Lazada Philippines

Kursus Bahasa Inggris Kilat

Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Januari 2011

Mau Terkenal dan Kaya ? Menulislah !!

Mengapa Menulis?

Pernahkah Anda memiliki keinginan untuk dikenal orang banyak, memiliki rumah sendiri, memiliki mobil bagus, juga jalan-jalan ke berbagai kota bahkan negara? Semua itu hanya bisa diwujudkan dengan bekerja keras. Salah satunya dengan menulis. Mengapa? Menulis juga salah satu kegiatan yang menghasilkan uang, dan bisa dijadikan profesi. Artinya menulis bukan lagi sekedar hobi.

Banyak penulis yang kemudian menjadi terkenal dan kemudian kaya raya. Kalau di Indonesia, kita mengenal Habiburrahman El Sirazy, Andrea Hirata, Ayu Utami, dan lain-lain. Di luar negeri, misalnya ada Dan Brown dan JK Rowlling. Sebelum menulis, nama-nama itu bukan siapa-siapa. Mereka bukan orang terkenal.

JK Rowling, misalnya, sebelumnya hidup sangat sederhana. Untuk menghemat listrik di rumahnya, ia memilih menulis di kafe. Tapi, tahukah Anda berapa kekayaan JK Rowling kini? Sungguh fantastis: US $ 1 miliar! Ia menjadi salah satu orang terkaya di Inggris, bahkan di dunia. Asyik kan? Anda mau? Pasti mau dong. Saya juga mau. Kalau mau, mengapa tidak langsung memulai menulis?

Kerja Keras

Tapi, sukses tidak didapatkan secara simsalabim abrakadabra. Semua perlu proses. Semua perlu ketekunan, semangat untuk belajar, semangat untuk maju, tak kenal menyerah, dan terus kerja keras. Sejumlah penulis terkenal dan penulis laris kini tidak mendapatkan kesuksesan itu secara spontan.

Dan Brown telah menulis sejumlah buku, tapi baru buku keempat yakni “The Davinci Code” yang laris. Setelah itu, buku-buku dia sebelumnya juga ikut laris. Tapi ada pula yang buku pertama langsung laris, seperti JK Rowling dengan buku Harry Potter. Namun, proses menulisnya sangat panjang. Novelnya itu baru terbit lima tahun setelah ditulis. Sebelumnya, novel ini 14 kali ditolak penerbit. Bayangkan!

Seandainya JK Rowling tidak punya semangat untuk maju dan tahan banting, pasti ia tidak akan menjadi seperti sekarang dan besar kemungkinan naskah buku itu hanya menjadi tumpukan arsip atau masuk gudang.

Novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman pun tidak langsung laris ketika terbit. Menurut Hanik dari Penerbit Republika, novel itu baru laris lebih setahun kemudian. Dan sebelum novel AAC, Habib sudah menulis sejumlah karya seperti Bercinta untuk Surga, Pudarnya Pesona Cleopatra, Di Atas Sajadah Cinta, Dalam Mihrab Cinta, serta Ketika Cinta Bertasbih.

Kenapa Laris?

Coba perhatikan, semua novel laris menyajikan sesuatu yang berbeda. Mereka menyajikan sesuatu yang baru. Sesuatu yang unik dan mendalam. Atau menyajikan cara pandang berbeda terhadap sebuah persoalan, yang belum pernah dilakukan orang. Tengok Harry Potter, The Davinci Code, Laskar Pelangi, dan Ayat-Ayat Cinta. Khusus Ayat-Ayat Cinta sebetulnya idenya sudah biasa, tapi ditulis dengan cara yang lain, yang sangat berbeda dari novel-novel yang pernah ada sebelumnya. Ia memasukkan nuansa relegiusitas ke dalam novel itu.

Selain itu, novel ini terdongkrak karena sejumlah hal. Pertama, kala itu sedang maraknya novel yang memamerkan paha dan dada, sehingga pembaca membutuhkan bacaan lain yang berbeda. Sejumlah kalangan menolak novel semacam itu, lalu Ayat-Ayat Cinta diyakini mampu menjawab kegelisahan itu.

Kedua, Habiburrahman datang dari komunitas yang jumlah anggotanya cukup besar (sekitar 5 ribu orang) yakni Forum Lingkar Pena (FLP). Dengan promosi dari mulut ke mulut di antara anggota saja, novel itu sudah laris di kalangan mereka sendiri. Itu ditambah lagi dengan promosi dari mulut ke mulut ke luar komunitas, sehingga membuat orang jadi penasaran untuk membacanya. Ketiga, seperti halnya Laskar Pelangi, novel itu menggunakan jasa Event Organizer untuk mempromosikannya.

Bagaimana Memprediksi Novel Bakal Laris?

Saya pernah melontarkan pertanyaan ini kepada seorang editor senior Penerbit Grasindo, Pamusuk Eneste. Tahukah Anda apa jawaban Pamusuk yang juga sastrawan itu? Ia mengatakan, “penerbit tidak tahu bahwa novel itu bakal laris.” Intinya, tidak ada rumus seperti apa novel laris. Terpenting, tulislah sesuatu yang baru, sesuatu yang berbeda, sesuatu yang unik, lugas dan mendalam.

Selain hal di atas, saya mencoba memperhatikan sejumlah karakter lain dari novel laris itu. Pertama, ceritanya menyentuh dan menggugah emosi, entah itu perasaan senang, bahagia, sedih, prihatin, dan seterusnya. Kedua, menampilkan hal-hal yang dramatik dan penuh ketegangan, sehingga pembaca penasaran ingin terus mengikuti cerita. Ketiga, mampu memberi inspirasi tertentu kepada pembaca sehingga pembaca terdorong untuk lebih maju atau menjadi peduli pada sesuatu. Keempat, trend pasar.

Ketika novel Ayat-ayat Cinta meledak di pasar, banyak judul novel yang mirip-mirip Ayat-Ayat Cinta bahkan muncul nama yang menggunakan El, termasuk cover novel yang mirip novel laris itu. Pada masa ini banyak sekali terbit novel bernapaskan islami, meski oleh salah satu penerbit tak dibarengi mutu, tapi saat itu memang novel-novel islami sedang booming dan kemudian surut.

Tapi menurut penerbit trend pasar tak bisa ditebak. Pasar punya logikanya sendiri. Seorang penulis atau penerbit tidak tahu apakah novel yang akan diterbitkan kelak laku keras dan menjadi trend atau biasa saja penjualannya. “Terpenting tugas menulis adalah terus berkarya. Karya yang bagus dan bisa diterima masyarakat pasti akan mendapat apresisi,” kata editor senior Grasindo, Pamusuk Eneste.

Modal Menulis

Modal utama menulis adalah membaca. Pater Bolsius mengatakan, “if you don’t read, you don’t write”. Jika Anda tidak punya kebiasan membaca, Anda tidak bisa menulis. Tokoh lain ada yang mengatakan, Anda tidak akan menjadi penulis yang baik jika Anda bukan pembaca yang baik. Dalam menulis, Anda tidak hanya bisa mengandalkan imajinasi. Anda perlu pengetahuan, data-data dan fakta-fakta, teori-teori dan gagasan pendukung, juga pelecut gagasan. Kadang gagasan lahir dari membaca sesuatu, meski hasilnya sama sekali tidak berkait dengan apa yang kita baca.

Selain itu, membaca adalah metode belajar paling efektif. Bagaimana Anda mengetahui bahwa puisi Anda bagus, jika Anda tidak pernah membaca puisi-puisi bagus di koran-koran terkemuka atau puisi milik para penyair bagus. Bagaimana Anda tahu novel Anda mengandung kebaruan, jika Anda tidak pernah membaca novel lain. Jangan-jangan apa yang Anda tulis sudah banyak sekali ditulis orang. Tapi Anda tidak tahu, karena tidak pernah membacanya.

Menulis itu Berpikir

Menulis itu tidak sekedar untuk menumpahkan isi hati atau imajinasi, tapi juga berpikir. Dengan menulis, Anda akan dilatih berpikir dan terus berpikir. Robert Pinckret, dalam bukunya The Truth About English, “writing is thinking. If you can’t think you can’t write. Learning to think”. Menulis adalah berpikir. Kalau Anda tak bisa berpikir, Anda tak bisa menulis. Belajar menulis berarti belajar berpikir.

Tidak heran, banyak orang menjadi pintar karena menulis. Tapi banyak juga orang pintar yang tidak menulis. Sehingga kepintarannya tidak pernah muncul ke permukaan. Jadi, sepintar apa pun Anda, kalau tidak pernah mengungkapkan gagasan atau kepintaran Anda kepada publik (lewat tulisan salah satunya), Anda tidak akan menjadi siapa-siapa alias hanya menjadi sosok biasa saja.

Pantang Menyerah

Pekerjaan apa pun jika dilakukan dengan sikap cengeng pasti tidak pernah berhasil. Contohnya, jika Anda ingin pergi ke suatu tempat, tapi di jalan Anda terus-menerus mengeluh capek, panas, dan sebagainya, pasti Anda tidak akan sampai ke tempat tujuan. Jadi jangan cengeng. Hidup harus selalu optimis. Selalu ada jalan di depan. Selalu ada cahaya di seberang bukit. Songsonglah cahaya itu meski harus berlari-lari. Jika terjatuh, segera bangun, dan berlari lagi.

Naskah Harry Potter pernah 14 kali ditolak penerbit, tapi karena JK Rowling tidak cepat menyerah membuatnya berhasil. Dulu, saya juga berpuluh-puluh cerpen dan puisi-puisi saya ditolak koran, jika saya cengeng tentu saya tidak akan duduk bersama Anda pada hari ini. Saya pasti tidak akan menjadi penulis.

Jadi, jangan langsung “patah hati” ketika karya kita ditolak koran atau penerbit. Baca ulang karya itu, bandingkan dengan karya orang lain, jika terasa masih ada kurang, lakukan perbaikan. Minta pula masukan dan pendapat orang, terutama yang mengerti tentang tulisan Anda. Gandakan (fotocopy) beberapa eksemplar naskah Anda dan berikanlah kepada orang-orang yang Anda percaya untuk dibaca.

Jangan lupa, sangat banyak koran dan penerbit di negeri ini. Jika sebuah naskah novel ditolak oleh sebuah penerbit, boleh jadi penerbit lain akan menerima.

Jangan Cepat Puas

Penyakit yang kerap melanda para penulis pemula adalah cepat puas. Baru beberapa cerpen atau novel diterbitkan, sudah merasa puas. Ini adalah sikap berbahaya. Jika seseorang cepat merasa puas dengan hasil yang telah dicapai, niscaya ia tidak akan lebih maju. Sebab, ia merasa dirinya sudah berhasil dan tidak punya lagi sesuatu yang ingin dicapai. Ia menjadi malas belajar dan mengembangkan diri.

Jadi, jangan pernah cepat puas jika Anda ingin berhasil dan mencapai sesuatu yang jauh lebih baik. Dalam hal kreativitas, tengoklah ke atas. Masih ada langit di atas langit. Lebih bagus, Anda punya “lawan” yang harus Anda taklukkan. Misalnya, jika novel Laskar Pelangi cuma laku 500 ribu eksemplar, buku Anda harus laku di atas satu juta eksemplar. Intinya: kalau dia bisa, mengapa saya tidak bisa. Bahkan, saya harus bisa lebih dari dia.

Punya Impian

Ini penting. Seseorang tanpa impian sama halnya dengan seseorang tanpa bayangan masa depan. Apa itu impian? Ini adalah sebuah harapan, sebuah cita-cita, yang direncanakan sejak awal dengan baik dan ditargetkan akan tercapai pada sebuah waktu tertentu. Misalnya Anda punya impian dua tahun lagi sudah menghasilkan 10 novel laris. Atau Anda punya impian setahun lagi bisa beli mobil dari hasil menulis novel.

Apa pun impian Anda, silakan saja. Sebab, ada kekuatan tertentu dan energi positif yang akan terus mengawal Anda untuk meraih impian itu. Anda akan terdorong terus untuk begitu bersemangat mengerjakan sesuatu yang mendukung pencapaian impian itu. Kalau Anda bermimpi dua tahun lagi sudah punya 10 novel laris, tentu Anda akan terdorong untuk bekerja keras menulis novel dan terus belajar untuk menghasilkan novel yang diperkirakan bisa laris.

Masih bingung dengan impian? Oke, coba kita inventarisir impian kita yang sudah tercapai. Mulai dari saya misalnya. Dulu, saya bermimpi tinggal di Depok. Kenapa Depok? Karena banyak penulis tinggal di Depok dan saya ingin dekat mereka. Rasanya saya bangga ketika di akhir tulisan menulis tanggal penulisanya dengan Depok. Saya pernah bermimpi suatu saat menjadi pembicara di seminar-seminar. Selain itu, saya pernah bermimpi punya suami wartawan atau dosen.

Setelah saya ingat-ingat lagi, rasa-rasanya semua impian itu tercapai. Kini saya tinggal di depok, kerap menjadi pembicara seminar, dan punya suami wartawan dan sedang merintis jalan juga untuk menjadi dosen, kini ia sedang kuliah pascasarjana. Apakah sehabis bermimpi saya ongkang-ongkang kaki? Jelas tidak. Saya bekerja keras untuk mewujudkannya. Disamping itu, saya merasa ada kekuatan “luar biasa” yang terus mendorong dan membimbing saya untuk terus maju. Itulah kekuatan impian.

Sekarang, silakan ingat-ingat apa saja impian Anda yang tercapai.

Memasang Target

Ada seorang penulis yang sangat dekat dengan saya punya target begini. Ia tidak akan memakai gaji rutinnya di kantor untuk membiayai tranportnya (bensin mobil). Rata-rata sehari, ia membutuhkan Rp 50 ribu untuk transport. Berarti, dalam sebulan, ia mesti punya uang Rp. 1.500.000. Jadi sebulan ia pasang target minimal harus punya Rp 1.500.000 untuk transport. Dari mana uang itu? Jawabnya: dari menulis.

Ia menulis berbagai hal, mulai menulis cerpen, puisi, hingga opini di berbagai surat kabar. Ia juga kerap menjadi pembicara seminar, pelatih pelatihan menulis, instruktur workshop jurnalistik, jadi editor buku, dan sebagainya. Ternyata, ia tidak terlalu sulit untuk memenuhi kebutuhan itu. Terkadang, pendapatannya dari pekerjaan menulis (termasuk menjadi intruktur berbagai pelatihan) melebihi dari jumlah gajinya yang diterima di kantor.

Target ini lebih berorientasi pada angka-angka. Sama seperti perusahaan, kita harus mengelola sumber daya dalam diri kita untuk dijadikan uang. Salah satunya dengan keterampilan menulis. Mari kita hitung. Di Sumatera Barat, katakanlah kini ada 10 koran yang memberi honor bagus (ini misalnya saja, saya tidak tahu pastinya). Jika tiap minggu ada dua tulisan Anda dimuat di 10 koran berbeda itu, berarti dalam satu bulan Anda telah menghasilkan 8 tulisan. Jika satu koran memberi honor Rp 100 ribu, berarti dari menulis ini Anda mendapatkan Rp 800 ribu. Itu baru dari koran di Sumatera Barat.

Jika Anda melebarkan sayap menulis ke berbagai koran di berbagai daerah, hitung saja berapa rupiah honor yang akan Anda terima. Atau, jika ada satu saja tulisan Anda yang muncul di koran nasional (Jakarta) tiap minggu, dengan honor rata-rata Rp 500 ribu, berarti dalam sebulan Anda sudah mendapatkan honor Rp 2 juta. Menarik kan?

Begitu pula menulis novel. Jika rata-rata satu hari Anda menulis 5 halaman novel dengan jarak baris satu spasi, berarti dalam sebulan Anda sudah menghasilkan 150 halaman novel. Itu sudah cukup ketebalannya untuk sebuah novel standar yang ketika jadi buku akan berkisar sekitar 250-300 halaman, tergantung ukuran buku. Jika diasumsikan membaca ulang dan mengedit kembali membutuhkan waktu sebulan, berarti Anda hanya perlu dua bulan untuk menulis satu novel.

Jadi, dalam setahun Anda bisa menulis enam novel. Jika satu novel (katakanlah tidak meledak) laku 2.500 eksemplar dengan harga @ Rp 40 ribu. Dengan asumsi rata-rata royalti 10 persen, maka satu novel Anda bisa mendapatkan Rp 10 juta. Jika Anda menulis enam novel, berarti dalam setahun pendapatan Anda dari menulis adalah Rp 60 juta. Bayangkan, jika salah satu diantara novel-novel itu laris manis dan bisa terjual sampai lebih 100 ribu eksemplar.

Asyik kan? Nah, tunggu apa lagi, mulai sekarang, ayo menulis, dan pasang target berapa halaman harus diselesaikan sehari, berapa bulan satu novel, dan berapa novel bisa selesai dalam setahun. Dengan begitu, hitung-hitungannya akan menjadi jelas. Anda bisa merencanakan sesuatu untuk setahun mendatang, bahkan lebih. Tapi ingat, jangan cuma bermimpi, melainkan wujudkan mimpi itu dengan ketekunan dan kerja keras.

Jangan Banyak Alasan

Dulu, saya menulis dengan mesin ketik pinjaman. Sering, saya menulis dulu di kertas folio baru kemudian saya bawa ke tempat teman untuk saya ketikkan. Besoknya, tulisan itu saya masukkan ke dalam amplop dan saya antar ke kantor pos untuk disampaikan ke redaksi koran. Kadang, saya mengetik di tempat orang sampai larut malam. Apa boleh buat, karena saya tidak punya mesin ketik sendiri.

Sekarang, teknologi sudah begitu maju, dan itu sangat memudahkan. Mengirim karya ke koran atau penerbit tidak perlu lagi pakai pos, cukup pakai email. Jika belum punya komputer sendiri, jangan jadikan alasan untuk tidak menulis. Tulis dulu di kertas folio atau buku, lalu bawa ke rental komputer dan ketik. Jika belum bisa mengoperasikan internet, jangan jadikan alasan untuk tidak mengirim. Belajar atau minta tolong teman.

Juga tidak ada alasan tidak punya waktu. Mari kita hitung. Waktu semuanya 24 jam. Maksimal kita tidur 8 jam. Maksimal kita bekerja atau sekolah 8 jam. Jadi, masih 8 jam lagi yang nganggur tiap hari. Dari delapan jam itu, sisakan barang dua-tiga jam saja tiap hari untuk menulis dan membaca. Jika bingung, coba bikin jadwal, dan temukan ritme kapan enaknya menulis, misalnya pagi-pagi sehabis shalat subuh, sore, sehabis magrib, atau kapan saja yang membuat Anda tidak punya beban dan rileks.

Manajemen Diri

Ada ahli manajemen yang berkata begini: perlakukan diri Anda seperti halnya sebuah perusahaan. Artinya, Anda harus punya manajemen. Ini bukan berarti Anda harus punya sekretaris, staf dan segala macam. Kalau ada boleh juga, saya juga mau, he...he... Tapi maksudnya bukan itu. Manajemen disini adalah bagaimana merencanakan, memimpin, dan melaksanakan tugas-tugas, untuk mencapai tujuan yang telah Anda gariskan.

Misalnya: mengatur waktu menulis, merencanakan sebuah karya ditulis untuk dikirimkan ke penerbit apa, tema apa, berapa lama selesainya, siapa yang harus dihubungi di penerbit itu, siapa yang harus memberikan testimoni tentang karya itu di kulit buku, dan kira-kira kapan sebuah topik tertentu cocok untuk dilempar ke pasar, apa trend karya yang sedang digandrungi, dan sebagainya. Termasuk tugas manajerial adalah menjadwalkan waktu untuk ketemu editor, penerbit dan bernegosiasi tentang royalti.

Belakangan, sebagaimana sebuah perusahaan, seseorang juga perlu merancang nama yang mudah ingat. Apalagi, jika Anda bergerak dalam genre novel pop. Jika Mustafa Ismail yang menulis novel pop remaja, besar kemungkinan tidak akan laku. Sebab, nama itu terasa berat. Tapi jika yang menulis bernama Vivi Riana, mungkin akan laris manis, karena itu sangat dekat dengan dunia remaja kini.

Ini bukan anjuran memakai nama samaran. Sebaiknya, cobalah berangkat dari nama Anda sendiri. Misalnya Mustafa Ismail. Ia pernah menulis buku cerita untuk anak dengan nama Tafa. Setelah sadar nama itu adalah brand, dalam novel terbaru saya yang bergenre pop saya tak lagi menggunakan nama panjang, tapi cukup nama pendek saja: Dianing. Intinya sih, nama itu yang mudah diingat sehingga mudah untuk ngetop.

Jika nama Anda, misalnya Suryanto Natasastra, barangkali Anda bisa menyingkatnya dengan Surya Nata. Seorang penulis novel, Ngarto Februana, ketika meluncurkan novel terbarunya beberapa waktu lalu, penerbit minta izin untuk menggunakan hanya nama Februana di kulit depan novel. Sementara nama lengkap tetapi ditulis di bagian biodata di dalam.

Terus, jika Anda pernah baca novel Tere Liye, bayangan Anda siapakah penulis ini: laki-laki atau perempuan? Bayangan saya ketika mendengar adalah seorang perempuan. Tapi suatu kali ketika berkunjung ke penerbit Republika saya baru tahu dia adalah seorang laki-laki bernama Darwis.

Masih banyak tokoh publik yang kemudian menyederhanakan namanya agar mudah diucapkan sekaligus mudah diingat. Terutama di kalangan selebritas. Dan jangan lupa, dunia kepenulisan kini telah masuk dunia selebritas, sebuah industri, yakni industri kreatif. Nah, penulis pun harus membranding diri dengan semangat industrial itu.

Selamat menulis.
READ MORE - Mau Terkenal dan Kaya ? Menulislah !!

Rabu, 15 September 2010

Korban Pembangunan Yang Terabaikan

Zakaria, Korban Pembangunan Yang Terabaikan

Oleh Ibnu Sa’dan

WAKTU berputar. Masa pun berganti. Zakaria, 35, yang dudlunya segar bugar, sekarang terpaksa berjalan seperti orang menari. Dia tidak bisa lagi menjaga keseimbangan badannya, sejak satu kakinya yang sebelah kiri diamputasi. Nasib miris yang dialaminya ini, akibat menjadi korban pembangunan yang terabaikan. Dia terjatuh dari jembatan yang sudah lama rusak di desa tempat tinggalnya, Matang Cengai, Kecamatan Langsa Timur, Kota Langsa.

Dulu, sebelum peristiwa itu terjadi, petani miskin yang tidak punya kebun sendiri ini hidupnya berjalan normal. Meskipun kerjanya serabutan, namun dengan kedua kakinya yang masih utuh dia dapat mengandalkan tenaganya untuk mencari nafkah, untuk menghidupkan lima jiwa yang berada di bawah tanggungannya. Seorang istri, tiga orang anak, dan ditambah seorang ibunya yang sudah uzur.

Sejak tahun 2001, bertepatan dengan tahun lahirnya Pemerintahan Kota Langsa, hidup Zakaria yang memang sudah melarat bertambah semakin hancur. Dia sama sekali tidak bisa lagi mencari nafkah. Bahkan hampir setahun lamanya, dia hanya bisa berbaring di atas tempat tidur. Sebelum kakinya dipotong di Rumah sakit Umum Langsa.

Sekarang dalam rumah yang berukuran lebih kecil dari kamar kerja seorang pejabat setingkat kepala, pada salah satu instansi di Pemko Langsa, dia berkumpul dalam satu ruangan yang tanpa sekat. Ketika hujan turun, semua anggota keluarga itu, harus berpencar dan sibuk merebut tempat berlindung. Karena atapnya yang terbuat dari daun nipah banyak yang sudah luruh, tinggal lidinya saja. Sehingga remebesan air hujan mengucur bebas ke dalam rumah, membasahi lantainya yang masih asli berupa tanah.

Ketika Waspada berkunjung ke tempat tinggalnya, di Desa Matang Cengai itu, Jumat (31/10), Zakaria bercerita tentang keluhkesahnya. Mulai kisah tentang penyebab hilang salah satu kakinya, hingga pada harapan untuk bisa mendapat bantuan sebuah rumah yang layak huni dari pemrintah. Karena untuk membangun sebuah rumah dengan biaya sendiri, dalam kondisnya sekarang ini, sama sekali terasa sudah tak mungkin baginya.

“Sebelum dipotong, selama empat bulan saya merasa sakit tak terperi,” demikian Zakaria mengawali cerita tentang kakinya itu.

Karena ketika terjatuh dari Jembatan, dan masuk ke sungai bersama dengan sepeda pada Tahun 2001 itu, kata Zakaria, dirinya sempat salah menduga. Dia menyangka kakinya hanya terkilir, sehingga selama empat bulan terus menerus dia hanya berobat kepada dukun patah. Karena lama tak sembuh-semuh, dan rasa sakit semakin parah, akhirnya dia dibawa keluarganya ke RSU Langsa untuk dironsen.

Hasil dari pemeriksaan dengan sinar X itu, ternyata menunjukkan kakinya itu sudah membusuk. Sehingga doktor yang memriksa menyarankan untuk dilakukan amputasi. Dengan berat hati, Zakaria pun merelakan kakinya dipotong, sehingga ketika berjalan sekarang dia harus dibantu dengan sebatang tongkat.

“Begitulah ceritanya,” kata dia dengan nada yang sendu. Zakaria memang telah menjadi salah seorang korban dari proyek pembangunan yang terabaikan. Karena jembatan yang menghubungkan desanya dengan dunia luar itu sebanarnya sudah sangat lama mengalami kerusakan yang parah, dan hingga kini, setelah tujuh tahun berlalu, belum juga ada tanda-tanda akan diperbaiki.

Nasib jembatan itu, hampair sama juga dengan nasib yang dialami Zakaria, keberadaannya benar-benar seperti terabaikan. Walapun Pemerintah Kota Langsa sudah memperingati HUT-nya yang ke tujuh, dan Zakaria sudah tujuh tahun hilang kaki kirinya, tapi perhatian untuk kemsalahatan rakyat marginal belum juga sempat diberikan.
READ MORE - Korban Pembangunan Yang Terabaikan

Sejarah PWA

SEJARAH SINGKAT PWA

Persatuan Wartawan Aceh (PWA) lahir atas dasar keprihatinan komunitas pers di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam terhadap nama baik jurnalistik yang dewasa ini telah “tercoreng” akibat ulah oknum-oknum tertentu. Ada oknum mengaku wartawan dengan hanya menyandang selembar kartu pers dari sebuah media yang tidak mampu membina, dan menyejahterakan wartawannya.
Kehadiran oknum-oknum tersebut di dunia kewartawanan tidak hanya mengotori citra pers, tetapi juga telah menjadi “hantu” yang menakutkan bagi banyak pihak, di antaranya penyelenggara pemerintah, pengusaha, dan berbagai elemen masyarakat. Oknum tersebut tidak segan-segan dan atau secara terang-terangan berani “memeras” banyak pihak dengan “ancaman” dan “intimidasi” untuk mencapai tujuannya. Padahal, tindakan seperti itu jelas melanggar kode etik jurnalistik dan juga diharamkan dalam Agama Islam.
Berangkat dari realita tersebut, sejak awal hingga pertengahan tahun 2007, sejumlah wartawan yang bertugas di Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, secara intensif menggelar pertemuan untuk membahas upaya “penyelamatan” terhadap citra pers yang sudah tercoreng, sehingga ke depan nama baik jurnalistik akan kembali mewangi sebagaimana jati dirinya, yakni pilar ke empat demokrasi
Dari serangkaian pertemuan para wartawan, lahirlah sebuah ide dari salah seorang wartawan, yakni Ibrahim Achmad, untuk sesegera mungkin membentuk dan dideklarasikan sebuah wadah kewartawanan—sebagai tempat yang sahih untuk perkumpulan para jurnalis produktif. Ide tersebut lahir pada tanggal 15 Juni 2007, persis ketika jarum jam bertengger pada pukul 10:30 WIB, disaat para wartawan sedang berkumpul di sebuah warung kopi yang disebut “Café Elit”, di Jalan T. Hamzah Bendahara, Kota Lhokseumawe. Hal itu langsung mendapat dukungan penuh dari sejumlah wartawan, di antaranya Idris Bendung dan H Muhammad AH. Selanjutnya, Irmansyah ditunjuk untuk menulis konsep tentang wadah tersebut, yang dinamai Persatuan Wartawan Aceh (PWA)






VISI DAN MISI

Nama Organisasi : Persatuan Wartawan Aceh (PWA)

Jenis Organisasi : Organisasi profesi
Dasar Organisasi : Undang-Undang Pers dan Prinsip-prinsip Hak
Asasi Manusia
Pedoman Organisasi : Independen
Jumlah Anggota :
Alamat : Jalan Tgk Pulo Baroh, Desa Lancang Garam, No 24, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe
Tanggal dideklarasikan :

VISI:
Lahirnya masyarakat yang kritis, demokratis, dan beradab melalui pers yang sehat dan profesional

MISI:
•Mendorong lahirnya wartawan produktif, profesional, dan menjung-jung tinggi keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT
•Mewujudkan tegaknya kemerdekaan berpendapat secara sehat
•Memperjuangkan kesejahteraan wartawan








ANGGARAN DASAR

BAB I
NAMA, BENTUK, LAMBANG, DAN TEMPAT KEDUDUKAN

Pasal 1
Organisasi ini bernama Persatuan Wartawan Aceh, disingkat PWA

Pasal 2
PWA berbentuk perkumpulan

Pasal 3
PWA berlambangkan dua rencong dengan warna dasarnya adalah warna emas yang dikombinasikan dengan tulisan Persatuan Wartawan Aceh

Pasal 4
1) DPP PWA berkedudukan di Kota Lhokseumawe Provinsi Naggroe Aceh Darussalam

2) PWA Cabang berkedudukan di Kabupaten/Kota dalam Wilayah Provionsi Nanggroe Aceh Darussalam

BAB II
PENDIRIAN, WILAYAH DAN RUANG LINGKUP ORGANISASI

Pasal 5
PWA didirikan oleh lima jurnalis sejak pertengahan 2007

Pasal 6
PWA meliputi berbagai perkumpulan di tingkat kabupaten/kota yang dinamai PWA Kabupaten/kota atau PWA Cabang

Pasal 7
PWA Cabang dapat didirikan oleh sekurang-kurang lima anggota di wilayah kabupaten/kota mana pun di Provinsi Aceh, yang persyaratannya diatur dalam Anggaran Rumah Tangga dan Aturan Organisasi lainnya
BAB III
ASAS, SIFAT, TUJUAN, PEDOMAN DAN KODE ETIK

Pasal 8
PWA berasaskan konstitusi, prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia, independen, dan pro-rakyat

Pasal 9
PWA adalah organisasi pers perkumpulan wartawan produktif, profesional, dan beradab tanpa membedakan tingkat status sosial

Pasal 10
PWA berpedoman pada semangat dan aspirasi rakyat

Pasal 11
PWA bertujuan:
a. Memupuk persatuan antarwartawan
b. Mendorong lahirnya wartawan produktif yang pro-rakyat dalam tatanan pers yang profesional dan sehat
c. Membela harkat dan martabat jurnalistik
d. Memperjuangkan kesejahteraan wartawan

BAB IV
KEANGGOTAAN

Pasal 12
PWA beranggotakan wartawan produktif “dari media yang jelas”, pro-rakyat, dan profesional

Pasal 13
Hak-hak anggota meliputi:
a. Hak berperan aktif dalam semua kegiatan yang diselenggarakan organisasi
b. Hak memilih dan dipilih menjadi pengurus


Pasal 14
Kewajiban anggota meliputi:
a. Mentaati Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi
b. Menjaga nama baik PWA

Pasal 15
Anggota dapat dikenai sanksi organisasi termasuk pemecatan


BAB V
STRUKTUR ORGANISASI

Pasal 16
Kekuasaan tertinggi organisasi dipegang oleh kongres PWA Pusat dan Konferensi PWA Cabang

Pasal 17
Pimpinan organisasi dipegang oleh pengurus

BAB VI
KEUANGAN

Pasal 18
Anggaran dan aset organisasi dihimpun dari iuran tetap anggota, usaha oirganisasi yang sah, dan hibah pihak ketiga yang tidak mengikat

BAB VII
PERUBAHAN ATURAN

Pasal 19
Perubahan Anggaran Dasar ditetapkan dalam kongres






ANGGARAN RUMAH TANGGA
BAB I
ANGGOTA
Pasal 1
Keanggotaan PWA terdiri atas anggota terdaftar, anggota biasa, dan anggota kehormatan

Pasal 2
Anggota terdaftar harus mampu menulis berita, tercatat sebagai wartawan dari “media yang jelas”, dan memperoleh rekomendasi minimal dari tiga orang pengurus PWA

Pasal 3
Anggota biasa harus sudah tercatat sebagai anggota terdaftar di PWA minimal untuk jangka waktu tiga bulan, dan merupakan wartawan poroduktif, profesional, serta mendapat rekomendasi minimal 3 (tiga) orang dari sebagian pengurus PWA

Pasal 4
Anggota kehormatan merupakan anggota yang memiliki jasa luar biasa terhadap organisasi

Pasal 5
Persyaratan menjadi ketua PWA:
a. Untuk menjadi calon ketua DPP PWA, usia maksimal 50 tahun
b. Untuk menjadi calon ketua PWA Cabang, usia maksimal 47 tahun
c. Untuk calon ketua DPP PWA dan PWA Cabang sudah pernah duduk dalam kepengurusan minimal satu periode

Pasal 6
Pemecatan terhadap anggota dilakukan apabila yang bersangkutan telah mencoreng nama baik organisasi, tidak lagi tercatat sebagai wartawan, dan melanggar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi


Pasal 7
Prosedur pemecatan anggota: sebelum pemecatan diputuskan, Pengurus PWA terlebih dahulu memberikan surat peringatan yang diputuskan dalam rapat pleno pengurus harian PWA

BAB II
PERSATUAN WARTAWAN ACEH
Bagian Kesatu
UMUM
Pasal 8
1) Wilayah Kerja DPP PWA meliputi seluruh wilayah Aceh dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia
2) Dalam menjalankan roda organisasi kewartawanan, DPP PWA bebas dari pengaruh pihak manapun berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan wewenangnya

Bagian Kedua
SUSUNAN dan KEANGGOTAAN, MASA KEPENGURUSAN
Pasal 9

1) Pengurus DPP PWA terdiri atas seorang Ketua Umum, sebanyak-banyak dibantu 2 (dua) orang ketua, 1 (satu) orang Sekretaris Jenderal, dibawahnya 2 (dua) orang sekretaris, dan 1 (satu) orang Bendahara Umum, dibantu seorang Bendahara serta dibentuk divisi-divisi menurut kebutuhan daerah

2) Pengurus PWA Cabang terdiri atas seorang Ketua dan dibantu seorang wakil ketua. Seorang sekretarisdan satu orang wakil sekretaris. Dan seorang bendahara serta dibentuk divisi-divisi sesuai kebutuhan Kabupaten/Kota

Pasal 10

Masa kepengurusan DPP PWA dan PWA Cabang selama 3(tiga) tahun


BAB III
PWA CABANG
Pasal 11
PWA cabang adalah satuan organisasi di bawah koordinasi PWA Pusat

BAB III
KONGRES PWA
Pasal 12
a. Kongres merupakan kekuasaan tertinggi organisasi PWA yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali
b. Kongres menetapkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta program kerja
c. Kongres memilih dan menetapkan ketua umum, sekretaris jenderal serta menyusun kepengurusan
d. Kongres menetapkan hal-hal lain yang dianggap perlu sesuai kebutuhan organisasi PWA

Pasal 13
Pengurus bertanggung jawab dalam pelaksanaan program kerja yang telah disusun

BAB V
TRANSPARANSI PENGELOLAAN DANA
Pasal 14
Pengeloaan dana organisasi dapat dievaluasi dan atau bahkan diaudit setiap waktu dan setiap satu tahun pengurus wajib menyusun laporan keuangan

BAB VI
PERUBAHAN ATURAN
Pasal 15
Perubahan dan aturan tambahan organisasi hanya dapat ditetapkan dalam kongres



STRUKTUR KEPENGURUSAN DPP PWA

Ketua Umum : Ibrahim Achmad
Ketua : Idris Bendung, BA

Sekretaris Jenderal : H Muhammad AH
Sekretaris : Rahmad Y.D


Bendahara Umum : Irmansyah


DIVISI-DIVISI

Divisi Advokasi : Ridwan Hadi SH

Divisi Pendidikan : Asnawi Abdullah

Divisi Kesejahteraan :

Divisi Ekuin :















Keterangan Logo PWA:


Rencong merupakan lambang Daerah Aceh, malah telah dijuluki dengan sebutan Tanah Rencong. Selain itu rencong juga senjata bagi rakyat Aceh. Warna dasar rencong kuning emas dan gagang rencong pada dasarnya gading gajah.
Gajah adalah kendaraan raja Aceh masalalu Sultan Iskandar Muda, sampai sekarang lambang kendaraan raja Aceh Iskandar Muda masih digunakan sebagai symbol di baju TNI di Aceg.
Bila diambil sebilah rencong Aceh, kemudian diletakkan di atas meja serupa dengan huruf tulisan Bismillah. Kedua ujung rencong tegak ujung ke atas menandakan Aceh masa damai. Selain itu juga ujungnya diibaratkan sebagai pena hero.

Rencong tersebut melindungi Persatuan Wartawan Aceh (PWA). Gagangnya berbentuk WA yang dimaknai sebagai wartawan Aceh

Delapan Nilai Dasar PWA:

1. Jujur
2. Tanggung Jawab
3. Visioner
4. Disiplin
5. Kerja Sama
6. Adil
7. Peduli, dan
8. Pro-rakyat
READ MORE - Sejarah PWA