Lazada Philippines

Kursus Bahasa Inggris Kilat

Tampilkan postingan dengan label padang bulan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label padang bulan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Januari 2011

Mau Terkenal dan Kaya ? Menulislah !!

Mengapa Menulis?

Pernahkah Anda memiliki keinginan untuk dikenal orang banyak, memiliki rumah sendiri, memiliki mobil bagus, juga jalan-jalan ke berbagai kota bahkan negara? Semua itu hanya bisa diwujudkan dengan bekerja keras. Salah satunya dengan menulis. Mengapa? Menulis juga salah satu kegiatan yang menghasilkan uang, dan bisa dijadikan profesi. Artinya menulis bukan lagi sekedar hobi.

Banyak penulis yang kemudian menjadi terkenal dan kemudian kaya raya. Kalau di Indonesia, kita mengenal Habiburrahman El Sirazy, Andrea Hirata, Ayu Utami, dan lain-lain. Di luar negeri, misalnya ada Dan Brown dan JK Rowlling. Sebelum menulis, nama-nama itu bukan siapa-siapa. Mereka bukan orang terkenal.

JK Rowling, misalnya, sebelumnya hidup sangat sederhana. Untuk menghemat listrik di rumahnya, ia memilih menulis di kafe. Tapi, tahukah Anda berapa kekayaan JK Rowling kini? Sungguh fantastis: US $ 1 miliar! Ia menjadi salah satu orang terkaya di Inggris, bahkan di dunia. Asyik kan? Anda mau? Pasti mau dong. Saya juga mau. Kalau mau, mengapa tidak langsung memulai menulis?

Kerja Keras

Tapi, sukses tidak didapatkan secara simsalabim abrakadabra. Semua perlu proses. Semua perlu ketekunan, semangat untuk belajar, semangat untuk maju, tak kenal menyerah, dan terus kerja keras. Sejumlah penulis terkenal dan penulis laris kini tidak mendapatkan kesuksesan itu secara spontan.

Dan Brown telah menulis sejumlah buku, tapi baru buku keempat yakni “The Davinci Code” yang laris. Setelah itu, buku-buku dia sebelumnya juga ikut laris. Tapi ada pula yang buku pertama langsung laris, seperti JK Rowling dengan buku Harry Potter. Namun, proses menulisnya sangat panjang. Novelnya itu baru terbit lima tahun setelah ditulis. Sebelumnya, novel ini 14 kali ditolak penerbit. Bayangkan!

Seandainya JK Rowling tidak punya semangat untuk maju dan tahan banting, pasti ia tidak akan menjadi seperti sekarang dan besar kemungkinan naskah buku itu hanya menjadi tumpukan arsip atau masuk gudang.

Novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman pun tidak langsung laris ketika terbit. Menurut Hanik dari Penerbit Republika, novel itu baru laris lebih setahun kemudian. Dan sebelum novel AAC, Habib sudah menulis sejumlah karya seperti Bercinta untuk Surga, Pudarnya Pesona Cleopatra, Di Atas Sajadah Cinta, Dalam Mihrab Cinta, serta Ketika Cinta Bertasbih.

Kenapa Laris?

Coba perhatikan, semua novel laris menyajikan sesuatu yang berbeda. Mereka menyajikan sesuatu yang baru. Sesuatu yang unik dan mendalam. Atau menyajikan cara pandang berbeda terhadap sebuah persoalan, yang belum pernah dilakukan orang. Tengok Harry Potter, The Davinci Code, Laskar Pelangi, dan Ayat-Ayat Cinta. Khusus Ayat-Ayat Cinta sebetulnya idenya sudah biasa, tapi ditulis dengan cara yang lain, yang sangat berbeda dari novel-novel yang pernah ada sebelumnya. Ia memasukkan nuansa relegiusitas ke dalam novel itu.

Selain itu, novel ini terdongkrak karena sejumlah hal. Pertama, kala itu sedang maraknya novel yang memamerkan paha dan dada, sehingga pembaca membutuhkan bacaan lain yang berbeda. Sejumlah kalangan menolak novel semacam itu, lalu Ayat-Ayat Cinta diyakini mampu menjawab kegelisahan itu.

Kedua, Habiburrahman datang dari komunitas yang jumlah anggotanya cukup besar (sekitar 5 ribu orang) yakni Forum Lingkar Pena (FLP). Dengan promosi dari mulut ke mulut di antara anggota saja, novel itu sudah laris di kalangan mereka sendiri. Itu ditambah lagi dengan promosi dari mulut ke mulut ke luar komunitas, sehingga membuat orang jadi penasaran untuk membacanya. Ketiga, seperti halnya Laskar Pelangi, novel itu menggunakan jasa Event Organizer untuk mempromosikannya.

Bagaimana Memprediksi Novel Bakal Laris?

Saya pernah melontarkan pertanyaan ini kepada seorang editor senior Penerbit Grasindo, Pamusuk Eneste. Tahukah Anda apa jawaban Pamusuk yang juga sastrawan itu? Ia mengatakan, “penerbit tidak tahu bahwa novel itu bakal laris.” Intinya, tidak ada rumus seperti apa novel laris. Terpenting, tulislah sesuatu yang baru, sesuatu yang berbeda, sesuatu yang unik, lugas dan mendalam.

Selain hal di atas, saya mencoba memperhatikan sejumlah karakter lain dari novel laris itu. Pertama, ceritanya menyentuh dan menggugah emosi, entah itu perasaan senang, bahagia, sedih, prihatin, dan seterusnya. Kedua, menampilkan hal-hal yang dramatik dan penuh ketegangan, sehingga pembaca penasaran ingin terus mengikuti cerita. Ketiga, mampu memberi inspirasi tertentu kepada pembaca sehingga pembaca terdorong untuk lebih maju atau menjadi peduli pada sesuatu. Keempat, trend pasar.

Ketika novel Ayat-ayat Cinta meledak di pasar, banyak judul novel yang mirip-mirip Ayat-Ayat Cinta bahkan muncul nama yang menggunakan El, termasuk cover novel yang mirip novel laris itu. Pada masa ini banyak sekali terbit novel bernapaskan islami, meski oleh salah satu penerbit tak dibarengi mutu, tapi saat itu memang novel-novel islami sedang booming dan kemudian surut.

Tapi menurut penerbit trend pasar tak bisa ditebak. Pasar punya logikanya sendiri. Seorang penulis atau penerbit tidak tahu apakah novel yang akan diterbitkan kelak laku keras dan menjadi trend atau biasa saja penjualannya. “Terpenting tugas menulis adalah terus berkarya. Karya yang bagus dan bisa diterima masyarakat pasti akan mendapat apresisi,” kata editor senior Grasindo, Pamusuk Eneste.

Modal Menulis

Modal utama menulis adalah membaca. Pater Bolsius mengatakan, “if you don’t read, you don’t write”. Jika Anda tidak punya kebiasan membaca, Anda tidak bisa menulis. Tokoh lain ada yang mengatakan, Anda tidak akan menjadi penulis yang baik jika Anda bukan pembaca yang baik. Dalam menulis, Anda tidak hanya bisa mengandalkan imajinasi. Anda perlu pengetahuan, data-data dan fakta-fakta, teori-teori dan gagasan pendukung, juga pelecut gagasan. Kadang gagasan lahir dari membaca sesuatu, meski hasilnya sama sekali tidak berkait dengan apa yang kita baca.

Selain itu, membaca adalah metode belajar paling efektif. Bagaimana Anda mengetahui bahwa puisi Anda bagus, jika Anda tidak pernah membaca puisi-puisi bagus di koran-koran terkemuka atau puisi milik para penyair bagus. Bagaimana Anda tahu novel Anda mengandung kebaruan, jika Anda tidak pernah membaca novel lain. Jangan-jangan apa yang Anda tulis sudah banyak sekali ditulis orang. Tapi Anda tidak tahu, karena tidak pernah membacanya.

Menulis itu Berpikir

Menulis itu tidak sekedar untuk menumpahkan isi hati atau imajinasi, tapi juga berpikir. Dengan menulis, Anda akan dilatih berpikir dan terus berpikir. Robert Pinckret, dalam bukunya The Truth About English, “writing is thinking. If you can’t think you can’t write. Learning to think”. Menulis adalah berpikir. Kalau Anda tak bisa berpikir, Anda tak bisa menulis. Belajar menulis berarti belajar berpikir.

Tidak heran, banyak orang menjadi pintar karena menulis. Tapi banyak juga orang pintar yang tidak menulis. Sehingga kepintarannya tidak pernah muncul ke permukaan. Jadi, sepintar apa pun Anda, kalau tidak pernah mengungkapkan gagasan atau kepintaran Anda kepada publik (lewat tulisan salah satunya), Anda tidak akan menjadi siapa-siapa alias hanya menjadi sosok biasa saja.

Pantang Menyerah

Pekerjaan apa pun jika dilakukan dengan sikap cengeng pasti tidak pernah berhasil. Contohnya, jika Anda ingin pergi ke suatu tempat, tapi di jalan Anda terus-menerus mengeluh capek, panas, dan sebagainya, pasti Anda tidak akan sampai ke tempat tujuan. Jadi jangan cengeng. Hidup harus selalu optimis. Selalu ada jalan di depan. Selalu ada cahaya di seberang bukit. Songsonglah cahaya itu meski harus berlari-lari. Jika terjatuh, segera bangun, dan berlari lagi.

Naskah Harry Potter pernah 14 kali ditolak penerbit, tapi karena JK Rowling tidak cepat menyerah membuatnya berhasil. Dulu, saya juga berpuluh-puluh cerpen dan puisi-puisi saya ditolak koran, jika saya cengeng tentu saya tidak akan duduk bersama Anda pada hari ini. Saya pasti tidak akan menjadi penulis.

Jadi, jangan langsung “patah hati” ketika karya kita ditolak koran atau penerbit. Baca ulang karya itu, bandingkan dengan karya orang lain, jika terasa masih ada kurang, lakukan perbaikan. Minta pula masukan dan pendapat orang, terutama yang mengerti tentang tulisan Anda. Gandakan (fotocopy) beberapa eksemplar naskah Anda dan berikanlah kepada orang-orang yang Anda percaya untuk dibaca.

Jangan lupa, sangat banyak koran dan penerbit di negeri ini. Jika sebuah naskah novel ditolak oleh sebuah penerbit, boleh jadi penerbit lain akan menerima.

Jangan Cepat Puas

Penyakit yang kerap melanda para penulis pemula adalah cepat puas. Baru beberapa cerpen atau novel diterbitkan, sudah merasa puas. Ini adalah sikap berbahaya. Jika seseorang cepat merasa puas dengan hasil yang telah dicapai, niscaya ia tidak akan lebih maju. Sebab, ia merasa dirinya sudah berhasil dan tidak punya lagi sesuatu yang ingin dicapai. Ia menjadi malas belajar dan mengembangkan diri.

Jadi, jangan pernah cepat puas jika Anda ingin berhasil dan mencapai sesuatu yang jauh lebih baik. Dalam hal kreativitas, tengoklah ke atas. Masih ada langit di atas langit. Lebih bagus, Anda punya “lawan” yang harus Anda taklukkan. Misalnya, jika novel Laskar Pelangi cuma laku 500 ribu eksemplar, buku Anda harus laku di atas satu juta eksemplar. Intinya: kalau dia bisa, mengapa saya tidak bisa. Bahkan, saya harus bisa lebih dari dia.

Punya Impian

Ini penting. Seseorang tanpa impian sama halnya dengan seseorang tanpa bayangan masa depan. Apa itu impian? Ini adalah sebuah harapan, sebuah cita-cita, yang direncanakan sejak awal dengan baik dan ditargetkan akan tercapai pada sebuah waktu tertentu. Misalnya Anda punya impian dua tahun lagi sudah menghasilkan 10 novel laris. Atau Anda punya impian setahun lagi bisa beli mobil dari hasil menulis novel.

Apa pun impian Anda, silakan saja. Sebab, ada kekuatan tertentu dan energi positif yang akan terus mengawal Anda untuk meraih impian itu. Anda akan terdorong terus untuk begitu bersemangat mengerjakan sesuatu yang mendukung pencapaian impian itu. Kalau Anda bermimpi dua tahun lagi sudah punya 10 novel laris, tentu Anda akan terdorong untuk bekerja keras menulis novel dan terus belajar untuk menghasilkan novel yang diperkirakan bisa laris.

Masih bingung dengan impian? Oke, coba kita inventarisir impian kita yang sudah tercapai. Mulai dari saya misalnya. Dulu, saya bermimpi tinggal di Depok. Kenapa Depok? Karena banyak penulis tinggal di Depok dan saya ingin dekat mereka. Rasanya saya bangga ketika di akhir tulisan menulis tanggal penulisanya dengan Depok. Saya pernah bermimpi suatu saat menjadi pembicara di seminar-seminar. Selain itu, saya pernah bermimpi punya suami wartawan atau dosen.

Setelah saya ingat-ingat lagi, rasa-rasanya semua impian itu tercapai. Kini saya tinggal di depok, kerap menjadi pembicara seminar, dan punya suami wartawan dan sedang merintis jalan juga untuk menjadi dosen, kini ia sedang kuliah pascasarjana. Apakah sehabis bermimpi saya ongkang-ongkang kaki? Jelas tidak. Saya bekerja keras untuk mewujudkannya. Disamping itu, saya merasa ada kekuatan “luar biasa” yang terus mendorong dan membimbing saya untuk terus maju. Itulah kekuatan impian.

Sekarang, silakan ingat-ingat apa saja impian Anda yang tercapai.

Memasang Target

Ada seorang penulis yang sangat dekat dengan saya punya target begini. Ia tidak akan memakai gaji rutinnya di kantor untuk membiayai tranportnya (bensin mobil). Rata-rata sehari, ia membutuhkan Rp 50 ribu untuk transport. Berarti, dalam sebulan, ia mesti punya uang Rp. 1.500.000. Jadi sebulan ia pasang target minimal harus punya Rp 1.500.000 untuk transport. Dari mana uang itu? Jawabnya: dari menulis.

Ia menulis berbagai hal, mulai menulis cerpen, puisi, hingga opini di berbagai surat kabar. Ia juga kerap menjadi pembicara seminar, pelatih pelatihan menulis, instruktur workshop jurnalistik, jadi editor buku, dan sebagainya. Ternyata, ia tidak terlalu sulit untuk memenuhi kebutuhan itu. Terkadang, pendapatannya dari pekerjaan menulis (termasuk menjadi intruktur berbagai pelatihan) melebihi dari jumlah gajinya yang diterima di kantor.

Target ini lebih berorientasi pada angka-angka. Sama seperti perusahaan, kita harus mengelola sumber daya dalam diri kita untuk dijadikan uang. Salah satunya dengan keterampilan menulis. Mari kita hitung. Di Sumatera Barat, katakanlah kini ada 10 koran yang memberi honor bagus (ini misalnya saja, saya tidak tahu pastinya). Jika tiap minggu ada dua tulisan Anda dimuat di 10 koran berbeda itu, berarti dalam satu bulan Anda telah menghasilkan 8 tulisan. Jika satu koran memberi honor Rp 100 ribu, berarti dari menulis ini Anda mendapatkan Rp 800 ribu. Itu baru dari koran di Sumatera Barat.

Jika Anda melebarkan sayap menulis ke berbagai koran di berbagai daerah, hitung saja berapa rupiah honor yang akan Anda terima. Atau, jika ada satu saja tulisan Anda yang muncul di koran nasional (Jakarta) tiap minggu, dengan honor rata-rata Rp 500 ribu, berarti dalam sebulan Anda sudah mendapatkan honor Rp 2 juta. Menarik kan?

Begitu pula menulis novel. Jika rata-rata satu hari Anda menulis 5 halaman novel dengan jarak baris satu spasi, berarti dalam sebulan Anda sudah menghasilkan 150 halaman novel. Itu sudah cukup ketebalannya untuk sebuah novel standar yang ketika jadi buku akan berkisar sekitar 250-300 halaman, tergantung ukuran buku. Jika diasumsikan membaca ulang dan mengedit kembali membutuhkan waktu sebulan, berarti Anda hanya perlu dua bulan untuk menulis satu novel.

Jadi, dalam setahun Anda bisa menulis enam novel. Jika satu novel (katakanlah tidak meledak) laku 2.500 eksemplar dengan harga @ Rp 40 ribu. Dengan asumsi rata-rata royalti 10 persen, maka satu novel Anda bisa mendapatkan Rp 10 juta. Jika Anda menulis enam novel, berarti dalam setahun pendapatan Anda dari menulis adalah Rp 60 juta. Bayangkan, jika salah satu diantara novel-novel itu laris manis dan bisa terjual sampai lebih 100 ribu eksemplar.

Asyik kan? Nah, tunggu apa lagi, mulai sekarang, ayo menulis, dan pasang target berapa halaman harus diselesaikan sehari, berapa bulan satu novel, dan berapa novel bisa selesai dalam setahun. Dengan begitu, hitung-hitungannya akan menjadi jelas. Anda bisa merencanakan sesuatu untuk setahun mendatang, bahkan lebih. Tapi ingat, jangan cuma bermimpi, melainkan wujudkan mimpi itu dengan ketekunan dan kerja keras.

Jangan Banyak Alasan

Dulu, saya menulis dengan mesin ketik pinjaman. Sering, saya menulis dulu di kertas folio baru kemudian saya bawa ke tempat teman untuk saya ketikkan. Besoknya, tulisan itu saya masukkan ke dalam amplop dan saya antar ke kantor pos untuk disampaikan ke redaksi koran. Kadang, saya mengetik di tempat orang sampai larut malam. Apa boleh buat, karena saya tidak punya mesin ketik sendiri.

Sekarang, teknologi sudah begitu maju, dan itu sangat memudahkan. Mengirim karya ke koran atau penerbit tidak perlu lagi pakai pos, cukup pakai email. Jika belum punya komputer sendiri, jangan jadikan alasan untuk tidak menulis. Tulis dulu di kertas folio atau buku, lalu bawa ke rental komputer dan ketik. Jika belum bisa mengoperasikan internet, jangan jadikan alasan untuk tidak mengirim. Belajar atau minta tolong teman.

Juga tidak ada alasan tidak punya waktu. Mari kita hitung. Waktu semuanya 24 jam. Maksimal kita tidur 8 jam. Maksimal kita bekerja atau sekolah 8 jam. Jadi, masih 8 jam lagi yang nganggur tiap hari. Dari delapan jam itu, sisakan barang dua-tiga jam saja tiap hari untuk menulis dan membaca. Jika bingung, coba bikin jadwal, dan temukan ritme kapan enaknya menulis, misalnya pagi-pagi sehabis shalat subuh, sore, sehabis magrib, atau kapan saja yang membuat Anda tidak punya beban dan rileks.

Manajemen Diri

Ada ahli manajemen yang berkata begini: perlakukan diri Anda seperti halnya sebuah perusahaan. Artinya, Anda harus punya manajemen. Ini bukan berarti Anda harus punya sekretaris, staf dan segala macam. Kalau ada boleh juga, saya juga mau, he...he... Tapi maksudnya bukan itu. Manajemen disini adalah bagaimana merencanakan, memimpin, dan melaksanakan tugas-tugas, untuk mencapai tujuan yang telah Anda gariskan.

Misalnya: mengatur waktu menulis, merencanakan sebuah karya ditulis untuk dikirimkan ke penerbit apa, tema apa, berapa lama selesainya, siapa yang harus dihubungi di penerbit itu, siapa yang harus memberikan testimoni tentang karya itu di kulit buku, dan kira-kira kapan sebuah topik tertentu cocok untuk dilempar ke pasar, apa trend karya yang sedang digandrungi, dan sebagainya. Termasuk tugas manajerial adalah menjadwalkan waktu untuk ketemu editor, penerbit dan bernegosiasi tentang royalti.

Belakangan, sebagaimana sebuah perusahaan, seseorang juga perlu merancang nama yang mudah ingat. Apalagi, jika Anda bergerak dalam genre novel pop. Jika Mustafa Ismail yang menulis novel pop remaja, besar kemungkinan tidak akan laku. Sebab, nama itu terasa berat. Tapi jika yang menulis bernama Vivi Riana, mungkin akan laris manis, karena itu sangat dekat dengan dunia remaja kini.

Ini bukan anjuran memakai nama samaran. Sebaiknya, cobalah berangkat dari nama Anda sendiri. Misalnya Mustafa Ismail. Ia pernah menulis buku cerita untuk anak dengan nama Tafa. Setelah sadar nama itu adalah brand, dalam novel terbaru saya yang bergenre pop saya tak lagi menggunakan nama panjang, tapi cukup nama pendek saja: Dianing. Intinya sih, nama itu yang mudah diingat sehingga mudah untuk ngetop.

Jika nama Anda, misalnya Suryanto Natasastra, barangkali Anda bisa menyingkatnya dengan Surya Nata. Seorang penulis novel, Ngarto Februana, ketika meluncurkan novel terbarunya beberapa waktu lalu, penerbit minta izin untuk menggunakan hanya nama Februana di kulit depan novel. Sementara nama lengkap tetapi ditulis di bagian biodata di dalam.

Terus, jika Anda pernah baca novel Tere Liye, bayangan Anda siapakah penulis ini: laki-laki atau perempuan? Bayangan saya ketika mendengar adalah seorang perempuan. Tapi suatu kali ketika berkunjung ke penerbit Republika saya baru tahu dia adalah seorang laki-laki bernama Darwis.

Masih banyak tokoh publik yang kemudian menyederhanakan namanya agar mudah diucapkan sekaligus mudah diingat. Terutama di kalangan selebritas. Dan jangan lupa, dunia kepenulisan kini telah masuk dunia selebritas, sebuah industri, yakni industri kreatif. Nah, penulis pun harus membranding diri dengan semangat industrial itu.

Selamat menulis.
READ MORE - Mau Terkenal dan Kaya ? Menulislah !!

Senin, 27 Desember 2010

Kemarau

BARANGKALI karena hawa panas yang tidak mau menguap dari kamar-kamar sempit yang dimuati tujuh anak. Barangkali lantaran mertua makin cerewet karena gerah. Barangkali karena musim kemarau terlanjur berkepanjangan, kampung kami menjadi sangat tidak enak setelah bulan Maret sampai September.

Tak ada yang betah di rumah, dan makin menyusahkan karena tak ada hiburan di luar. Adakalanya biduan wanita organ tunggal meliuk-liuk seperti belut sawah di atas panggung berhias pelepah kelapa di pinggir pantai, lebih menyanyikan maksiat daripada lagu. Tapi itu hanya lama-lama sekali, pun kalau harga timah sedang bagus—yang amat jarang bagus.

Tak ada galeri seni, gedung bioskop, kafe-kafe, atau pusat perbelanjaan untuk dikunjungi. Yang sedikt menarik perhatian hanya sebuah jam besar di tengah kota dan jam itu sudah rusak selama 46 tahun. Jarum pendeknya ngerem mendadak di angka lima. Jarum panjangnya mengembuskan nafas yang terakhir di pelukan angka dua belas. Jarum detik telah minggat dengan perempuan lain, tak tahu kemana. Melihat jam itu sejak kecil aku punya firasat bahwa jika nanti dunia kiamat, kejadiannya akan tepat pukul lima.

Namun, tak pernah kami risaukan semua itu, karena kami punya museum, dan museum kami paling hebat di dunia ini. Tak ada yang bisa menandinginya, sebab ia museum sekaligus kebun binatang.

Baiklah, mari bicara soal museum. Di sana ada sebuah ruangan yang jika dimasuki harus membuka sandal dan mengucapkan Assalamualaikum, demi menghormati tombak-tombak karatan, peninggalan para hulubalang antah berantah. Uang kecil yang diselipkan ke dalam kotak di samping tombak-tombak itu dapat menyebabkan pendermanya awet muda dan enteng jodoh. Anak-anak yang tak sengaja menunjuk tombak itu harus mengisap telunjuknya, agar tidak kualat.

Dari jendela museum, istimewa sekali, tampak hewan-hewan berkeliaran. Itulah kebun binatang kami. Setiap minggu tempat itu dipenuhi orang yang melihat kijang yang saking buduknya sudah tampak serupa kambing. Ada pula unta gaek yang menderita sakit batuk kering stadium 4. Setiap kali dia batuk, nyawanya seperti mau copot. Ada zebra jompo yang hanya memandang ke satu jurusan saja. Tak paham aku apa yang tengah berkecamuk di dalam kalbunya. Ada orang utan uzur yang sudah ompong dan tampak terang-terangan nafsui bebek-bebek gendut di kolam butek sebelah sana. Tak ada malu sama sekali. Lalu ada singa tua kurapan bermata sendu macam penyanyi dangdut. Singa itu sepertinya sangat benci pada hidupnya sendiri. Mereka muak melihat orang-orang udik yang menonton mereka di dalam kandang. Konon, mereka dihibahkan ke kampung kami karena telah apkir dari sebuah kebun binatang di Jawa, dimana mereka dianggap tidak sexy lagi. Namun, seperti segala sesuatu yang selalu kami terima apa adanya, seperti segala sesuatu yang tidak pernah berubah di kampung kami, makhluk-makhluk hidup segan mati tak mau itu selalu punya tempat di dalam kebun binatang kami, di dalam hati kami. Hewan-hewan itu menguap sepanjang hari, mereka hanya seekor saja dari jenisnya masing-masing, jadi mereka adalah pejantan bujang lapuk seumur-umur. Sungguh mengerikan hidup ini kadang-kadang.

Jika kemarau makin menggelegak, aku menyingkir dan duduk melamun dibelai angin di sebuah kapal keruk yang termangu-mangu di pinggir sungai. Kapal itu hanya tinggal segunung besi rongsokan. Mesin besar nan digdaya, dulu selalu dikagumi anak-anak Melayu.

Saat maskapai Timah masih berjaya, jumlahnya puluhan. Mereka mengepung kampung, menderu siang dan malam, mengorek isi bumi untuk maraup timah. Kini, satu-satunya ang tertinggal, tempatku melamunkan nasib ini, teronggok seperti fosil dinosaurus.
Kapal keruk pernah menjadi pendendang irama hidup kami. Ia adalah bagian penting dalam budaya kami. Karena semua lelaki angkatan kerja bekerja bergantian selama 24 jam. Takkan pernah kulupa, setiap pukul dua pagi, truk pengangkut buruh kapal keruk menjemput ayahku. Kudengar suara klakson. Ayah keluar rumah di pagi buta itu sambil menenteng rantang bekal makanan dari Ibu.

Jika melihatku terbangun, Ayah kembali untuk mengusap rambutku dan tersenyum. Dari dalam rumah kudengar Ayah mengucapkan salam pada kawan-kawan kerjanya yang telah berdesakan di dalam bak truk. Kawan-kawan kerjanya itu adalah ayah-ayah dari kawan-kawanku. Lalu kudengar gemerincing besi saling beradu, kemudian truk menggerung meninggalkan rumah.

Sering aku minta dibangunkan jika Ayah berangkat kerja pukul dua pagi itu. Karena aku ingin melihat Ayah dengan seragam mekaniknya yang penuh wibawa, yang ada taspen di sakunya, yang berbau sangat lelaki.

Ayah melangkah tangkas sambil menyandang ransel berisi tang, ragum, dan sekelurga kunci inggris. Kunci-kunci baja putuh itu jika dibariskan akan membentuk satu segitiga yang sangat hebat. Kubayangkan, tugas-tugas yang berat diemban oleh bapak kunci yang paling besar, dan tugas-tugas sepele adalah bagian anak-anaknya.
Aku senang melihat Ayah melompat ke dalam bak truk. Dia, pria yang gagah itu, penguasa sembilan kunci Inggris anak-beranak itu, adalah ayahku, begitu kata hatiku. Lalu aku tidur lagi, sambil tersenyum.

Berlangsung terus seperti itu, hari demi hari, selama bertahun-tahun, tak berubah. Setelah dewasa, jika secara tak sengaja aku terbangun pukul dua pagi, di negeri mana pun aku berada, seakan kudengar suara klakson mobil truk, lalu menguar suara orang-orang mengucapkan salam dan gemerincing besi saling beradu. Aku termangu. Kerinduan pada Ayah menjadi tak tertanggungkan. Tanpa kusadari, air mataku mengalir, mengalir sendiri, tak mampu kutahan-tahan.
READ MORE - Kemarau

Bahasa Inggris

Bahasa Inggris
SELAIN menggabungkan nama ayah dan nama anak tertua, orang melayu udik biasa pula menamai anak dengan bunyi senada seirama. Jika nama anak tertua Murad, misalnya, tujuh orang adik di bawahnya adalah Munzir, Munaf, Munir, Muntaha, Munawaroh, Mun’im, dan Munmun. Seringkali nama-nama itu tertukar. Dalam keadaan panik, umpama, salah satu anak menyiramkan minyak tanah pada kambing yang akan dikurbankan pada hari Raya Idul Adha, dalam rangka membuat obor—ini berdasarkan pengalaman pribadiku—ibnuya hanya berteriak-teriak histeris, “Mun! Mun! Mun!” sambil berpikir keras mengingat-ingat Mun yang mana yang berkelakuan macam setan itu.
Ajaibnya budaya. Selidik punya selidik, ternyata huruf awal nama anak sering tidak ada hubungannnya dengan huruf awal nama ayah-ibunya. Artinya, huruf awal itu dipilih suka-suka saja sesuai suasana hati. Maka dapat disimpulkan bahwa kekacauan itu disengaja dan merupakan bagian dari seni punya anak banyak, dan kasih sayang yang terperikan pada anak yang berderet-deret macam pagar itu.
Lalu, ada pula kebiasaan yang unik. Anak muda sering dipanggil Boi. Ini tak ada hubungannya dengan Boy dalam bahasa Inggris sebab anak perempuan pun sering dipanggil Boi. Namun, Enong adalah kisah yang berbeda. Enong adalah panggilan sayang untuk anak perempuan. Begitulah cara Zamzami memanggil anak tertuanya.
**********************
Enong duduk di kelas enam SD dan merupakan siswa yang cerdas. Ia selalu menjadi juara kelas. Pelajarannya faforitnya bahasa Inggris dan cita-citanya ingin menjadi guru seperti Bu Nizam.
Ibu Nizam adalah guru senior. Ia berasal dari Pematang Siantar. Puluhan tahun lampau ia ditempatkan pemerintah untuk mengajara di kampung kami. Ia sangat dihormati karena keberaniannya merantau demikian jauh dalam usia sangat muda, demi pendidikan. Dialah guru bahasa Inggris pertama di kampung kami.
Zamzami amat bangga akan cita-cita Enong. Ia ingin Enong mendapat kesempatan pendidikan setingi-tingginya. Sekolah Enong adalah nomor satu baginya. Setelah apa pun bekerja, ia tak pernah lalai menjemput Enong. Sering Zamzami bercerita pada Sirun.
“Run, dapatkah kau bayangkan, anakku mau menjadi guru sebuah basaha dari Barat?”
Sirun takjub.
“Kita-kita ini, Run, bahasa Indonesia pun tak lancar.”
“Bahasa dari Barat? Bukan main, Bang, bukan main.”
Kemungkinan menjadi guru dari sebuah bahasa yang asing dari Barat itu pula yang membuat Zamzami tak pernah mengeluh meski harus bekerja membanting tulang seperti kuda beban. Ia berusaha memenuhi apa pun yang diperlukan Enong untuk cita-cita hebatnya itu.
Zamzami sering mendengar Enong berbicara soal kamus bahasa Inggris. Dari nada suaranya, ia tahu putrinya ingin sekali punya kamus. Sebaliknya, meskipun masih kecil, Enong paham bahwa ayahnya miskin. Ia tak pernah minta dibelikan kamus, tak pernah minta dibelikan apa pun.
Zamzami sendiri pernah melihat kamus yang hebat di pedagang buku bekas kaki lima di Tanjung Pandan. Kamus itu adalah Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar Kata. Sejak melihat kamus itu dan mengenang keinginan putrinya, membeli kamus telah menjadi impian Zamzami dari hari ke hari. Ia bekerja lebih keras di ladang tambang dan menambah penghasilan dengan berjualan air nira setiap ada pertunjukan orkes Melayu. Hari Sabtu ia ke laut mencari kerang untuk dijual di pasar ikan. Hari Minggu ia berjualan tebu yang ditusukkan dengan lidi. Setelah berbulan-bulan seperti itu dan memfokuskan pikirannya hanya untuk membeli kamus bahasa Inggris untuk anaknya, akhirnya Zamzami punya uang lebih. Dengan gembira ia berkata,
“Mulai sekarang, jangan kau cemas lagi, Nong, Ayah akan belikan kamus untukmu. Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar Kata!”
Enong terbelalak
“Stu miliar?” napasnya tertahan.
“Iya, Nong, tak kurang dari satu miliar kata!”
Wajah Enong pucat. Ia terpana karena akan segera punya kamus dan karena kamus itu berisi satu miliar kata! Lalu, ia saling menyentuhkan ujung-ujung jarinya dan mulutnya komat-kamit menghitung jumlah nol dalam angka satu miliar.
“Satu miliar itu banyak sekali, Nong. Ayah pun tak tahu berapa jumlah nolnya. Tujuh belas barangkali.”
Mulut Enong masih komat-kamit dan jarinya masih sibuk menghitung jumlah nol dalam angka satu miliar.

Esoknya, mata Enong merah. Zamzami tahu, anaknya pasti tak bisa tidur karena terus menerus membayangkan kamus itu. Maka, tanpa ambil tempo, ia segera mengajak Sirun ke Tanjung Pandan. Mereka bersepeda hampir seratus kilometer.
Senangnya Zamzami mendapati kamus yang dilihatnya dulu masih ada di pedagang kaki lima buku bekas itu. Terbayang olehnya sinar mata anaknya nanti jika menerima kamus itu. Ia menimang-nimangnya terkagum-kagum pada tulisan di sampulnya Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar Kata:1.000.000.000 Kata. Diikutinya pelan-pelan angka nol itu. Baru ia tahu bahwa jumlah nol dalam satu miliar ada sembilan.
Zamzami sempat heran melihat kamus itu ternyata ringan dan tipis saja. Padahal, isinya satu miliar kata. Jiawanya yang lugu berkata, mungkin yang dimaksud pengarang buku itu bukan kata, tapi huruf. Pengarangnya mungkin salah tulis, seharusnya satu miliar huruf. Tapi, andai kata jumlah huruf pun, masih tetaplah buku itu terlalu tipis. Sekali lagi, hatinya yang putih, tetap saja membela penyusun kamus itu, Drs. Ir. Siapa, M.B.A, B.A., yang sama sekali tak dikenalnya.
“Kurasa kamus ini macam Kho Ping Hoo, Run,” katanya pada Sirun.
“Ini pasti baru jilid satu. Nanti kalau sudah lengkap empat delapan jilid, barulah jumlah katanya tergapai satu miliar. Macam mana pendapatmu, Run?”
“Kemungkinan besar, Bang.”
Jika menyangkut buku, Sirun serupa tikus mendengar pembicaraan ayam. Gelap. Sola begitu, ia akan percaya pada apa pun yang dikatakan oleh siapa pun, sebab ia tak pernah sekolah.
“Tak apalah, berarti aku masih harus menabung. Bukan begitu, Run?”
“Kemungkinan besar, Bang.”
Zamzami malah senang karena akan memiliki 48 jilid kamus. Baginya, kamus-kamus itu dapat menjadi koleksi yang berharga. Mungkin pula ia berpikir, semakin banyak ia dapat membelikan anaknya kamus, semakin anaknya senang. Ia juga kagum pada orang yang mampu membuat kamus. Ia menatap deretan gelar sarjana Drs. Siapa yang menyusun kamus itu sambil membayangkan anaknya menjadi guru bahasa Inggris.
“Enong akan menjadi guru bahasa Inggris yang baik dengan kamus ini, Run.”
Sirun mengangguk-angguk dengan khidmat.
“Kemungkinan besar, Bang.”
Pedagang buku bekas kaki lima tertarik melihat semangat Zamzami, yang tampak seperti baru menemukan benda ajaib. Ia bertanya, mengapa begitu riang?
“Buku ini untuk anakku, Pak Cik.”
“Berarti hadiah untuk anak. Biar lebih berkesan, orang di kota biasa melihat sesuatu di halaman muka. Tanda tangan, ucapan salam, ucapana selamat ulang tahun, atau apa saja.”
“Begitukah?”
“Anak perempuankah?”
“Iya, Pak Cik, sudah kelas enam.”
“Elok kalau disampuli dengan kertas kado yang cantik. Anak perempuan akan senang hatinya.”
Mata Zamzami berbinar-binar. Ia pergi sebentar, lalu kembali membawa kerta kado dan menyampulinya di depan pedagang kaki lima itu. Kemudian, ia minta diajari cara menulis ucapan di halaman muka itu. Setelah berunding cukup lama, ia menemukan kalimat yang ingin ditulisnya. Ia mengukirnya dengan pena, kata demi kata.
Sementara itu, enong hilir mudik di beranda menunggu ayahnya kembali dari Tanjung Pandan. Seharian ia tak enak makan karena pikirannya tak dapat lepas dari Kamus Bahasa inggris Satu Miliar Kata itu. Ketika ayahnya tiba, ia menyongsong di pekarangan. Ia melonjak-lonjak senang menerima kamus itu.
“Ini baru jilid satu, Nong. Nanti kalau ada sambungannya, Ayah belikan lagi,” kata ayahnya sambil menyeka keringat.
Zamzami pun gembira karena pendapat pedagang buku bekas kaki lima itu semuanya benar. Eong berulangkali memuji indahnya sampul kamus itu. Zamzami mengatakan bahwa ia sendiri yang memilih kertas sampul itu dan ada tulisan untuk Enong di halaman muka. Enong membukanya dan menemukan tulisan itu. Ia membacanya.
Buku ini untuk anakku, Enong.
Kamus satu miliar kata.
Cukuplah untukmu sampai bisa menjadi guru bahasa Inggris seperti Ibu Nizam.
Kejarlah cita-citamu, jangan menyerah, semoga sukses.
Tertanda,
Ayahmu
Enong terdiam, lalu ia menangis untuk sebuah alasan yang ia tidak mengerti.
READ MORE - Bahasa Inggris

Lelaki Penyayang

Lelaki Penyayang
Syalimah gembira karena suaminya mengatakan akan memberinya hadiah kejutan. Syalimah tak tahan.
“Aih, janganlah bersenda, Pak Cik. Kita ini orang miskin. Orang miskin tak kenal kejutan.”
Mereka tersenyum.
“Kejutan- kejutan begitu, kebiasaan orang kaya. Orang macam kita, ni? Saban hari terkejut. Datanglah ke pasar kalau Pak Cik tak percaya.”
Suaminya –Zamzami—tahun benar maksud istrinya. Harga-harga selalu membuat mereka terperanjat.
“Telah lama kau minta,” kata Zamzami dengan lembut.
Syalimah kian ingin tahu. Waktu mengantar Zamzami ke pekarangan dan menyampirkan bungkus rantang bekal makanan di setang sepeda, ia bertanya lagi, Zamzami tetap tak menjawab.
“Sudah bertahun-tahun kau inginkan, baru bisa kubelikan sekarang, maaf.”
Zamzami meninggalkan pekarangan, namun ia kembali. Ia mengatakan ingin mengajak Syalimah melihat-lihat bendungan.
“Apa Yahnong takkan bekerja?”
Yahnong, singkatan untuk ayah bagi anak tertua mereka, Enong. Kebiasaan orang Melayu menyatakan sayang pada anak tertua dengan menggabungkan nama ayah dan nama anak tertua itu.
Bendungan itu tak jauh dari rumah mereka. Dulu dipakai Belanda untuk membendung anak-anak Sungai Linggang agar kapal keruk dapat beroperasi. Sampai di sana, mereka hanya diam memandangi permukaan danau yang tenang. Tak bicara, seperti mereka dulu sering bertemu di situ.
Mereka pulang. Zamzami berangkat kerja dan Syalimah tak memikirkan kejutan itu. Ia bahkan lupa pernah meminta apa dari suaminya. Delapan belas tahun mereka telah berumah tangga, baru kali ini suaminya akan memberi kejutan. Semua hal, dalam keluarga mereka yang sederhana, gampang diduga. Penghasilan beberapa ribu rupiah mendulang timah, cukup untuk membeli beras beberapa kilogram, untuk menyambung hidup beberapa hari. Semuanya dipahami Syalimah di luar kepala. Tak ada rahasia, tak ada yang tak biasa, dan tak ada harapan yang muluk-muluk. Tahu-tahu, macam bakung berbunga di musim kemarau, suaminya ingin memberi kejutan.
Syalimah dan Zamzami berjumpa waktu pengajian ketika mereka masih remaja. Zamzami yang pemalu, begitu pula Syalimah, menyimpan rasa suka diam-diam. Zamzami tak pernah berani mengatakan maksud hatinya, dan Syalimah takut menempatkan diri pada satu keadaan sehingga lelaki lugu itu dapat mendekatinya.
Namun, lirikan curi-curi di tengah keramaian itu kian hari kian tak tertahankan. Zamzami mengurangi kecapatannya menambah juz mengaji, padahal ia membaca Alquran lebih baik dari ia membaca huruf Latin. Tujuannya agar makin lama dapat berada di dalam kelas yang sama dengan Syalimah. Berulangkali ditanyakannya pada ustaz hal-hal yang dia sudah tahu. Dibentak bebal, ia tersenyum sambil menunduk. Adapun Syalimah, berpura-pura bodoh membaca tajwid, dimarahi ustaz, biarlah. Maksudnya serupa dengan maksud Zamzami. Semua taktik yang merugikan diri sendiri itu, jika boleh disebut dengan satu kata, itulah cinta.
Sungguh indah, atas saran ustaz—lantaran mencium gelagat yang tidak beres antara dua murid mengaji yang tak tahu cara mengungkap cinta itu—mereka malah dijodohkan.
Sejak mengenal Zamzami, Syalimah tahu ia akan bahagia hidup bersama lelaki itu, meski, ia juga mahfum, ada satu hal yang selalu ia hindari: minta dibelikan apapu pun. Sebab lelaki baik hati yang dicintainya itu hanyalah lelaki miskin yang berasal dari keluarga pendulang timah. Sebaliknya, Syalimah tak perlu dibelikan harta benda. Ia telah punya Zamzami dan itu lebih dari cukup. Zamzami adalah harta bendanya yang paling berharga, melebihi segalanya. Lelaki itu amat penyayang pada keluarga sehingga Syalimah tak memerlukan apa pun lagi di dunia ini.
Menjelang tengah hari, sebuah mobil pikap berhenti di depan rumah. Dua lelaki mengangkat benda yang dibungkus dengan terpal dari bak mobil itu dan membawanya masuk ke dalam rumah. Syalimah bertanya-tanya. Mereka tak mau menjawab.
“Malam ini ada pasar malam di Manggar, Mak Cik,” kata salah satu lelaki itu sambil tersenyum.
Syalimah memandangi benda itu dengan gugup, tapi gembira. Pasti benda itu yang dimaksud suaminya dengan kejutan. Rupanya sungguh luar biasa pengaruh sebuah kejutan. Sekarang ia paham mengapa orang-orang kaya menyukai kejutan. Kucing-kucingnya yang lucu melingkari benda itu, menggodanya untuk mendekat. Syalimah melangkah maju, namun di tengah jalan, ia ragu. Ia kembali ke ambang pintu.
Syalimah menertawakan kelakuannya sendiri karena keranjingan menikmati sensasi sebuah kejutan. Lalu, ia berpikir, kejutan itu tak sanggup ia atasi dan terlalu indah untuk ia nikmati sendiri. Ia akan menunggu Enong, putri tertuanya itu, pulang dari sekolah. Mereka akan menikmati kejutan itu berdua. Tentu akan sangat menyenangkan.
Namun, Syalimah tak tahan untuk segera tahu apa yang dibelikan suaminya untuknya, sedangkan Enong baru akan pulang sore nanti. Sesekali ia melongok ke arah benda yang meisterius itu. Ia memberanikan diri dan melangkah pelan mendekatinya. Di depan benda itu jantungnya berdebar-debar. Ia memejamkan mata dan menarik terpal. Ia membuka matanya dan terkejut tak kepalang melihat sesuatu berkilauan: sepeda Sim King made in RRC!
Syalimah terhenyak. Ia tak menyangka sepeda itu dihadiahkan Zamzami untuknya sebagai kejutan. Bukan karena sepeda itu akan menjadi benda paling mahal di rumah mereka, melainkan karena ia memintanya hampir empat tahun silam. Itu pun sesungguhnya bukan meminta. Waktu mengandung anak bungsunya, ia berkisah pada Zamzami, betapa dulu ia bahagia sering dibonceng almarhum ayahnya naik sepeda ke pasar malam, dan di sana dibelikan balon gas.
“Kalau anak ini lahir,” kata Syalimah bercanda. “Sepeda kita tak cukup lagi untuk membonceng anak-anak ke pasar malam.” Karena anak mereka akan menjadi empat, sedangkan mereka hanya punya dua sepeda reyot.
Syalimah tak dapat menahan air matanya. Ia terharu mengenang suaminya telah menyimpan percakapan itu selama bertahun-tahun dan memegangnya sebagai sebuah permintaan. Betapa baik hati lelaki itu. Lalu, Syalimah terisak begitu ingat bahwa hari itu Sabtu dan malam nanti ada pasar malam di Manggar. Kini ia paham maksud lelaki yang mengantarkan sepeda itu. Suaminya pasti merencanakan berangkat sekeluarga naik sepeda ke pasar malam, seperti dulu ayah Syalimah selalu memboncengnya naik sepeda ke pasar malam.
Selanjutnya, Syalimah hilir mudik menghitung bagaimana membagi ank-anaknya pada tiga sepeda. Sang ayah, satu-satunya lelaki dalam keluarga, berarti yang paling kuat, akan membonceng keranjang pempang dan di dalamnya akan dimasukkan si nomor dua, gadis kecil yang bongsor itu.
Si nomor tiga, yang cerewet, akan dibonceng oleh kakaknya, Enong, dan si bungsu akan dibonceng Ibu, naik sepeda baru Sim King made in RRC, hadiah kejutan itu. Tak terperikan bahagianya perjalanan ke pasar malam itu nanti. Meski sudah menetapkan pengaturan pembagian sepeda, Syalimah berulang kali menghitungnya di dalam hati, karena perhitungan itu menimbulkan perasaan indah dalam hatinya.
Kemudian, Syalimah tak sabar menunggu suaminya pulang. Ia berdiri di ambang jendela, tak lepas memandangi langit yang mendung dan ujung jalan yang kosong. Ia ingin segera melihat suaminya berbelok di pertigaan di ujung jalan sana, pulang menuju rumah. Ia akan menyongsongnya di pekarangan dan mengatakan betapa indahnya sebuah kejutan. Ia mau mengatakan pula bahwa mulai saat itu mereka harus lebih sering memberi kejutan karena kejutan ternyata indah.
Syalimah gembira melihat seseorang bersepeda dengan cepat. Jika orang itu--Sirun–telah pulang, pasti suaminya segera pula pulang. Namun, Sirun berbelok menuju rumah Syalimah dengan tergesa-gesa. Buruh kasar itu langsung masuk dan dengan gemetar mengatakan telah terjadi kecelakaan. Zamzami tertimbun tanah. Syalimah terpaku di tempatnya berdiri. Napasnya tercekat. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Sirun memintanya menitipkan anak-anaknya kepada tetangga dan mengajaknya ikut ke tambang.
Sampai di sana, Syalimah mendengar orang berteriak-teriak panik dan menggunakan alat apa saja untuk menggali tanah yang menimbun Zamzami. Para penambang yang tak punya cangkul menggali dengan tangannya, secepat-cepatnya. Syalimah berlari dan bergabung dengan mereka. Ia menggali tanah dengan tangannya sambil tersedak-sedak memanggil-manggil suaminya. Keadaan semakin sulit karena hujan turun. Tanah yang menimbun Zamzami berubah menjadi lumpur. Para penambang berebut dengan waktu. Jika terlambat, Zamzami pasti tak tertolong dan Zamzami mulai memasuki saat-saat tak terlong itu. Syalimah menggali seperti orang lupa diri sambil menangis, sampai berdarah ujung-ujung jarinya. Ia berdoa agar Zamzami tertimbun dalam keadaan tertelungkup. Penambang yang tertimbun dalam keadaan tertelantang tak pernah dapat diselamatkan. Galian semakin dalam, Zamzami belum tampak juga. Tiba-tiba Syalimah melihat sesuatu. Ia menjerit.
“Ini tangannya! Ini tanagannya!”
Orang-oarng menghambur ke arah tangan itu. Syalimah gemetar karena tangan yang menjulur itu terbuka. Suaminya telah tertimbun dalam keadaan terlentang. Para penambang cepat-cepat menarik Zamzami. Ketika berhasil ditarik, lelaki kurus itu tampak seperti tak bertulang. Tubuhnya telah patah. Pakaiannya compang-camping menyedihkan. Zamzami diam tak bergerak. Semuanya telah terlambat.
Syalimah tersedu sedan. Ia bersimpuh di samping suaminya yang telah mati. Ia mengangkat kepala suaminya ke atas pangkuannya. Kepala itu terkulai seperti mau bersandar. Syalimah membasuh wajah Zamzami dengan air hujan, lalu tampak seraut wajah yang pias dan sepasang mata yang lugu. Syalimah mendekap lelaki penyayang itu kua-kuat. Ia meratap-ratap memanggil suaminya.
READ MORE - Lelaki Penyayang