Lazada Philippines

Kursus Bahasa Inggris Kilat

Tampilkan postingan dengan label merana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label merana. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Juni 2010

“Kota Kucing Garong” Sebuah Usulan Untuk Lakap

“Kota Kucing Garong” Sebuah Usulan Untuk Lakap

Oleh

Ibnu Sa’dan

LEMBAGA Dewan Perwakilan Rakyat Kota Langsa sekarang ini sedang mendapat ujian berat. Tantangan untuk menelusuri dan membawa kembali uang yang hilang senilai Rp. 36 Milyar taruhannya bukan lagi sekedar jabatan ketua dewan. Melainkan nama baik daerah pun bakal tercemar sepanjang masa. Pasalnya, jika janji ketua dewan yang telah diucap kepada elemen sipil gagal diwujudkan, sebuah nama bakal dilekatkan sebagai julukan. Drafnya sudah dipersiapkan, tinggal menunggu pengesahan, “Kota Kucing Garong”, itulah gelar yang diusulkan.

Gelar yang cukup memalukan ini tidak lahir secara dadakan. Tetapi melalui diskusi-diskusi panjang yang dilakukan sejumlah elemen sipil di sebuah warung kopi Simpang Tiga Belok Kiri. Diskusi-diskusi ini mulai intesif dilaksanakan, setelah elemen sipil melakukan audiensi yang berujung pada janji ketua DPRK Langsa, Zulfri, ST, akan membentuk sebuah pansus, dan siap mempertaruhkan jabatan jika dalam bekerja mereka mendapat tantangan di lapangan. (Waspada, Rabu, 9/6).

Alasan nama tersebut yang bakal diusung sebagai julukan juga sudah mengalami proses pertimbangan yang cukup matang. Bahkan sudah melawati tahapan analisis yang mendalam, bahwa gelar “Kota Kucing Garong” memang sangat cocok disemat, sebab sejak terbentuknya Pemerintah Kota Langsa cukup benyak peristiwa yang berkaitan dengan keuangan yang hilang atau terbuang terjadi di sini. Selain uang tunai senilai Rp. 36 Milyar yang digarong dari kas pemerintah dan hingga sekarang belum kembali, ternyata masih banyak lagi dana-dana lain yang dicuri secara kucing-kucingan.

Modusnya berbagai rupa. Ada yang terjadi secara kasat mata, dan ada pula melalui rekayasa-rekayasa sehingga pencurian uang rakyat itu berlangsung terselubung. Pencurian yang tidak sedikit merugikan uang negara secara kasat mata itu antara lain melalui kerjasama segitiga kongkalikong antara pejabat pemerintah, anggota dewan dan pengusaha nakal. Caranya mereka ciptakan proyek-proyek mubazir bernilai milyaran rupiah setiap tahun kemudian ditinggalkan tanpa lanjutan. Contohnya, penimbunan jalan kuala, pembangunan TPI, pemindahan warga Pusong, dan pembelian sejumlah tanah dengan harga yang tidak masuk akal.

Sementara yang terselubung, tentunya sulit dihitung karena wujudnya seperti angin yang keluar dari lubang anus. Baunya cukup terasa tetapi sulit dibuktikan. Contohnya penggunaan anggaran SPPD yang tiap tahun tidak pernah bersisa. Perjalanan dinas dan studi banding selalu lancar tidak pernah terdengar ada hambatan, sementara gaji tenaga honor, jerih payah perangkat desa, dan pembayaran langganan koran selalu tertunggak berbulan-bulan.

Fakta-fakta tersebut menjadi alasan kuat untuk pembenaran, mengapa gelar “Kota Kucing Garong” layak ditabalkan. Karena jika janji Ketua DPRK Langsa kepada Ormas, OKP, mahasiswa dan pers, untuk menelusuri Rp. 36 Milyar saja uang yang hilang itu tidak mampu dilaksanakan, dapat diduga mereka memang tidak serius melaksanakan. Sama seperti usaha untuk mengambil aset dari Pemkab Aceh Timur yang dilakukan hanya sekedar basa basi saja. Karena jika aset yang banyak berupa kantor dan pendopo itu sudah dikuasai Pemko Langsa, kesempatan untuk menyewa sejumlah toko dan rumah pribadi bisa tidak ada lagi.

Diskusi para elemen sipil di warung kopi Simpang Tiga Belok Kiri ini sudah rampung dilaksanakan. Dan kesimpulannya pun sudah dibukukan. Tinggal sekarang menunggu moment yang tepat, apakah para anggota dewan Kota Langsa sudah siap menggelar rapat. Dan rapat tersebut apakah untuk menyusun strategi agar dapat membawa kembali uang rakyat yang sudah ditilap, atau untuk mensahkan sebuah qanun baru “Kota Kucing Garong” sebagai sebuah lakap.***
READ MORE - “Kota Kucing Garong” Sebuah Usulan Untuk Lakap

Minggu, 30 Mei 2010

Langsa Makin Merana

Lanngsa Makin Merana: Air, Tanah, Angin, Dan Api Bukan Itu Penyebabnya

Oleh Ibnu Sa’dan

LANGSA makin merana. Air, tanah, angin, dan api bukan itu penyebabnya, karena di sini tidak ada kerusakan yang signifikan akibat bencana. Bahkan dari dulu hingga sekarang, sepertinya alam begitu manja memperlakukan warga Langsa. Tapi kenapa Langsa tidak berkembang juga? Malah makin terpuruk dibandingkan dengan masa lalunya.

Buah khuldi dari pekarangan siapa gerangan yang telah dipetik dari pohonya, sehingga warga Langsa seperti mendapat hukuman harus menjauh dari hidup bahagia. Ibarat yatim piatu yang diterlantarkan walinya, setiap warga yang tinggal di Kota Langsa sekarang ini, dengan terpaksa harus berjuang sendiri melawati semua tantangan hidup yang mengintainya sepanjang masa. Pimpinan pemerintahan dan anggota dewan yang telah mereka pilih semuanya sibuk dengan urusan sendiri, sehingga tidak sempat memikirkan nasib rakyat.

Jalan-jalan yang rusak, jembatan yang putus, pengangguran yang makin bertambah, dan berbagai kebutuhan rumah tangga yang makin sulit dipenuhi, itu semua adalah resiko hidup yang harus ditanggung sendiri oleh warga yang sudah berani memutuskan tinggal di Langsa. Kalau ada yang mengeluh barangkali jawaban yang diperoleh dari orang-orang yang seharusnya memberi solusi; “Siapa suruh tinggal di Langsa?”

Maka itu tidak heran, jika di Langsa tidak terdengar adanya gejolak yang berarti dalam masyarakat. Semua warga sudah dapat bersikap arif dan bijakasana, tidak ada yang melakukan protes, tidak ada demontrasi, kecuali hanya bicara saja antar mereka sendiri di warung-warung kopi, di tempat-tempat kenduri, dan dimana saja mereka sering bertemu termasuk saat menunggu jenazah dimakamkan bila ada orang yang mati.

Pokok pembicaraan pada tempat-tempat yang tidak pernah didengar pejabat pemerintah dan anggota dewan itu, selalu mengusung satu tema yang paling seru, yaitu mengumpat pimpinan daerah yang dianggap sudah pekak, tuli, dan bisu. Nuansa frustasi terdengar di mana-mana. Mereka mengeluh dan menyatakan penyesalan, telah memilih pimpinan yang tidak sesuai dengan harapan.

Berbagai fakta bukti pimpinan daerah tidak peduli lagi terhadap rakyat pun meluncur dari mulut-mulut hadirin pada setiap ada pertemuan informal dalam masyarakat. Mulai dari kondisi pasar yang semraut hingga sulitnya membayangkan wajah Walikot Drs. Zulkiflin Zainon, MM karena sudah lama tidak dilihatnya menjadi bahan pembicaraan antar mereka.

Pasar ikan Langsa yang berada di pusat kota dan sudah tiga tahun roboh, hingga sekarang para pedagang masih menempati tenda-tenda darurat yang dibuat sendiri dari bahan kayu seadanya sebagai tiang dan plastik sebagai atap. Demikian juga pasa sayur, centang perenang tidak karuan. Mungkin terlalu berlebihan jika dikatakan pasar yang paling kumuh, tapi tidak salah jika disebut sebagai pasar yang dilanda gerhana matahari sepanjang tahun.

Demkkianlah pembicaraan dalam masyarakat belakangan ini, bukan karena air, tanah, angin , dan api penyebabnya sehingga Kota Langsa makin merana. Melainkan karena ada pengkhianatan dari pimpinan yang dinilai sedang mabuk dengan kekuasaan, asyik jalan-jalan, suka berfoya-foya, dan telah lupa kepada janji-janjinya. Adakah yang mendengar keluahan warga tersebut? Kita berharap semoga kesadaran tidak datang terlambat!
READ MORE - Langsa Makin Merana