 April 2011

Menulis Dalam Kemacetan, Mungkinkah?

Menulis dalam kemacetan, apa mungkin? Seorang peserta bertanya kepada pak Dedi Dwitagama yang sedang memberikan presentasi creative writing di ST Inten, Dago Bandung. Lalu pak Dedi pun menjawab, kenapa tidak? Di saat Jakarta atau Bandung yang kemacetanannya luar biasa, kita bisa menulis dengan menggunakan handphone atau hp. Dengan hp, kita bisa menulis kapan saja, dan dimana saja. Apalagi bila kita memiliki blog pribadi yang di link ke facebook dan twiter, pasti akan banyak orang yang membaca tulisan kita itu.

1304006094717953619

Kemacetan itu sendiri bisa menjadi ide menulis, kita bisa ceritakan kepada pembaca kemacetan yang dialami. Dari situ anda akan memberikan informasi kepada para pembaca bahwa di jalan yang anda lalui terjadi kemacetan.Bisa jadi itu kemacetan total.

Tentu bagi orang lain yang membaca tulisan anda itu, mereka akan berusaha untuk tidak melalui jalan yang anda lewati. Setidaknya anda bisa memberikan info saat ini melalui dunia maya. walaupun sebenarnya, saat ini sudah banyak radio dan televisi yang menyiarkannya secara langsung. Tetapi, orang lebih senang membaca berita dari seorang blogger saat ini, ketimbang media arus utama.

Menulis di saat macet memang asyik. Apalagi bila kita naik angkutan umum. Tentu kita bisa menulis dengan cepat apa yang kita lihat. Dari apa yang kita lihat itu kita akan dapatkan ide tulisan. Tulisan itu tentu akan bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.Apalagi bagi mereka yang haus akan informasi.

Bagi siapa saja yang kreatif dalam menulis, dimanapun dia akan bisa menulis. Apalagi saat ini peralatan elektronik sudah semakin canggih saja. Orang bisa berkicau dengan cepat di twitter, dan orang bisa bernarsis diri dengan facebooknya. Kalau anda memiliki blog pribadi, dan anda menjadi blogger yang selalu eksis anda tentu akan menulis setiap hari. Dengan menulis setiap hari, seolah-olah anda mengatakan kepada pembaca bahwa anda masih hidup saat ini. Ada pesan yang anda sampaikan. Menulispun menjadi sebuah kebutuhan.

Mas Ketut Suweca mengatakan I love Writing, kalau anda suka dunia tulis menulis, kemacatan ibu kota jakarta menjadi ide tersendiri. Anda bisa iseng-iseng menulis tentang pengamen jalanan, dan mencoba menghitung berapa penghasilannya tiap hari. Anda pun akhirnya menjadi jurnalis warga. Anda akan berusaha mencari tahu penghasilan seorang pengamen dari mewawancarainya. Syukur bila anda memiliki hp yang ada kameranya, anda bisa memfoto para pengamen itu lengkap dengan gayanya.

Saya sendiri pernah melakukan itu ketika hendak ke blok M. Saya menuliskan kisah seorang pengamen buta yang saya temui diatas bus mayasari Bakti 57. Tulisan itu saya posting, di kompasiana, dan alhamdulillah mendapatkan hadiah dari kompasiana.com. Banyak orang yang membaca tulisan saya itu, bahkan ada seorang wartawan dari media cetak yang menelepon saya, dan bertanya dimana mereka dapat menemukan pengamen buta itu. Sebab mereka sangat tertarik dengan gaya pengamen itu ketika menyanyi.

Dari menulis iseng di kemacetan, bila kita kreatif, dan nothing tulus saja dalam menulis, akan mendapatkan apresiasi dari orang lain yang luar biasa. Anda pasti bisa juga seperti saya, sebab menulis pada hakekatnya menyampaikan pesan, dan mengajak orang untuk berbicara kepada anda. Jadi rasakan saja menulis seperti anda berbicara kepada orang lain.

So, jadi jangan bingung lagi bila anda terjebak dalam kemacetan. Ambil hp anda, dan jadilah jurnalisme warga. Jepret keadaan di sekitar anda dan sebarkan dalam dunia maya. Foto yang dibuat oleh anda akan semakin lebih hidup bila anda mampu menuliskannya dengan cara-cara sederhana. Tak usah harus begini ,dan begitu yang mengakibatkan anda menjadi ragu dalam menulis.

Tuliskan saja apa yang ada di pikiran, dan sebarkan apa yang anda lihat. Dengan begitu anda sudah bermanfaat buat orang lain. Sepanjang niat anda untuk berbagi, pastilah akan ada orang yang mengapresiasi tulisan anda itu. I love writing harus menjadi moto hidup kita dan biasakan menulis di mana saja anda berada.

Ngomong-ngomong, lagi kena macet gak hari ini?

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com
READ MORE - Menulis Dalam Kemacetan, Mungkinkah?

Ketika Ide Menulis Macet

Setiap blogger pasti mengalami kemacetan dalam menulis. Cara yang paling efektif ketika ide menulis macet adalah banayk membaca dan segera menulis apa yang telah dibacanya. Dengan begitu, otak diajak berolah raga untuk mengulang kembali apa yang dibaca. Hal itu sering saya lakukan, dan termasuk juga pagi ini setelah membaca kompas Minggu, 1 Mei 2010.

Saya membaca kompas anak. Di halaman 29 itu ada seorang anak yang mengirimkan pengalamannya berjualan kue donat. Dia tak menyangka, hasil tabungannya dapat dimanfaatkan untuk menyalurkan ide bisnisnya berjualan donat. Awalnya, ide itu terlahir dari melihat kemampuan ekonomi orang tuanya. Ayahnya tukang tambal ban, dan ibunya seorang guru yang bergaji kecil. Gaji mereka belum cukup untuk membiayai 2 orang anak. Saya pun terharu, karena kedua anaknya itu adalah anak yang kreatif. Mereka tak menjadi anak manja. Hasil tabungan lebaran mereka yang sebesar Rp. 100.000,- itu mereka pergunakan untuk modal dagang berjualan kue donat.

Ibu mereka membuat kue donat, dan ayah mereka membantunya dengan perasaan bahagia. Keluarga itupun akhirnya berjualan donat, dan terus meningkat penghasilannya karena donat yang dijual sangat enak rasanya. Perekonomian merekapun akhirnya terbantu, dan mereka berbahagia dengan berjualan donat.

Kisah lain saya baca di kompas minggu hal 18. Seorang sarjana S2 kesulitan mencari kerja. Umurnya telah 40 tahun lebih, dan rasanya sulit bagi umur setua itu untuk mencari pekerjaan. Padahal sudah banyak uang orang tuanya dipakai untuk membiayai kuliah anaknya itu sampai selesai kuliah di pasacasarjana. Singkat cerita, akhirnya si anak sadar bahwa ijazah S2nya tak akan membantunya kalau dia tak berwirausaha. Maka dibukanyalah rumah kost putri untuk menambah biaya hidup mereka. Dari berwirausaha kecil-kecilan itulah jiwa wirausahanya tumbuh dan mulai berani mengambil keputusan untuk berwirausaha.

Saya mengambil pelajaran dari 2 kisah di atas. Satu kisah dialami oleh anak smp, dan satu kisah lagi dialami oleh lulusan S2. Bedanya adalah anak smp cepat mengambil peluang dengan mengumpulkan uang lalu segera berjualan donat. Sedangkan lulusan S2 terlalu banyak berpikir dan membaca buku-buku wirausaha

Dari 2 kisah di atas, ide menulis yang tadinya macet menjadi lancar karena mendapatkan ide dari membaca. Jadi orang yang lahap membaca tak akan pernah kehabisan ide untuk menulis. Ada saja ide segar yang mengalir begitu saja.

Ketika ide mwnulis macet segeralah mencari informasi dengan banyka membaca atau bersilahturim. Dari silahturahim itu kamu bisa menceritakan perjalanan kamu hari ini. Banyak berjalan akan semakin banyak dilihat.

Akhirnya 2 tulisan di kompas cetak hari ini telah melancarkan ide menulis saya yang semula macet. Sekolah tinggi dan wirausaha telah memberi pembelajaran penting bahwa pendidikan tinggi tidak menjamin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Sebaliknya bila kitam mau berusaha dengan jualan donat akan dapat memenuhi kebutuhan keluarga. Meskipun ide itu terlahir dari seorang siswa kelas viii smp di ponorogo.

Salam blogger persahabatan
Omjay
http://wijayalabs.com
READ MORE - Ketika Ide Menulis Macet

Minggu, 17 April 2011

Menulis Dengan Modal Nekat

“Saya sudah banyak menulis di buku harian, juga di blog. Tetapi, hingga kini masih saja saya nggak pede menulis untuk koran atau majalah. Bagaimana mengatasinya?”

Ada sahabat yang merasa tak percaya diri, masih ragu-ragu, masih merasa belum pantas menulis ke media cetak seperti ke koran atau majalah. Perasaan seperti itu menyebabkan ia tidak berani mengirim artikelnya. Ia khawatir, jangan-jangan tulisan itu menjadi bahan tertawaan, ditolak, dan sebagainya, sehingga jadi malu. Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan?

Menulis itu memerlukan kepercayaan diri yang besar, termasuk untuk mengirimkannya ke media cetak. Pertama, yang diperlukan adalah meningkatkan pengetahuan. Caranya, antara lain dengan secara berkesinambungan menambah pengetahuan melalui buku-buku dan sumber lainnya yang berguna. Kedua, berlatih dan berlatih menulis terus-menerus. Contoh saja balita yang belajar berdiri, ia berusaha berdiri, jatuh, berdiri lagi, jatuh lagi, berdiri lagi dan begitu seterusnya hingga pada akhir ia bisa berdiri, bahkan kemudian berjalan. Mungkin kita perlu menghayati peran seperti seorang bayi yang belajar berdiri dan berjalan tatkala tengah mengembangkan kemampuan menulis. Menulis lagi, kirim, ditolak, menulis lagi, kirim, begitu seterusnya hingga suatu saat redaksi mengalah dan memuat karya kita. Redaksi mengalah, bukan karena dia bosan atau kasihan sehingga menerima kiriman naskah kita, melainkan lantaran dia mulai melihat betapa berbobot naskah yang kita kirim kepadanya. Nah, kalau sudah seperti ini, siapa yang tidak mau?

Rasa tidak percaya diri itu adalah faktor psikologis yang dapat mengganggu perjalanan karier kita. Dia menjadi faktor penghambat/penghalang kemajuan di dalam bidang apa pun. Oleh karena itu, penting sekali mendongkrak rasa percaya diri dengan mengasah kemampuan di bidang yang diminati, bertekun di dalamnya, dan berkarya. Tidak ada pilihan lain. Tidak akan ada hasil apa-apa kalau kita tidak berkarya nyata. Mimpi menjadi penulis pun akan tinggal mimpi saja kalau kita tidak membuatnya menjadi realita. Belakangan baru akan muncul penyesalan dengan menyalahkan diri sendiri, mengapa telah menyia-nyiakan waktu hanya untuk mengkhayal menjadi penulis sukses tanpa dibarengi tindakan nyata sama sekali. Bermimpi itu penting sekali, bertindak juga penting. Mimpi memberikan arah, tindakan mewujudkannya.

Ketika pertama kali menulis untuk media cetak tahun 1984, saya tidak berpikir macam-macam. Saya tulis saja sebisa saya, lalu saya kirim. Saya tidak merasa malu kalau misalnya tulisan itu tidak dimuat. Saya juga tidak akan tersinggung kalau naskah saya ditolak. Enjoy saja, tulis saja, kirim saja. Persoalan dimuat atau tidak itu melulu urusan redaksi, bukan urusan saya. Urusan saya sebagai penulis hanya menulis dan menulis.

Saya menyadari, bagi sahabat yang belum pernah menulis untuk media cetak seperti koran, majalah, tabloid, tentu ini akan terasa berat, seperti orang yang dipaksa melewati sebuah kuburan sepi di tengah malam. Tetapi, setelah dilakukan kendati dalam kekhawatiran yang sangat, dan ternyata tak kenapa-kenapa, maka langkah selanjutnya menjadi lebih mudah, bahkan jauh lebih mudah. Pekerjaan itu, dalam banyak hal, ternyata lebih berat dipikirkan daripada dikerjakan. Yang pertama terasa berat, selanjutnya menjadi mudah, bahkan mengasyikkan, he he he.

Kalau dengan begini belum juga berani menulis, maka pakai modal nekat. Nekat? Ya, nekat menulis sebaik mungkin. Nekat mengirimkan tulisan itu ke media cetak. Nekat menulis lagi tanpa henti. Nah, senjata nekat itu dapat dipakai oleh sahabat para calon penulis atau penulis pemula. Tulis dan kirim saja. Redaksi juga manusia, kan? Jadi, tidak perlu ada yang ditakutkan.

“Suatu saat kamu perlu untuk tidak memikirkan kesuksesan atau kegagalan. Jangan biarkan hal tersebut mengganggu dirimu. Yang harus kamu kerjakan adalah menulis dan menulis hari demi hari. Kamu harus siap mental menghadapi kesalahan dalam tulisanmu yang sulit dihindari, dan siap menerima kegagalan,” nasehat Anton Chekov kepada para calon penulis.

Selamat menulis. Kabarkan kepada saya kalau Anda sudah berani mengirimkan naskah ke media, dimuat atau tidak, bukan masalah.

Sampai jumpa pada serial berikutnya. Salam.
READ MORE - Menulis Dengan Modal Nekat

Rabu, 30 Maret 2011

Mari Membaca

Bacalah!

Membaca, merupakan investasi masa depan. Tak terhitung banyak kebaikan akan diperoleh seseorang melalui bahan bacaan. Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin memerintahkan ummatnya untuk membaca. Bacalah! Demikian perintah Allah yang pertama diturtunkan kepada hamba-Nya yang termaktub dalam Al Quran.

Sejarah kemudian pun mencatanya. Semua tokoh-tokoh besar baik dari kalangan Islam maupun non Islam, mereka menjadi hebat karena kegemarannya untuk membaca telah terpupuk sejak dini. Imam Syafi’i, terkenal sebagai pembaca yang luar biasa. Dalam usia yang masih sangat muda, baru berumur 10 tahun, sudah tak terhitung banyak bacaan yang dilahapnya. Bahkan bacaan yang dianggapnya penting diulang berkali-kali, sampai hafal.

Kegiatan membaca paling menjanjikan bagi perkembangan mental, intelektual dan spiritual seorang anak. Selain sebagai mendapatkan berbagai pengetahuan dan wawasan, membaca juga berfungsi sebagai salah satu sarana komunikasi dan pembelajaran hidup. Semakin sering anak berkomunikasi dengan membaca, semakin banyak wawasan dan pengetahuan yang didapatnya.

Dengan berkomunikasi sangat penting bagi pengembangan kepribadian manusia. Di tengah keberhasilan pemerintah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, salah satu masalah yang masih terlihat adalah mengenai minat baca anak. Untuk itu dengan niat tulus Bacaan Cemerlang ini hadir guna melengkapi apa yang terasa masih kurang. Kami akan berupaya agar menjadi media cetak yang langsung dapat hadir ditengah keluarga di rumah.

Usia anak adalah periode yang sangat menentukan kualitas seorang manusia dewasa nantinya. Saat ini masih terdapat perbedaan dalam penentuan usia anak. Menurut UU no 20 tahun 2002 tentang Perlindungan anak dan WHO yang dikatakan masuk usia anak adalah sebelum usia 18 tahun dan yang belum menikah. American Academic of Pediatric tahun 1998 memberikan rekomendasi yang lain tentang batasan usia anak yaitu mulai dari fetus (janin) hingga usia 21 tahun.

Batas usia anak tersebut ditentukan berdasarkan pertumbuhan fisik dan psikososial, perkembangan anak, dan karakteristik kesehatannya. Usia anak sekolah dibagi dalam usia prasekolah, usia sekolah, remaja, awal usia dewasa hingga mencapai tahap proses perkembangan sudah lengkap.

Anak usia sekolah baik tingkat pra sekolah, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah menengah Atas adalah suatu masa usia anak yang sangat berbeda dengan usia dewasa. Di dalam periode ini didapatkan banyak permasalahan kesehatan yang sangat menentukan kualitas anak di kemudian hari. Masalah kesehatan tersebut meliputi kesehatan umum, gangguan perkembangan, gangguan perilaku dan gangguan belajar. Permasalahan kesehatan tersebut pada umumnya akan menghambat pencapaian prestasi pada peserta didik di sekolah. Sayangnya permasalahan tersebut kurang begitu diperhatikan baik oleh orang tua atau para klinisi serta profesional kesehatan lainnya. Pada umumnya mereka masih banyak memprioritaskan kesehatan anak balita.

Penelitian Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS), yaitu studi internasional dalam bidang membaca pada anak-anak di seluruh dunia yg disponsori oleh The International Association for the Evaluation Achievement. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa rata-rata anak Indonesia berada pada urutan keempat dari bawah dari 45 negara di dunia.

Secara umum di Indonesia konsumsi satu surat kabar untuk empat puluh lima orang (1:45) sedangkan di negara tetangga seperti Srilangka sudah 1:38 dan Filipina 1:30. Padahal, idealnya satu surat kabar dibaca oleh sepuluh orang atau 1:10. Beberapa ahli ada yang menyatakan bahwa saat ini anak Indonesia baru sampai pada gemar mendengar atau melihat dan belum sampai pada taraf gemar membaca. Kebiasaan membaca pada anak akan semakin memprihatinkan dengan datangnya media elektronik yang semakin menjamur.

Serbuan media elektronik tersebut di antaranya adalah televisi, play station, handphone, internet, dan permainan elektronik lainnya. Meski media informasi dapat diberikan melalui internet dan handphone tetapi kualitas dan kuantitias informasi berbeda. Berbagai media elektronik tersebut cenderung lebih menarik dibandingkan dengan membaca koran atau mebaca buku. Apalagi dengan alat elektronik tersebut anak dan remaja Indonesia pasti akan lebih tertarik dengan fasilitas game ataupun musik dibandingkan dengan asupan informasi.

Media elektronik yang satu ini mempunyai andil yang tidak kecil dalam menghambat perkembangan media cetak, terutama koran dan buku. Meskipun demikian, koran hingga saat ini masih tak bisa dengan mudah tergantikan. Sayangnya, saat ini sangat terbatas sekali media surat kabar untuk mememenuhi kebutuhan minat baca anak dan remaja Indonesia.

Semua ide, hipotesa, konsep, gambar, video, dan berita yang kami sajikan di sini adalah milik sumber masing-masing pemilik. Bacaan Cemerlang tidak memegang hak cipta secara khusus. Kami hanya menganggap bahwa penulisan yang dilakukan adalah sebuah karya yang dibuat berdasarkan gabungan informasi, berita, opini, pendapat dan beberapa referensi sangat penting untuk disampaikan pada anak dan remaja Indonesia yang haus akan informasi serta untuk meningkatkan minat bacanya.

Semua artikel dan penulisan telah dikumpulkan dari berbagai sumber publik, berbagai situs dan berbagai referensi lainnya. Beberapa referensi kadang ada yang tidak jelas sumbernya dan sulit diketahui sumbernya atau kadang diberi label anonym. Mengingat berbagai karakter tersebut berada dalam domain publik dan milik publik, maka jika ada pihak atau seorang yang keberatan untuk menampilkan gambar apapun dan berita, mohon hubungi ke redaksi kami di alamat email ibnuwsp@gmail.com. Kalau memang benar hal itu adalah hak miliknya dan tidak disetujui untuk ditampilkan dalam koran ini kami akan segera menghentikannya. Bila tidak ada keberatan di redaksi kami, kami menganggap pihak tersebut telah menyetujuinya. Karena kami kesulitan meminta ijin satu persatu kepada pemilik hak ciptanya.

Kami maklum bahwa upaya dan niat mulia Bacaan Cemerlang masih disertai adanya beberapa pihak yang tidak senang atau kurang mendukung pemberian informasi pada anak dan remaja Indonesia. Bila itu terjadi, kami mohon maaaf dan mohon menyampaikan kritik membangun bukan dengan cara mendiskriditkan. Marilah bersama membangun dan menciptakan media informasi yang berkualitas dan bermanfaat demi pengetahuan dan wawasan anak dan remaja Indonesia.
READ MORE - Mari Membaca

Muhammad Akbar Ajiansah, Sudah Tiga Bulan Tinggalkan Rumah



LANGSA : Muhammad Akbar Ajiansah, 14, siswa kelas VI SD Muhammadiyah, Kota Langsa, sudah tiga bulan pergi meninggalkan rumah. Ibundanya, Afrida, sekarang jadi gelisah karena tidak tahu kemana anaknya itu harus dicari.

Dengan membawa selembar pasphoto anaknya itu, Afrida, mendatangi Waspada, Minggu (20/3) minta bantuan agar kehilangan Muhammad Akbar Ajiansah tersebut dapat diberitakan. Harapannya tidak lain, agar siapa saja pembaca Waspada yang pernah melihatnya agar tergerak hati mereka untuk memberi tahu di mana Akbar berada.

Menurut Afrida, kondisi Akbar sejak ayahnya tidak ada lagi memang agak tertinggal dalam berpikir, sehingga ada kemungkinan dia diajak orang untuk meminta-minta. Afrida yang sehari-hari berjualan kain di pasar Langsa, tidak tahu siapa yang mengajaknya dan kemana dia dibawa, ada orang bilang kepadanya pernah melihat sekali di salah satu Mall di Kota Medan.

Afrida, sekarang sangat berharap jika ada orang yang melihat dimana Akbar berada agar dapat memberi informasi langsung kepadanya melalui nomor Hp. 0821 7000 5496. Karena untuk mencari langsung ke sejumlah tempat pihaknya tak sanggup, selain tidak ada biaya, dia juga tidak berani berpergian seorang diri.

Saat pergi meninggalkan rumah sekitar akhir Bulan Desember tahun lalu, katanya, Muhammad Akbar Ajiansah mengenakan baju kaus warna lila dan celana ponggol coklat. Dan kalau sekarang dia bisa ditemukan, Afrida juga berharap agar dia bisa mengikuti pelajaran lagi di sekolah yang sebentar lagi akan menempuh ujian akhir.
READ MORE -